The Magical My Wife

The Magical My Wife
TMMW Bab 31 - Mengangkat Anak


__ADS_3

Jangan ditanya kenapa Zeon berkata seperti itu kepada seluruh pelayan di mansion ini, tentang Syeran yang sekarang bukan lagi istri kontraknya melainkan istri dia yang sesungguhnya.


Zeon ingin tetap berpikir waras, karena Syeran mengancam dia akan menghilang lagi.


Entahlah, Zeon merasa dia bisa gila jika memikirkan tentang hal itu tentang bagaimana wanita ini bisa berpindah tempat dalam waktu sekejap.


Saat ini Zeon sedang membentengi dirinya sendiri dari rasa frustasi dan hanya menganggap bahwa matanya saja yang keliru.


Dan pernyataan Zeon itu tentu membuat semua pelayan terkejut, mulai was-was jika selama ini mereka pernah menyinggung nona Syeran, Bagaimana jika tiba-tiba wanita itu melakukan pemecatan massal karena sakit hati.


Astaga, mereka tidak bisa menebak Apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini, tapi mulai berpikir bahwa posisi mereka sudah tidak aman.


Jadi untuk menetralisir hukuman yang lebih parah, semua pelayan langsung menundukkan kepalanya dan memberi hormat kepada nona Syeran. Tidak, bukan nona Syeran, melainkan Nyonya Syeran.


"Maafkan kami Nyonya, selama ini kami banyak membuat salah," ucap Pedro, dia adalah koki mansion tersebut juga menjabat sebagai kepala pelayan di mansion ini. Ucapan Pedro artinya sama seperti ucapan semua pelayan.


Diena adalah satu-satunya yang tidak terima dengan keadaan ini, dipikirnya mereka semua akan menertawakan wanita itu, tapi kenapa sekarang jadi begini. Justru semuanya menunduk memberikan hormat.


Syeran tidak menanggapi ucapan Koki Pedro, dia malah menatap ke arah Diena yang tidak menundukkan kepala.


"Suamiku, lihat Diena, dia tidak mau memberi hormat padaku," Adu Syeran.

__ADS_1


Astaga. Batin Zeon. Rengekan Syeran itu membuatnya seolah sedang menghadapi bocah perempuan. Namun ujungnya dia hanya mampu membuang nafasnya kasar.


"Siapa pun yang tidak bisa menghormati istriku maka harus keluar dari rumah ini. Pintunya di sebelah sana," kata Zeon.


Hanzo yang mendengar itu pun seketika menelan ludah kasar, dia tak menyangka juga semuanya akan berubah secepat ini.


Hanzo melirik sang Tuan sekilas, Tuan Zeon yang lengannya selalu dipeluk nona Syeran. Nona Syeran sudah mirip sekali seperti ulat bulu yang menempel pada inangnya.


Dan mendengar ucapan sang Tuan tersebut, Diena langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak mungkin dia keluar dari mansion tersebut hanya gara-gara Syeran.


Dia adalah pelayan setia Tuan Zeon.


"Maafkan saya Tuan," kata Deina.


"Maafkan saya Nona."


"Bukan Nona, Deina.Tapi Nyonya!"


Astaga, kepala Zeon rasanya mau pecah. Sementara Hanzo mengulum senyum.


Tuan Tuan seperti bukan menaikkan status nona Syeran sebagai istri yang sesungguhnya, tapi mengangkat anak yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Maafkan saya Nyonya," ucap Diena akhirnya dan Syeran langsung tersenyum lebar, bangga, sudah puas sekali hatinya.


"Sudah suamiku, bubarkan semua orang," bisik Syeran pada sang suami.


Tapi Zeon begitu enggan untuk bicara lagi, jadi dia langsung pergi dari sana dan menyerahkan semuanya pada Hanzo.


Syeran si ulat bulu pun langsung mengikuti inangnya pergi.


"Suamiku, kita mau kemana?" tanya Syeran, karena Tuan Zeon tidak berjalan menuju kamar, tapi entah kemana.


"Ke kandang Dom," jawab Zeon.


"Hii, untuk apa pergi ke sana? aku kan takut."


"Kalau begitu tidak usah ikut."


Syeran langsung mencebik, bukannya melepaskan pelukannya, Syeran justru memeluk semakin erat.


Di ujung sana dia sudah melihat Dom yang menatap ke arahnya.


GUK!

__ADS_1


"Hii!" kaget Syeran.


__ADS_2