The Magical My Wife

The Magical My Wife
TMMW Bab 32 - Bersifat Sementara


__ADS_3

"Mulai sekarang hormati nyonya Syeran seperti kalian menghormati tuan Zeon," ucap Hanzo setelah tuan Zeon dan nyonya Syeran pergi dari sana.


Dan semua orang menjawab patuh ucapannya tersebut, termasuk Diena.


Meski masih tak percaya tapi Diena tetap mengikuti arus ini, namun di dalam sudut hatinya dia juga mulai menyusun rencana. Mencari tentang kebenaran yang tersembunyi, sebab tak mungkin tuan Zeon berubah dalam sekejab.


Pasti ada sesuatu.


"Kalian boleh pergi, kembali kerjakan tugas masing-masing," titah Hanzo pula.


Semua pelayan lantas menundukkan kepala memberikan hormat lalu pergi dari sana.


Hanzo kemudian menyusul tuan dan Nyonyanya menuju taman di samping mansion ini, taman yang jadi kandang Dom. Jam seperti ini memang waktunya Anjing itu untuk makan.


Dan meski datang ke sana, tapi Hanzo tidak menghampiri keduanya. Dia hanya berdiri di posisi aman. Memperhatikan dan berjaga andai tuannya membutuhkan bantuan.


Tapi baru sebentar Hanzo di sana, tiba-tiba ponselnya di saku jas bergetar, ada panggilan masuk dari orang kantor.


Jadi Hanzo menyingkir lagi untuk menjawab telepon tersebut.


Di kandang milik Dom, Anjing itu terdiam karena sedang sibuk dengan makanannya. Sementara Syeran tetap memeluk lengan sang suami meski saat ini mereka berjongkok mensejajarkan tubuh dengan Dom.


"Kenapa Dom sepertinya sangat membenci ku?" tanya Syeran dengan suara lirih, terdengar suaranya bicara saja Dom langsung mendengus dengan kasar dan menatap Syeran tajam.


"Tuh kan, kenapa dia seperti itu padaku?" tanya Syeran tak terima, padahal dia pun berharap memiliki hubungan yang baik dengan anjing itu.


"Karena kamu selalu memeluk ku seperti ini, jadi dia tidak suka." jelas Zeon asal, meski sebenarnya dia sudah sangat malas menanggapi semua omongan Syeran.

__ADS_1


Selama ini Zeon lebih banyak diam, dan gara-gara wanita ini mulutnya lebih banyak bicara.


"Kenapa seperti itu? apa dia tidak tahu bahwa aku adalah istrimu?" tanya Syeran, malah semakin menuntut.


"Diamlah, Dom sedang makan, jangan terlalu banyak bicara," balas Zeon, satu tangannya pun mengelus kepala Dom dengan lembut.


Dan disayang seperti itu Dom senang sekali.


Memang tak akan ada yang bisa menggantikan posisinya di samping Tuan Zeon.


Dia telah menempati tahta tertinggi di dalam hati sang Tuan.


"Harusnya mulai jelaskan pada Dom, bahwa aku adalah istri tuan Zeon. tidak boleh membenciku," lirih Syeran.


"Diam," balas Zeon, dia lama-lama pun geram sendiri dengan semua permintaan Syeran.


Waktu berhenti. Batin Syeran.


Mana bisa dia mendapat penolakan seperti ini, membuat hatinya sakit. Itulah kenapa dia butuh menghentikan waktu untuk menenangkan hatinya sendiri.


meluapkan semua rasa mengganjal di dalam hati.


Syeran bisa berbuat semaunya di saat waktu berhenti seperti ini.


"Jahat!" kesal Syeran, dia memukul lengan tuan Zeon cukup kuat.


Syeran tahu Zeon menuruti semua ucapannya karena terpaksa, tapi meski begitu dia pun coba benar-benar untuk bahagia.

__ADS_1


Tapi nyatanya yang namanya sandiwara tetap tak akan memberikan kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan itu pun hanya bersifat sementara.


Syeran juga memukul Dom cukup kuat.


Benci sekali dengan anjing itu.


Dengan kecewa yang terasa jelas di dalam hatinya, Syeran pergi dari sana.


Tidak sembunyi dimana pun, tapi Syeran keluar dari mansion tersebut.


Terus berjalan sampai menuju ke gerbang. Di sana ada dua penjaga yang menjadi patung.


Syeran menekan tombol untuk membuka gerbang tinggi tersebut. Lalu menekannya lagi agar tertutup, dan saat itu dia berlari agar bisa keluar dari arena mansion sang suami.


"Gerbang itu masih berfungsi," kata Syeran dengan nafas terengah. Bingung juga karena beberapa benda tetap aktif.


Kali ini Syeran tidak benar-benar kabur, dia hanya ingin pergi dan berharap tuan Zeon akan mengejarnya.


Keluar dari gerbang itu, bukan jalan raya yang Syeran lihat. Namun jalan sepi dengan kiri dan kanan yang seperti Hutan.


Syeran tidak tahu ini dimana, tidak tau mau ke kanan atau ke kiri.


"Kanan saja lah," gumamnya.


Dia berjalan beberapa saat, sebelum akhirnya berucap ...


"Waktu berjalan."

__ADS_1


__ADS_2