
"Syeran," panggil Zeon akhirnya, Setelah dia meruntuhkan ego yang ada di dalam hati. niatnya tak ingin bicara lebih dulu tapi Syeran tetap membisu, membuatnya merasa tak tahan sendiri.
Dan mendengar namanya dipanggil oleh sang suami, Syeran pun menoleh. saat itu mobil sedang melaju dengan kecepatan sedang.
"Buku apa itu yang kamu bawa? kenapa dari tadi dipeluk terus, tidak bisakah kamu meletakkannya di kursi belakang?" tanya Zeon, setelah bicara panjang lebar.
Namun Syeran malah hanya diam dan terus menatap, karena saat ini Syeran begitu bingung, begitu menggebu ingin membaca buku tersebut, tapi juga takut ketika mengetahui semua kebenaran.
Entah lah, Syeran benar-benar gamang. "Maaf Tuan," jawab Syeran, jadi hanya dua kata itu sajalah yang bisa dia ucapkan.
"Berhenti memanggilku Tuan, apa kamu pelayan ku?" balas Zeon, suaranya terdengar begitu ketus, tapi entah kenapa Syeran justru merasa hangat saat mendengarnya.
Selama ini Syeran sebenarnya juga mengharapkan sang suami bicara seperti itu, memintanya untuk berhenti memanggil Tuan, lalu diganti suamiku atau sayang.
Syeran ingin diatur begitu, bukan karena keinginannya sendiri.
Dan saat semua itu nyaris terwujud, kini Syeran jadi malu-malu sendiri, dia mengulum senyumnya.
__ADS_1
"Jadi ... mau dipanggil apa?" cicit Syeran, bertanya dengan suaranya yang kecil. Sesaat lupa tentang buku yang saat ini masih dia peluk.
Zeon lantas menghentikan mobilnya di salah satu rest area.
"Kenapa mobilnya berhenti?" tanya Syeran lagi, dia mudah sekali tertarik dengan hal yang baru sampai melupakan yang lalu. Kini saking terkejutnya tiba-tiba mobil berhenti, Syeran bahkan tak membahas lagi tentang panggilan barusan.
Dia langsung menata sang suami dengan tatapan heran, "Kenapa berhenti di sini?" tanyanya lagi.
"Itu buku apa? berhenti memeluknya dengan sangat erat," titah Zeon, lain dengan Syeran yang gampang lupa, Zeon justru selalu ingat dengan hal yang dia permasalahkan.
"Emm ... buku ini. Bu-buku sejarah," balas Syeran bingung, malah jadi gagap.
"Ja-jangan Tuan, aku saja belum membacanya." balas Syeran, dia bahkan semakin memeluk erat buku itu, tidak mau memberikannya kepada sang suami.
"Berikan padaku, Ran. jangan membuatku marah!"
"Kenapa Tuan marah, ini kan hanya buku sejarah biasa."
__ADS_1
"Berhenti memanggilku Tuan!"
"Jadi mau dipanggil apa?"
"Terserah!!"
Syeran lantas mencebik, kenapa tuan Zeon jadi penuh misteri seperti ini? biasanya selalu tegas mengatakan apa yang dia inginkan, lalu kenapa sekarang malah Terserah.
"Berikan padaku." Pinta Zeon sekali lagi, dengan tatapan yang lebih serius. Menatap begitu lurus kepada Syeran.
Dan kali ini Syeran tak bisa menolak keinginan tersebut, dari tatapan itu dia tahu bahwa permintaan sang suami sungguh-sungguh.
"Kita baca sama-sama ya? aku juga penasaran bagaimana isinya," jawab Syeran. Dia bahkan langsung pindah duduk di atas pangkuan sang suami.
Membuat Zeon kelabakan dan memundurkan kursi. Astaga! apa dia tidak tahu jika aku sedang marah! batin Zeon. Mereka berdua memiliki pemikiran yang berbeda atas buku tersebut.
Sementara Syeran seolah tak peduli apa-apa, dia justru mengatur posisi duduknya agar terasa nyaman di sana.
__ADS_1
"Ayo kita baca sama-sama," ajak Syeran kemudian. Membuat Zeon membuang nafasnya dengan kasar, namun ujungnya dia pun memeluk pinggang sang istri.
Dan akhirnya ... mereka berdua membaca buku tersebut.