
Diena sesaat mematung di tempatnya berdiri setelah tuan Zeon, nyonya Syeran dan asisten Hanzo pergi, meninggalkan dia sendirian di sini di samping mobil milik asisten Hanzo.
"Wah," ucap Diena, seolah tidak percaya dengan tugas yang baru saja dia dapatkan.
Diena ingin berteriak berontak tapi tertahan di ujung lidah.
Terlebih sebelum asisten Hanzo pergi tadi, pria itu pun menitip pesan padanya, setelah barang milik Nyonya Syeran ketemu, mobil itu tolong dicuci.
"Astaga."
Deina berulang kali menghentakkan kakinya di lantai, geram sekali.
tapi tidak punya pilihan selain membuka pintu mobil itu dan mencari cellana dallam milik sang nyonya.
"Sangat menjijjikan," geram Diena, meski dia patuh tapi tetap saja selalu menggerutu.
Tugas ini benar-benar telah melukai harga dirinya.
"Pasti nyonya Syeran yang meminta tuan Zeon untuk memberikan perintah ini padaku, awas saja dia," umpatnya lagi, tak habis-habisnya.
Tapi yang pertama kali dia temukan bukan bukanlah cellana dallam sang nyonya, melainkan tisue yang berserak asal.
__ADS_1
"Ieww, ini sangat-sangat menjijjikan!" geram Diena, karena merasa tak nyaman akhirnya dia pun membuang tisu-tisu tersebut di luar.
Hingga terlihatlah kain segitiga berwarna merah muda di bawah kursi belakang.
"Astaga, Siapa yang melemparnya sampai ke belakang sini," gerutu Diena.
Wanita itu lantas mengambil sarung tangan yang memang sudah biasa dia siapkan di salah satu saku, dipakainya sarung tangan tersebut dan mengambil cellana dallam tersebut.
Setelahnya dia memerintahkan seorang pelayan untuk mencuci mobil asisten Hanzo.
"Cuci mobil itu sampai bersih, seolah kamu sedang membuang sial yang ada di dalam mobil itu," titah Diena.
Setelah membuang nafasnya dengan kasar, dia pun pergi dari sana.
Syeran begitu bersemangat saat beberapa pelayan memindahkan semua bajunya di kamar sang suami. Awalnya dia ingin membantu, tapi kemudian urung saat mengingat selama ini semua orang itu meremehkan keberadaannya di rumah ini.
Jadi Syeran hanya berdiri dan memperhatikan, sesekali memberi perintah seperti yang selama ini dilakukan oleh suaminya. Syeran bahkan mulai belajar memasang wajahnya yang dingin.
Dengan seperti ini mungkin orang-orang tersebut akan menghormatinya juga, sama seperti bagaimana mereka menghormati tuan Zeon.
"Sudah ku bilang susun sesuai warna, aku tidak suka susunan baju yang berantakan," ucap Syeran.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, kami merapikannya lagi," jawab salah satu pelayan. Sementara pelayan yang lain masih menatap tak suka pada Syeran.
Setelah sang tuan mengangkatnya jadi istri yang sesungguhnya, Syeran jadi nampak begitu sombong.
Padahal semua orang jelas tahu bagaimana asal-usulnya, gadis miskin yang dibeli oleh sang Tuan.
Pencetak anak saja banyak sekali gayanya.
"Kenapa menatap ku seperti itu? kamu tidak suka?" tanya Syeran.
Pelayan itu sontak menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Maaf Nyonya," ucapnya sebagai pembelaan.
"Apa kalian tidak tahu etikanya ketika berhadapan dengan majikan? menatap tuan dan nyonya kalian secara langsung seperti itu sangat tidak sopan, selalu turunkan pandangan kalian," geram Syeran.
"Maaf Nyonya, saya tidak akan mengulanginya lagi."
"Apa gunanya maaf? aku akan tetap mengawasi mu," ancam Syeran.
Pelayan itu seketika menelan ludahnya kasar, makin was was dengan nasibnya sendiri.
__ADS_1
Zeon yang ada di kamar itu juga dan melihat semuanya entah kenapa tersenyum kecil, daripada Syeran yang merengek, dia lebih suka Syeran yang menyeramkan seperti itu.