
Syeran tentu terkejut ketika melihat sang suami sudah berdiri di sini, padahal saat dia pergi tadi tuan Zeon nampak tidak peduli. Bahkan mengacuhkan pamitnya dan tetap fokus pada Dom.
Dan sekarang Zeon justru menegang pergelangan tangan Syeran dengan erat, memegang dengan posesif. Bahkan menatap Erland dengan tatapan sengit.
"Om Zeon juga datang, pasti ingin menjemput Tante," kata Serafina dengan suaranya yang begitu lembut.
Tapi tetap tidak meluluhkan hati Zeon yang keras, dia tetap benci pada anak-anak itu karena telah mencuri perhatian sang istri.
"Terima kasih atas waktu mu Ran, anak-anak ku sangat menikmatinya," kata Erland pula, dan rasanya Zeon ingin sekali memenggall kepala pria itu agar tidak bisa bicara lagi.
Namun Syeran tidak bisa menjawab ucapan tersebut, tangannya yang lain sedang gemetar memegang buku di tangannya, King Of Atera.
Syeran yang gamang akhirnya pilih untuk menghentikan waktu. Tapi ternyata tangan Tuan Zeon memegangnya dengan sangat erat sampai dia tak bisa lepas.
"Ya ampun Tuan, Kenapa memegang tanganku kuat sekali, aku jadi tidak bisa membaca buku ini," keluh Syeran. Entah kenapa rasanya dia ingin menangis. Dengan susah payah Syeran coba membuka buku tersebut, dan kata pertama yang dia baca adalah Raja Lorry.
__ADS_1
Deg! Ya Tuhan! Syeran nyaris terhuyung jatuh, namun akhirnya dia pilih untuk memeluk sang suami agar tetap kuat berdiri.
"Astaga, apa benar buku ini buku sejarah? apa ada tentang kematian ku?" Syeran bertanya dalam sepi, jantungnya seperti ingin meledak.
Di saat dia sangat ingin membaca buku itu tapi cekalan tuan Zeon tak bisa dia lepaskan. Pada akhirnya Syeran hanya bisa pasrah, kembali melanjutkan waktu saat dia masih memeluk lengan sang suami erat.
Deg! kini gantian Zeon yang terkejut, tiba-tiba mendapati Syeran yang memeluknya membuat Zeon berdebar. Apalagi saat ini ada Erland di hadapan mereka.
"Lebih baik sekarang kita pulang, sampai bertemu lagi." Zeon yang pamit, karena Syeran mendadak nampak bingung.
Tapi diantara semua pikirannya yang kacau tersebut, Syeran masih sempat memeluk anaknya satu persatu sebelum pergi.
"Bagaimana? apakah menyenangkan hari ini?" tanya Erland, dia justru duduk dan membuat anak-anaknya pun kembali duduk juga.
Dan Serafina adalah yang paling semangat untuk menjawab. "Sangat menyenangkan, Tante Syeran begitu baik. Melihat Tante Syeran yang tersenyum, aku yakin mama di surga sana juga pasti sedang tersenyum," jelas Serafina.
__ADS_1
Erland lantas memeluk anak gadisnya tersebut, karena dia pun mengharapkan hal yang sama. Berharap setelah kematian sang istri, istrinya tersebut menemukan kebahagiaan. Sebuah rasa bahagia yang tak sempat dia berikan.
"Tapi kalian harus selalu ingat, Tante Syeran bukan mama Kalian. Jangan sering-sering menganggu dia. Karena Tante Syeran punya kehidupannya sendiri. Ya?"
"Baik Pa," jawab ketiga anak itu patuh.
"Kami sangat-sangat menyayangi Mama," ucap Betrand kemudian.
"Kita makan siang dulu, sebelum pulang ayo kita kunjungi makam mama," ajak Erland dan anaknya mengangguk setuju.
**
Di dalam mobil yang sedang melaju, Zeon berulang kali melirik ke arah sang istri. Melihat Syeran yang terus memeluk sebuah buku entah apa.
Zeon sebenarnya tidak ingin bersuara untuk memulai pembicaraan di antara mereka, tapi mulutnya pun terasa gatal ketika melihat sang istri hanya diam saja seperti itu. Dia ingin Syeran yang cerewet kembali!
__ADS_1
Hanya kepada Syeran saja, Zeon nampak seperti pengemis perhatian.
Shiitt! batin pria itu.