
Assalamualaikum, maaf ya beberapa hari ini upnya lelet 🤣
Bismillah mulai rutin lagi ya 💙
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 minggu telah berlalu.
Dan selama itu pula Zeon tidak pernah meninggalkan Mansion, padahal pria itu sudah berjanji akan mengajak Syeran jika pergi.
Jika seperti ini artinya sama saja, tak ada bedanya sebelum janji itu dibuat.
Saat Zeon pergi ke hutan Syeran tak mau ikut, karena dia takut dengan Dom.
"Hari ini dokter Emma akan datang," ucap Zeon setelah dia dan Syeran selesai sarapan. "Dia akan memeriksa apakah kamu hamil atau tidak, jadi bersiaplah," kata Zeon lagi sambil melirik ke arah sang istri.
Diena yang sedang meletakkan irisan buah di atas meja pun mampu mendengar ucapan itu juga. Diam-diam pelayan itu tersenyum miring, dia sudah bisa menebak, pasti nyonya Syeran tidak akan hamil.
__ADS_1
Sedikitpun tak ada tanda-tanda bahwa wanita itu tengah mengandung, "Silahkan Tuan, Nyonya, ini buahnya," ucap Diena kemudian.
"Tidak usah memanggil dokter Emma, belikan saja aku test pack, sekarang aku pasti sudah hamil," jawab Syeran atas ucapan sang suami. Dia bicara seraya mengambil irisan buah itu, seolah kalimat yang diucapkannya bukanlah hal yang spesial.
Syeran biasa saja, seperti kehamilan itu telah dia ketahui jauh-jauh hari.
Zeon bahkan langsung menatap intens ke arah sang istri, sementara Diena tercengang, namun dia menyingkir dari sana.
Astaga, nyonya Syeran terlalu percaya diri. Bagaimana jika dia tidak hamil? kalimatnya itu hanya akan membuat tuan Zeon semakin terluka. Batin Diena.
"Kenapa bicara mu seperti itu?" tanya Zeon, harusnya dia senang saat mendengar tentang kehamilan, tapi entah kenapa dia merasa tak nyaman dengan ucapan Syeran tersebut.
"Aku memang sudah hamil, kita nanti akan memiliki 3 anak. Tapi jika anda tidak mencintaiku mungkin aku akan lelah, lalu berakhir bunnuh dirri," balas Syeran. Dia juga membalas tatapan sang suami.
Syeran juga berharap dia tidak hamil dulu, berharap meski sedikit saja takdirnya berbeda dengan masa lalu. Tapi jika dia ingat-ingat, bulan ini Syeran belum mendapatkan tamu bulanannya, pagi tadi pun dia merasa mual.
Fakta itu membuatnya sendu, karena ternyata tak ada yang berubah hingga detik ini. Dia tetap hamil dan tuan Zeon belum mencintainya.
__ADS_1
"Jaga bicaramu," balas Zeon, suaranya berubah jadi dingin. "Jangan main-main berlalu jauh denganku Ran," tambah Zeon pula.
Kini Syeran tak menjawab ucapan itu, dia memutuskan tatapannya dan menunduk, lalu menjatuhkan air mata.
Dia elus perutnya sendiri yang masih rata.
"Aku akan ke kamar, panggil saja jika dokter Emma datang," ucap Syeran, dengan menghapus air matanya sendiri Syeran pergi meninggalkan meja makan itu.
Meninggalkan Zeon yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang entah. Hatinya memang terusik atas sikap dan ucapan Syeran, tapi Zeon segera menepis semua itu. Dia bahkan tetap duduk di sana tanpa menyusul Syeran.
Jam 7 pagi lewat 30 menit akhirnya dokter Emma tiba di mansion itu. Syeran sangat patuh untuk pemeriksaannya yang kali ini.
Lalu menunjukkan hasilnya pada dokter Emma dengan wajah lesu.
2 garis merah nampak jelas di dalam test pack tersebut. "Selamat Tuan Zeon, Nyonya Syeran hamil," ucap dokter Emma.
Zeon sangat bahagia mendengar kabar itu, sementara Syeran hanya mampu membuang napasnya dengan kasar.
__ADS_1
Ternyata benar, alurnya tetap sama seperti masa lalu. Batin Syeran.