
Huh! Zeon lagi lagi membuang nafasnya dengan kasar, sekuat tenaga coba acuh pada wanita itu, tapi ternyata dia tidak bisa. Akhirnya Zeon bangkit dari kursi kerja. berjalan menghampiri wanita yang beberapa bulan terakhir selalu mengganggunya.
Dari jarak sedekat ini, Zeon jadi semakin bisa menatap lekuk tubuh sang istri. dadda yang nyaris menyembul keluar dan bokkong yang begitu menungging. Membuat pria itu berulang kali membuang nafasnya dengan kasar, karena tiba-tiba ada hasrat di dalam dirinya yang minta untuk dipuaskan.
"Ran, bangun," titah Zeon dengan nada acuh dan dingin, tetap ingin mengintimidasi Syeran dengan sikapnya itu. Tapi sayang, Syeran tak mendengar. Wanita itu sudah benar-benar tertidur pulas.
"Syeran!" panggil Zeon lagi, bahkan suaranya terdengar lebih tinggi dan akhirnya kali ini suara itu berhasil membangunkan wanita tersebut.
"Tuan," lirih Syeran, dia menguap dan coba bangun, lalu duduk di sofa itu.
"Tuan, apa sudah selesai kerjanya? ayo tidur," ajak Syeran, dia menguap lagi dan buru-buru ditutupnya menggunakan kedua tangan.
Tapi Zeon malah tidak fokus pada ucapan Syeran, kedua matanya sudah terkunci di gunung kembar itu. Nampak sintal dan lebih besar daripada biasanya. Ottaknya sudah terasa kotor.
Hais! di mana harga dirimu Zeon! usir Syeran! batin Zeon. Hati, pikiran, mulut dan matanya sudah tak sejalan.
"Pergilah, malam ini aku akan tidur di sini," usir Zeon, dia masih setia bicara dengan suaranya yang terdengar dingin. Tapi percayalah, Syeran sudah menganggap suara itu seperti suara khas sang suami, jadi dia tidak merasa heran lagi ataupun merasa sakit hati lagi.
"Tidur di sini? dimana? di sofa?" Syeran justru bertanya dengan hal yang lebih banyak.
__ADS_1
Dan hal itu membuat Zeon frustasi, karena yang dia inginkan adalah Syeran segera keluar dari ruangan ini. Zeon malas untuk menjelaskan bahwa di dalam ruangan itu pun ada kamarnya.
"Pergi," kata Zeon, cukup 1 kata.
"Mau tidur si sofa?"
"Syeran ... keluar."
Kali ini Syeran tidak bertanya lagi, dia lantas bangkit hingga berdiri di hadapan sang suami. "Iya iya, aku keluar. Tapi jangan tidur di sofa. Jika tidak nyaman aku tidur di kamar, aku akan pindah ke lantai 3." jawab Syeran kemudian.
Selepas mengucapkan kalimat itu, Syeran keluar dari ruang kerjanya tersebut. Dia mengambil jubah lingerienya dan memangil Diena. Dia ajak Diena untuk tidur di lantai 3, di kamarnya yang dulu.
Sepanjang malam, Zeon terjaga. Terus memperhatikan Syeran dari kamera CCTV yang terpasang di dalam kamar itu.
Beberapa hari telah berlalu dan Zeon terus menghindari Syeran. Zeon ingin seperti dulu, yang acuh dan tak peduli.
Sementara Syeran tak sadar jika suaminya coba menjauh, dia justru menyiapkan diri untuk bertemu dengan anak-anaknya.
Saat akhirnya pekan, jam 9 pagi Syeran sudah keluar dari mansion. Dia pergi bersama Diena dan sang supir.
__ADS_1
Syeran adalah yang pertama kali tiba di perpustakaan kota Servo, sementara Betrand, Albert dan Serafina belum nampak batang hidungnya.
Sambil menunggu Syeran pun membaca-baca buku di sana. Aktivitasnya terjeda saat Diena akhirnya berbisik. "Nyonya, mereka datang," bisik Deina.
Syeran lantas melihat ke arah pandang sang asisten, bibirnya langsung tersenyum saat melihat ketiga anak itu berjalan menghampiri dia.
Syeran sangat bersyukur atas pertemuan kedua ini, kedua matanya sampai berkaca-kaca dan hati yang merasa haru.
"Tente," panggil Serafina dengan suara lirih, tak ingin membuat keributan di dalam perpustakaan itu. Dan Syeran pun segera menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Kalian datang bersama siapa?" tanya Syeran. Dia tak ingin ada Erland diantara mereka. Kemarin pun sudah sepakat tentang hal ini.
"Papa, tapi dia hanya mengantarkan kami. Dia tidak ikut masuk. Nanti saat pulang aku akan menelponnya." Jelas Betrand dengan bibir tersenyum lebar, sungguh dia seperti sedang melihat ibunya.
"Bagus, ayo kita pilih buku yang keren." jawab Syeran, seraya mengelus puncak kepala Betrand dengan penuh kasih sayang. Lalu mengelus pipi Albert pula.
Sampai membuat Diena merasa heran.
Kenapa mereka mudah sekali akrabnya?
__ADS_1