
Zeon sontak menekan tombol yang membuat kursinya mundur ke belakang, agar tempat yang cukup sempit ini muat untuk mereka berdua.
Dulu Syeran begitu takut pada Zeon, tak sadar jika kini pria itu justru jadi tempatnya untuk berlindung.
"Bagaimana ini? kita tidak bisa pulang," lirih Syeran, dia memeluk erat sang suami, seolah bersembunyi di dadda bidang itu. Berlindung dari gelapnya malam dan derasnya hujan, belum lagi kilat sesekali muncul hingga membuatnya tidak tenang.
"Kenapa takut? menghilang lah lagi dan tiba-tiba ada di rumah," ceplos Zeon, kali ini dia rela jika Syeran bisa menghilang seperti itu. Setidaknya wanita ini tidak akan bersamanya terjebak dalam hujan.
Jika Zeon tidak masalah, ini bukan pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini. Di perbukitan memang sering sekali hujan, meski saat siang panas terik.
Dan Syeran seketika mencebik saat mendengar ucapan sang suami, dia pun reflek memukul lengan tuan Zeon.
"Bukan seperti itu cara kerjanya," balas Syeran dengan mendengus kesal.
"Jadi bagaimana? coba ajak aku berpindah tempat," balas Zeon pula dan makin kesal Syeran dibuatnya.
"Tuan! bukan seperti itu!" Syeran jadi mendongak, menatap sang suami hingga tatapan mereka bertemu.
__ADS_1
Sesaat hening menguasai, sebelum akhirnya Zeon mengambil alih. Mengikis jarak dan mengecup sekilas bibir Syeran.
Syeran yang mendapati kecupan itu sontak memundurkan kepala, namun ternyata tuan Zeon menahan tengkuknya.
Lalu memperdalam ciuman itu, ciuman yang lambat laun membuat Syeran memejamkan kedua matanya. Semua terjadi secara alami, bagaimana saat keduanya saling menyesap satu sama lain. Bagaimana saat baju atasan Syeran telah jatuh hingga menampakkan dua gundukan sintal tersebut.
Bagaimana celana Zaon bisa terbuka dan mereka akhirnya menyatu.
Hujan deras dan kilat di luar sana sudah bukan lagi jadi pengganggu, kini seolah jadi saksi pergulatan penuh dessah itu.
Syeran yang tadi berada di atas kini telah berpindah ke bawah, menerima semua hentakkan yang membuatnya mabuk.
Menikmati denyut yang bersahut.
Kedua mata Syeran masih terpejam, lalu terbuka dengan cepat saat sadar ini adalah percintaan ketiga mereka.
Itu artinya Syeran akan hamil.
__ADS_1
"Tuan," panggil Syeran lirih. Namun Zeon tak menanggapi panggilan itu, dia justru kembali merubah posisi mereka seperti semula. Syeran yang duduk di atas pangkuannya.
Merubah posisi tanpa melepaskan penyatuan itu.
"Kenapa? mau lagi?" balas Zeon dengan bibir tersenyum miring. Indah sekali pemandangannya malam ini, hujan dan Syeran.
"Mau, tapi jangan bersandiwara lagi, coba lah terima aku dengan sepenuh hati," jawab Syeran.
Sebuah ucapan yang lagi-lagi membuat keduanya saling tatap, menatap dengan lekat.
Zeon tidak berpikir jauh tentang hal itu, karena sekarang yang dia inginkan hanyalah sentuhan. Hassrat di dalam dirinya tengah menggebu-gebu.
Dan ucapan Syeran itu hanya seperti angin lalu, karena tentang hati bukan sesuatu hal yang mudah untuk Zeon beri.
Zeon tidak menjawabi ucapan Syeran dengan kata-kata, dia kembali menyessap bibir Syeran dan menggerakkan panggul wanita ini maju dan mundur.
Syeran selalu lemah, apalagi saat salah satu daddanya diremmas cukup kuat.
__ADS_1
Hingga jam 10 malam Zeon dan Syeran tak kunjung pulang.
Deina menunggu tanpa lelah, berulang kali mengintip di balik jendela dan hanya melihat hujan.