
"Keluar!" titah Zeon dengan suara yang lebih tinggi.
Syeran tak punya cara lagi untuk melarikan diri, karena sadar pintu itu tidak akan pernah bisa dia buka. Jika Syeran terus menghentikan waktu maka malam ini pun tidak akan pernah berlalu.
jadi dengan sangat terpaksa akhirnya dia berdiri dan menampakkan diri.
"Kemari."
"Tidak mau! meskipun aku tidak bisa keluar dari dalam kamar ini tapi aku tidak akan membiarkan semuanya berjalan dengan mudah!" balas Syeran, dia sampai membentak ketika mengucapkan kalimat itu. Syeran sedang coba menyembunyikan gugup dan takut yang saat ini dia rasakan.
Saat tuan Zeon berjalan mendekat ke arahnya Syeran pilih untuk segera berlari.
"Berhenti!"
"Tidak mau!" balas Syeran, bahkan dia berlari dengan semakin cepat. Mengitari sofa, berlari di atas ranjang.
Syeran jadi makin takut ketika melihat wajah sang suami, tuan Zeon nampak seperti pria hidung belang yang sedang mengejarnya.
Di saat Syeran nyaris tertangkap, Syeran langsung menghentikan waktu seperti seseorang yang sedang melakukan kecurangan. Lalu melanjutkan kembali waktu itu ketika dia sudah berada di tempat yang lebih jauh.
Zeon mengeram frustasi, Jika seperti ini terus rasanya sampai pagi dia tidak akan bisa mendapatkan wanita itu.
Pada akhirnya Zeonlah yang berhenti lebih dulu, lengkap dengan nafasnya yang sudah terengah-engah.
Syeran juga sama, dia berdiri di ujung sana dan nafasnya putus-putus. Lelah sekali.
__ADS_1
"Kemari," kata Zeon sekali lagi.
"Tapi hapus surat kontrak itu!" kukuh Syeran.
Zeon tidak punya pilihan lain selain menganggukkan kepalanya, menyetujui keinginan gadis nakal tersebut.
"Benar? tidak bohong?!"
"Iya."
"Kita akan tidur bersama terus? di kamar ini?"
"Iya," balas Zeon asal. Saat ini dia memang mengiyakan semua keinginan Syeran, namun percayalah sebenarnya hati dia tidak tergerak sedikitpun. Apa yang Zeon lakukan saat ini hanya berdasarkan pemikirannya yang waras.
Namun seperti itu saja Syeran sudah luluh, dia benar-benar mempercayai Semua ucapan pria itu.
Jadi saat kali ini tuan Zeon berjalan mendekat ke arahnya, Syeran tidak kabur. Dia diam sampai akhirnya tubuhnya di dekap, di gendong ala bridal dan dibawa ke atas ranjang.
Akhirnya Syeran berbaring di sana.
Menutup mata saat sang suami mulai melepaskan baju, dia tak sanggup melihat tubuh polos suaminya itu secara langsung.
Kedua pipi Syeran sudah merah merona.
Dia segera mencengkeram sprei saat tuan Zeon mulai melepaskan bajunya, menciumi lehernya.
__ADS_1
Dan merintih kecil saat salah satu daddanya di sesap.
Bagaimana Syeran tak menyerahkan semua hatinya, saat tubuhnya pun telah dikuasai oleh pria ini. Pria yang sejatinya adalah sang suami.
Karena itulah besar harapan Syeran mereka bisa saling mencintai, selamanya.
"Pelan-pelan," kata Syeran dengan kedua mata yang tertutup. Tapi Zeon justru menyentaknya dengan sangat kuat.
Syeran yang kesal menghentikan waktu, lalu bersusah payah melepaskan penyatuan itu.
"Waktu berjalan," ucap Syeran, dia kini sudah tertidur miring di bahwa kungkungan sang suami.
Dan Zeon yang merasa posisinya berubah langsung mengeram kesal. Tadi mereka sudah menyatu, lalu sekarang ini apa namanya.
"Aku bilang kan pelan-pelan," kata Syeran, suaranya pelan dan mengeluh.
Zeon ingin sekali berteriak frustasi dan memaki Syeran, namun sesuatu yang menegang di bawah sana tak bisa diajak kompromi. Dia juga butuh pelampiiasan.
Jadi akhirnya dia mengalah.
"Aku akan melakukannya pelan-pelan," kata Zeon.
Syeran menurut setelah mendengar ucapan itu, dan kali ini Zeon benar-benar memperlakukannya dengan lembut.
Ehm, lenguh Syeran.
__ADS_1