The Magical My Wife

The Magical My Wife
TMMW Bab 35 - Bayi Besar


__ADS_3

Puas meneguk manisnya Syeran, akhirnya Zeon berhenti. Wanitanya pun telah jatuh terkulai lemas di atas daddanya.


Syeran nampak sangat lelah, namun gadis itu tak kunjung memejamkan mata.


Zeon lantas membelai wajahnya lembut, menutupi tubuh polos Syeran menggunakan kaosnya yang berjarak paling dekat diantara mereka.


Pelan-pelan Zeon juga mengelus lembut alis Syeran, sampai wanita ini benar-benar terlelap.


Pagi datang. Cahaya matahari adalah yang membangunkan mereka berdua.


Syeran yang kikuk buru-buru memakai bajunya kembali, tapi dia tidak bisa menemukan dimana cellana dallamnya.


"Apa di bawah kursi ya?" tanya Syeran.


"Tidak usah pakai," jawab Zeon.


Syeran lantas menatap sengit pada suaminya tersebut, selalu saja membuatnya tidak memakai dallaman. Kemarin hanya memberinya hoodie, dan sekarang tidak dicarikan cellana dallamnya yang terselip.


"Tapi risih!" kesal Syeran.


"Apa masih basah? balut pakai tissue," jelas Zeon gamblang.


Dan makin pria itu menggampangkan semuanya makin membuat Syeran kesal. Tapi meski begitu, dia tetap menarik 1 tisue lalu dilipatnya rapi, dia selipkan di bawah sana.

__ADS_1


Zeon langsung menyalakan mesin mobil dan mereka melaju pulang.


Hampir jam 9 pagi keduanya baru tiba di rumah, Syeran tidak terlalu lapar karena dia memakan beberapa makanan yang kemarin mereka beli saat sedang berkeliling.


Hanzo dan Diena sudah menunggu di teras dengan was-was.


Takut ada yang terluka pada tuan Zeon, sampai semalaman ini tidak pulang. Mereka semua mengkhawatirkan pria itu. Tapi tak ada satu pun yang mencemaskan Syeran.


"Aku mau di gendong," kata Syeran setelah mobil mereka terhenti, tapi belum sama-sama turun.


"Hem, tunggu sebentar," jawab Zeon. Kini dia tidak ingin merumitkan hidupnya sendiri tentang Syeran, apapun keinginan wanita itu akan dia turuti.


"Tuan Zeon," ucap Diena ketika tuannya itu turun, dia juga langsung menunduk memberikan hormat.


"Cellana dallam Syeran hilang di mobil, carilah sampai ketemu," titah Zeon pada Diena.


Tidak perlu dijelaskan secara rinci, dia sudah paham apa yang terjadi semalam di dalam mobil itu.


Zeon juga langsung melangkahkan kaki, membuka pintu mobil di sisi Syeran dan menggendong wanita ini ala bridal. Syeran memeluk leher sang suami erat.


Sebenarnya malu karena tidak memakai cellana dallam, karena itulah minta gendong.


"Minta pelayan untuk memindahkan semua bajuku ke kamar mu, aku tidak mau di lantai 3."

__ADS_1


"Iya, mau apa lagi? memindahkan dapur ke kamar ku juga?"


Syeran langsung memukul lengan Zeon. Semua ucapannya terkesan meledek, bukan perhatian.


"Itu akan jadi kamar kita, bukan kamar mu."


"Hem, apa boleh aku melihat Dom?"


"Tidak! biar Diena yang memberinya makan."


"Baiklah," jawab Zeon patuh.


Setelah menurunkan Syeran di atas ranjang, Zeon keluar untuk memerintahkan seorang pelayan membawa semua baju Syeran ke kamar ini.


Tapi saat itu Hanzo juga menghadap.


"Ada apa? aku harus mengurus bayi besar itu," tanya Zeon. Syeran yang merengek terus tidak mau ditinggal.


Hanzo lantas menjelaskan tujuannya datang, tentang kemarin saat salah satu orang kepercayaan mereka di kantor menelpon.


Hampir 2 bulan Zeon tidak datang ke perusahaan, sebelum dan sesudah pesta pernikahan itu.


Beberapa oknum mulai membuat ulah dengan korupsi.

__ADS_1


Zeon tersenyum miring, seperti siap mengeksekusi.


"Kirim mereka ke hutan," titah Zeon.


__ADS_2