
"Jadi bagaimana ini? jadi buat anak atau tidak?" tanya Zeon, dia coba menggoda sang istri untuk mengembalikan keceriaan Syeran.
Namun Syeran bukannya tertawa ataupun memukul, dia justru mendongak dan menatap sang suami dengan kedua mata yang masih berkaca-kaca.
Zeon lantas membelai lembut wajah lemah ini. "Kamu ingin melihat makam papamu?" tanyanya dengan suara yang terdengar begitu menenangkan, hingga membuat Syeran langsung menganggukkan kepalanya tanpa segan.
"Baiklah, Ayo kita pergi sekarang juga," ajak Zeon kemudian.
Malam dengan bulan purnama itu akhirnya Zeon dan Syeran mendatangi tempat pemakaman umum. Mereka tidak hanya pergi berdua saja tapi bersama dengan Hanzo dan Diena juga.
Di bawah sinar bulan Syeran menangis digundukan makam sang ayah, dia peluk pusara itu seperti dia sedang memeluk ayahnya sendiri, menangis sesenggukan jika ingat takdir yang mereka alami berdua. Andai saja waktu bisa diulang, ingin sekali Syeran memperbaiki. Syeran akan lebih berani melarang sang ayah agar tidak terjerumus dalam dunia gelap.
Tapi sayang, waktu tak bisa kembali berputar kebelakang. Puas menangis Syeran kini memeluk suaminya erat. "Jangan tinggalkan aku," kata Syeran lirih, terdengar seperti sebuah permohonan. Kini Syeran tak punya siapapun, hanya Zeon satu-satunya yang bisa dia jadikan rumah.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Ran," jawab Zeon seraya membalas pelukan sang istri semakin erat. Membuang semua rasa dingin yang sejak tadi menyelimuti Syeran.
__ADS_1
Diena tidak menyangka bahwa dia akan menangis melihat pemandangan itu, daddanya sesak seperti bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh sang Nyonya.
Dan makin merasa bersalah jika ingat selama ini dia telah memperlakukan wanita malang itu dengan semena-mena.
Hanzo yang melihat Diena menangis tak bisa memeluk, jadi dia hanya berikan sebuah sapu tangan.
Hampir jam 11 malam mobil yang dikemudikan oleh Hanzo memasuki kawasan Beautiful Hill, gelap dan sunyi sekali hingga membuat Syeran merasa takut. Jadi dia peluk suaminya erat.
Sementara Diena langsung menyalakan musik di dalam mobil itu untuk memecah keheningan.
Malam ini mereka urung membuat anak, karena Syeran sudah lebih dulu lelah karena kesedihan.
Pagi datang dan Syeran adalah yang bangun lebih dulu. Dia lihat saat ini waktu masih menunjukkan jam 05.00 pagi, ketika bangun Syeran merasa jauh lebih baik daripada semalam. Kesedihan yang dia rasakan seperti berkurang karena waktu.
Syeran juga langsung ingat jika semalam tidak jadi enak-enak. Wanita itu sontak mengigit bibir bawahnya sendiri merasa harus melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya.
__ADS_1
Jam 6 pagi Syeran akhirnya membangunkan sang suami. "Sayang, ayo bangun," ucap Syeran.
Zeon langsung mengerjab dan membuka mata, sontak mendelik saat melihat penampilan sang istri pagi ini. "Ran." Zeon bahkan langsung bangun dari tidurnya dan duduk."
"Ayo bangun, aku mau kita mandi bersama. Aku sudah siapkan air hangat," ajak Syeran.
Zeon terkekeh, dia kucek sebelah matanya sendiri dan akhirnya bisa melihat sang istri dengan lebih jelas. Pagi-pagi begini Syeran sudah memakai bikini, kain segitiga di bawah sana dan kaca mata dari kain di dadda.
"Apa ini gantinya semalam?" tanya Zeon dan Syeran mengangguk.
Sumpah, Syeran malu sekali. Bahkan dia merasa dibawah sana sudah berkedut saat ditatap oleh Zeon seperti ini.
Tapi Syeran tepis semua rasa malu itu, di hadapan sang suami dia akan bersikap tak punya malu.
Tak ingin mengulur waktu, Zeon langsung turun dari atas ranjang dan menggendong sang istri menunju kamar mandi.
__ADS_1
Syeran yang terkejut sampai menjerit! "Ahk!" pekiknya, lalu memeluk sang suami erat.