
"Bu-bukan seperti itu, suamiku," kata Syeran dengan gugup, susah payah dia menelan ludahnya sendiri. Kini mulai paham jika suaminya itu salah paham. Apa yang dia inginkan bukanlah tentang tuan Erland, melainkan hanya anak-anaknya.
Syeran yang takut akan kemarahan sang suami akhirnya bangun dari tidur, tiba-tiba mendekat dan memeluk tubuh suaminya secara perlahan. "Kamu salah paham," kata Syeran.
Sementara Zeon sudah melenggangkan kedua tangannya di pinggang, nafasnya menderu dengan jelas tanda amarah, tapi mesti begitu dia tidak menolak pelukan Syeran.
"Salah paham apa?" tuntut Zeon lagi.
"Ini bukan tentang tuan Erland, tapi ini tentang anak-anaknya," jelas Syeran, coba untuk jujur. terlebih selama ini pun dia tidak pandai berbohong.
"Anak-anaknya? kenapa dengan anak pria itu?" balas Zeon lagi.
Syeran mencebik, bingung bagaimana cara menjelaskannya. "Aku akan menjelaskannya, tapi Tuan janji dulu. Jangan menganggap ku gila, jangan menertawakan aku," tuntut Syeran.
Zeon mengangguk.
Syeran lantas perlahan melepaskan pelukan itu, dia ceritakan semuanya sejak awal, tentang dia yang hidup di tahun 1523, tentang Raja Lorry, tentang 3 anaknya dan tentang dia yang bunnuh diri, lalu bertransmigrasi ke tubuh Syeran. lalu memiliki kekuatan untuk bisa menghentikan waktu.
Mendengar semua cerita itu, Zeon secuil pun tidak percaya. Malah terkesan Syeran mengada-ada, mencari alasan tak masuk akal hanya demi Erland.
"Cukup," putus Zeon, sebegitunya Syeran demi bertemu Erland, sampai membual cerita tak masuk akal.
__ADS_1
"Tuan percaya padaku?" tanya Syeran kemudian.
"Tidak," jawab pria itu singkat. "Baiklah jika kamu ingin membuat surat kontrak itu lagi, aku akan menurutinya, sebagai gantinya jangan menuntut cinta padaku, dan jaga kandungan itu baik-baik. Aku hanya menginginkan banyak keturunan dari mu." putus Zeon.
Entah kenapa dia merasa ada harga dirinya yang terluka atas cerita bohong Syeran tersebut. Syeran yang jadi banyak membual demi Erland.
Begitulah memang para wanita, tak ada satupun yang bisa dipercaya.
Zeon kemudian pergi dari sana dan memanggil Hanzo. Syeran tak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh sang suami pada asisten pribadinya itu, tapi kemudian Zeon justru keluar dari kamar ini dan Hanzo yang menghampirinya di dalam kamar.
Merasa tak nyaman, Syeran langsung turun dari ranjang itu dan menghadap pula pada sang asisten.
"Apa kata suami ku?" tanya Syeran langsung.
Syeran seketika tersenyum. "Tuan Zeon hanya butuh anak, saat anda hamil seperti ini anda harus menjaga baik-baik kandungan itu, selebihnya Tuan Zeon tidak peduli dengan apa yang anda lakukan," sambung Hanzo lagi.
Syeran mengangguk patuh, dia memang akan sangat melindunginya anak ini. Karena anak ibu bukanlah anak Zeon sendiri, tapi anaknya juga.
Surat kontrak yang sesuai dengan keinginan Syeran akhirnya sudah ditandatangani. Dia mendapatkan kebebasan, meski akan selamanya bersama dengan tuan Zeon.
Diena tetap menjadi asisten pribadi Syeran, tapi Diena tak punya hak untuk membantah ataupun menyanggah ucapan Syeran. Diena harus benar-benar patuh dengannya.
__ADS_1
Sore hari Syeran coba menelpon keluarga Davidson dengan telepon yang ada di mansion. Saat Syeran menelpon, ada pula Diena di sampingnya. Tak butuh waktu lama telepon Syeran itu terhubung, seorang pelayan menjawabnya.
"Halo, ini adalah kediaman keluarga Davidson. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.
"Halo, aku adalah Syeran, istri tuan Zeon. Bisakah aku bicara dengan Betrand?"
"Maaf Nyonya, kenapa anda ingin bicara dengan tuan Muda?"
"Katakan saja padanya bahwa aku menelpon, kemarin kami sudah berjanji untuk saling memberi kabar," terang Syeran apa adanya.
"Baik Nyonya, tunggu sebentar."
Pelayan itu lantas pergi untuk memanggil tuan Muda, saat berita tentang Nyonya Syeran yang menelpon terdengar, yang berlari menghampiri ganggang telepon itu bukan hanya Betrand saja, tapi juga Serafina dan Albert.
"Tante Syeran?" ucap Betrand dengan kedua mata berbinar. Dua adiknya pun ikut menguping pembicaraan itu.
"Iya Betrand, ini Tante."
Pembicaraan hangat terjadi diantara mereka, sampai akhirnya membuat janji temu esok akhir pekan. Syeran tak ingin bertemu di rumah tuan Erland, jadi mereka akan bertemu di perpustakaan kota. Tempat yang dirasa menyenangkan dibanding cafe atau restoran. Mereka bisa membaca buku bersama dan menghabiskan waktu bersama.
Syeran tersenyum lebar setelah panggilan terlepon itu terputus.
__ADS_1
Tak sadar jika sang suami terus memperhatikan di salah satu sudut.
"Kenapa aku harus peduli," gumam Zeon, lalu coba acuh dan pergi dari sana, mendatangi Dom.