The Magical My Wife

The Magical My Wife
TMMW Bab 71 - Sebagai Sandaran


__ADS_3

Sebelum bersiap untuk menyambut dokter Emma, Syeran lebih dulu memakan irisan buah yang telah disediakan oleh Diena.


Meski selalu ketus pada pelayan wanita itu, tapi Syeran selalu menghargai semua pekerjaannya. Apapun yang disajikan oleh Diena sebisa mungkin dia makan hingga habis.


Jam setengah 9 pagi itu akhirnya dokter Emma datang, langsung melakukan pemeriksaan di dalam kamar.


Syeran banyak ditanya tentang kesiapannya untuk kembali hamil, ditanya tentang peristiwa keguguran kemarin. Benarkah telah mengikhlaskannya atau masih menjadi beban.


Banyak sekali pembicaraan mereka lagi itu. Syeran juga tak menyangka jika berbicara seperti dengan dokter Emma membuat hatinya terasa lega. Semua hal yang mengganjal di dalam hati perlahan hancur.


"Nanti malam saja ya," ucap Emma pada tuan Zeon.


Pria itu yang sejak tadi ada di sana dan mendengarkan semua pembicaraan pun langsung mengangguk, lengkap dengan senyum yang kini selalu terukir di wajah pria itu. "Siap, Dok," jawab Zeon patuh.


"Tapi pelan-pelan saja, nikmati waktu kebersamaan kalian," jelas dokter Emma lagi.


Kini Zeon mengangguk tapi dengan bibir yang sedikit cemberut, karena kata-kata itu seperti memberinya petunjuk bahwa tidak boleh melakukannya dengan kasar. Padahal dia suka sekali melihat tubuh Syeran yang bergerak saat dia hentak dengan kuat.

__ADS_1


Argh! rasanya membuat Zeon gila.


"Baiklah Dok," jawab Zeon patuh.


Dari jam 9 pagi sampai jam 8 malam rasanya lama sekali, jadi selepas makan malam itu Zeon langsung mengurung sang istri di dalam kamar.


Syeran yang sudah tahu apa yang akan mereka lakukan jadi merasa malu sendiri, sejak tadi kedua pipinya tidak berhenti untuk bersemu merah. Syeran mendadak gugup, seolah ini adalah malam perttama mereka.


"Sayang," panggil Syeran ketika dia sudah naik di atas ranjang, Syeran Melihat dengan jelas saat sang suami melepaskan baju kaosnya, tatto yang menempel di tubuh kekar itu seketika dia lihat dengan jelas.


"Duduk dulu," pinta Syeran, dan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Zeon langsung patuh.


"Pembicaraanku dengan dokter Emma tadi pagi membuatku ingat dengan Papa, maaf mengatakan tentang hal ini sekarang. Tapi aku benar-benar kepikiran," jelas Syeran.


Meski sang ayah sudah menjualnya dengan begitu kejam, tapi tetap saja tak bisa merubah fakta bahwa pria paruh baya itu adalah ayahnya.


Dan dokter Emma mengatakan bahwa tiap anak dan orang tua pasti memiliki ikatan batin yang kuat. Meski anak pertama Syeran telah di surga, namun kasih sayang itu akan tetap ada.

__ADS_1


Kalimat itu membuat Syeran langsung ingat dengan sang ayah, mulai banyak kemungkinan yang dia pikirkan, mungkin saat itu adalah saat paling mendesak bagi hidup ayahnya tersebut sampai terpaksa harus menjual dia, mungkin seperti itu.


Syeran tidak ingin membenci, apalagi setelah dia banyak mendapatkan cinta dari sang suami, dan sekarang Syeran justru ingin tahu bagaimana keadaan sang ayah.


"Maaf harus mengatakan ini, tapi ayahmu sudah meninggal tak lama setelah dia mendapatkan semua uang itu," jelas Zeon apa adanya.


Syeran sontak mendelik, dan makin tercengang saat sang suami melanjutkan ceritanya.


1 bulan setelah pernikahan Hanzo masih terus mengawasi ayah Syeran. Puas bermain judi dan menang, ayah Syeran justru jadi buronan banyak orang, sekelompok orang membunnuh pria itu dengan kejam dan mengambil semua hartanya.


Hanzo mengubur jenazah beliau di tempat pemakaman umum.


"Aku tidak pernah menceritakannya karena kamu tidak pernah bertanya," ucap Zeon apa adanya, dia mengakhiri semua cerita.


Berujung dengan tangis Syeran yang sesenggukan.


Zeon lantas menarik tubuh sang istri untuk dipeluknya erat, sangat erat, menjadikan daddanya sebagai sandaran terakhir Syeran.

__ADS_1


__ADS_2