
"SYERAN!!" pekik Zeon, entah sudah berapa kali dia meneriakkan nama tersebut.
Tubuhnya kini bahkan sudah basah kuyup, tapi Syeran belum juga berhasil dia temukan. Sementara malam terus beranjak naik, waktu masih menunjukkan jam 5 sore tapi di hutan itu mulai menggelap.
"RAN!" panggil Zeon sekali lagi.
Hanzo yang mendapatkan kabar dari Diena segera menghampiri sang Tuan, "Tuan Erland mengetahui tentang hilangnya nyonya Syeran, dia hendak membantu pencarian," lapor Hanzo.
Zeon hanya terdiam, nafasnya terdengar begitu kasar. Tak punya ruang untuk memikirkan tentang pergerakan Erland, satu-satunya yang ada di benak dia hanyalah segera menemukan Syeran.
"Jangan berhenti mencari, cepat temukan istriku!" balas Zeon. Sorot mata dan suaranya terdengar begitu dingin, sampai membuat Hanzo seperti membeku.
Apalagi dia dengar dengan jelas jika tuan Zeon menyebut nyonya Syeran sebagai Istriku, sebuah sebutan yang nampak begitu berarti.
Jika seperti ini keadaannya, maka dia harus bekerja lebih keras untuk segera menemukan nyonya Syeran.
DUAR!! petir di atas sana mulai saling sambar dengan liar.
Sebuah suara yang makin membuat Zeon tak tenang, Syeran pasti sedang merasa ketakutan. Batin pria itu.
**Maafkan aku Ran, harusnya aku tak mengujimu seperti ini. Harusnya aku tak meminta mu untuk menghilang.
__ADS_1
"RAN!" panggil Zeon, dia terus berteriak meski tanpa sambutan.
Erland juga mulai masuk ke hutan, timnya bergerak dari arah yang berlawanan. Jika mengikuti jalur ini maka dia akan bertemu dengan Zeon di tengah-tengah, dan harusnya diantara dia dan Zeon pasti akan menemukan Syeran.
Menit pun bergulir.
Hujan terus turun tanpa jeda.
Sampai akhirnya terdengar suara gongongan Dom yang menggema, sebuah tanda bahwa dia telah menemukan target.
GUK GUK GUK! gonggong Dom, mendominasi suara yang menggema di dalam hutan tersebut.
Zeon dan semua orang bahkan langsung berlari ke arah sumber suara milik Dom.
Syeran yang tergeletak di bawah sebuah pohon besar.
Tanpa ba-bi-bu, Zeon segera menggendong sang istri dan membawanya keluar dari hutan ini.
Suara Dom itu juga memanggil Erland untuk mendekat, dia lihat dengan jelas Zeon yang telah berhasil menemukan sang istri.
Erland hanya mampu terdiam ditempatnya berdiri. Iri kepada Zeon yang bisa memperlakukan istrinya setulus itu, sementara dia tak pernah bisa.
__ADS_1
Maafkan aku Ra, batin Erland. Bicara pada mendiang sang istri-Namira.
Di ujung sana, Zeon langsung membawa Syeran ke jalan raya. Diena sudah menunggu dengan mobil yang dia kemudi. Sementara mobil yang lain masih berada cukup jauh dari sini. "Pergi ke rumah sakit!" titah Zeon.
"Baik Tuan," jawab Diena patuh.
Saat mobil sudah melaju, Zeon baru sadar jika ada darrah yang mengalir dari pangkal paha Syeran.
Deg! jantungnya berdenyut, dia peluk Syeran semakin erat.
Sumpah, dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada sang istri.
"Cepat Diena! melajulah dengan lebih cepat!!"
Hujan masih terus turun membasahi kota Servo. Saat malam telah benar-benar tiba barulah mobil tersebut tiba di sebuah rumah sakit.
"Selamatkan istriku! segera tangani DIA!"
"Tenang Tuan, kami akan segera memberi penanganan," jawab sang dokter.
Diena tergugu, baru kali ini dia lihat tuan Zeon yang begitu mencemaskan seseorang. Bahkan sampai tuan Zeon seolah tak peduli pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tubuh tuan Zeon juga basah, juga penuh dengan darrah.