
Syeran sedang sibuk menghabiskan waktunya bersama 3 anak itu, sementara Diena sibuk mengambil foto dan merekam beberapa aktivitas mereka untuk dikirim kepada tuan Zeon.
Di mansion, Zeon semakin mengeram kesal saat melihat semua foto dan video kiriman Diena tersebut, kepalanya mendidih. Ternyata dia memang tidak rela Syeran memiliki hubungan dengan orang lain, meskipun itu hanya anak-anak.
Terbesit pikiran di dalam kepala Zeon bahwa Syeran tidak boleh akrab dengan anak orang lain, Syeran hanya boleh menyayangi anak mereka berdua saja.
Tapi sikap keibuan yang ditunjukkan oleh Syeran akhirnya membuat Zeon memikirkan tentang cerita yang pernah diucapkan oleh Syeran. Cerita tak masuk akal tentang Syeran yang seorang ratu dan memiliki 3 anak. Dia ingin mengingkari cerita itu, tapi sepertinya Syeran terus menunjukkan bukti. Mulai dari kejadian tak masuk akal saat Syeran berpindah tempat. Lalu sikap hangat pada anak-anak itu.
Zeon menjambak rambutnya frustasi, entah sudah berapa banyak hari ini dia memikirkan tentang Syeran, hingga membuat kepalanya mau pecah.
Berulang kali kata cinta terbesit di hati dan pikirannya tapi sekuat tenaga Zeon menepis rasa itu. Inginnya tak jatuh terlalu dalam, tapi sepertinya dia justru sudah tenggelam.
Menjelang jam makan siang Syeran mengakhiri pertemuan dengan anak-anaknya. dia juga harus ingat waktu meski rindu tak pernah hilang dalam hatinya. Syeran sadar, kini mereka telah berada di dalam kehidupan yang berbeda.
__ADS_1
Semua telah berjalan di jalan masing-masing, jangan sampai apa yang ada di masa lalu kembali mengusik tentang masa depan.
"Betrand, telepon lah papa kalian, kita bertemu lagi lain kali, ya?" tanya Syeran. Serafina kini berada dalam gendongannya.
"Baik Tante, aku sangat menikmati hari ini," jawab Betrand dengan semangat. Dia adalah yang bertugas menjaga adik-adiknya. Jadi meski sangat menyukai Tante Syeran, tapi dia bukanlah ibu mereka. Ibu mereka telah tiada dan kini hanya doa sebagai penyambung.
"Ayo kita tunggu di luar," ajak Syeran.
Sumpah, Diena tidak menyangka bahwa nyonya Syeran memiliki jiwa keibuan seperti itu. Di dalam benaknya Syeran hanyalah wanita kekanak-kanakan dan bodoh.
Bahkan sepanjang pertemuan mereka tadi, sekalipun Syeran tidak menyebutkan tentang tuan Erland, Syeran hanya terus bertanya tentang anak-anak itu.
Tidak sampai lama menunggu di sana akhirnya terlihat sebuah mobil berwarna putih yang masuk ke area perpustakaan, lalu berhenti di area parkir yang letaknya berada di hadapan mereka di ujung sana, "Itu Papa!" ucap Serafina dengan riang.
__ADS_1
Syeran terus tersenyum saat melihat anak-anaknya bahagia seperti ini, mengobati lukanya dari masa lalu.
Mama harap Raja pun memperlakukan kalian dengan baik selepas mama pergi, sayang. Batin Syeran.
"Tante, aku tadi meminjam sebuah buku. Tapi aku ingin Tante yang membacanya lalu lain kali menceritakannya pada kami," ucap Albert, sebelum sang ayah yang sedang berjalan tiba di hadapan mereka.
"Buku apa, sayang?" tanya Syeran kemudian.
Albert lantas menyerahkan buku yang dia maksud, "Ini, King Of Atera."
Kedua mata Syeran seketika mendelik saat melihat buku tersebut, jantungnya bergemuruh ketika melihat nama tempat asalnya tertulis jelas dalam buku itu.
Pikirannya berkecamuk dan seketika pecah saat tangannya di tarik oleh seseorang, "Ayo pulang," ajak Zeon, entah sejak kapan pria itu ada di sana. Tapi dia datang bersamaan dengan Erland.
__ADS_1