
"Waktu berjalan," kata Syeran, mendadak dia berubah pikiran. Tidak ingin menunjukkan kekuatannya saat ini.
"Kenapa masih di sini?" tanya Zeon, dia jadi ragu apakah benar sang istri bisa menghilang.
"Aku lapar, bagaimana jika kita makan dulu? aku akan menunjukkannya ketika kita berada di hutan Beautiful Hill," jawab Syeran.
Zeon terkekeh pelan, sekarang memang sudah waktunya makan siang, bahkan telah lewat. "Baiklah ayo kita makan dulu," ajak Zeon kemudian.
Siang itu akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan, berhenti di sebuah restoran mewah dan makan siang bersama di sana.
Hampir jam 2 siang mereka baru memutuskan untuk pulang ke mansion.
Sekitaran jam 3 mobil itu kembali berhenti di hutan Beautiful Hill. Saat mobil berhenti, Syeran pun dengan segera berpindah tempat duduk, baginya duduk di atas pangkuan sang suami adalah tempat yang paling nyaman.
"Lakukan lah, tunjukkan kekuatan mu itu padaku sekali lagi," kata Zeon.
Syeran mengangguk, saat itu juga dia katakan "Hentikan waktu."
Dan saat itu juga waktu berhenti berdetik, di dunia hanya Syeran yang bisa bergerak. Wanita itu tidak langsung turun dari atas pangkuan sang suami. Syeran justru menatap lekat wajah tuan Zeon lebih lekat.
__ADS_1
Wajah yang saat ini nampak lebih teduh daripada biasanya, seseorang dengan sorot mata yang dingin namun selalu berhasil membuatnya merasa nyaman.
Diam-diam Syeran mencium pipi suaminya tersebut.
Di masa lalu Syeran banyak sekali mengutuk hidupnya sendiri, selalu berteriak menyalahkan Tuhan atas semua yang terjadi. Namun nyatanya apa yang dia yakini tak benar-benar sebuah fakta.
"Maafkan Aku, Tuhan. Sekarang aku tidak akan meminta apapun. Aku hanya akan menjalani kehidupan yang kamu beri dengan lebih baik," kata Syeran, bicara sendirian. sementara kedua matanya masih terus menatap ke arah sang suami.
Kini Tuan Zeon adalah masa depan dia yang sesungguhnya, suaminya.
Masa lalu tak mungkin bisa dia datangi lagi, sementara ketiga anaknya bersama Tuan Erland, Syeran yakini sebagai salah satu petunjuk dari Tuhan, bahwa anak-anaknya telah mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
"Aku tidak mau membaca buku itu lagi, aku akan membuangnya saja," gumam Syeran, meski sebenarnya buku itu belum habis dia baca.
Tapi Syeran sudah tak ingin mengulik terlalu jauh, biarlah sekarang dia jalani saja hidupnya di masa ini tanpa lagi mengingat peristiwa di masa lalu.
Meyakini itu, akhirnya Syeran turun dari dalam mobil tersebut dengan membawa buku King Of Atera.
Syeran berjalan cukup jauh masuk ke dalam hutan, setelah mendapatkan tempat yang dirasa strategis dia langsung melemparkan buku tersebut menggunakan semua tenaganya, sampai terlempar jauh, bahkan sepertinya telah jatuh ke bawah jurang.
__ADS_1
Melempar buku itu, Syeran Seperti membuang semua kenangan masa lalunya. Syeran coba tersenyum dan tak lagi menyesalkan apapun yang terjadi.
Dengan hati-hati Syeran kembali naik untuk mendatang mobil, tapi di tengah jalan dia malah lupa jalurnya.
"Loh, tadi bukannya lewat sini?" gumam Syeran, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Syeran kembali berjalan sesuai dengan keyakinannya, namun tetap saja tak nampak jalanan utama. Syeran mulai cemas dan takut.
"Bagaimana ini? apa aku tersesat?" Syeran mulai menangis, sampai tak sadar jika di hadapannya ada sebuah batu tajam, dia menginjak batu itu hingga jatuh. kepalanya terbentur tunggak dan terluka, sementara tangannya sebagai tumpuan pun tekena rerumputan berduri.
"Ahk!" pekik Syeran, sakit di kepala dan tangannya terasa begitu nyata.
"Tuan, bagaimana ini?" tangis Syeran makin pilu, seberapa banyak pun dia coba untuk kembali nyatanya tetap saja tersesat. Satu-satunya yang jadi pengharapan dia saat ini adalah tuan Zeon bisa menemukan keberadaannya.
Tapi apakah mungkin?
di dalam hati Syeran juga ada sedikit keraguan.
"Aku mohon Tuan, temukan aku," mohon Syeran. dengan hati yang begitu berputus asa akhirnya Syeran berucap untuk waktu kembali berjalan.
__ADS_1