
Entah sudah seperti apa degup jantung Syeran saat ini, ketika sang suami memperlakukannya dengan posesif dia justru merasa sangat bahagia.
Seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam hati, Syeran hanya bisa mengulum senyum, kedua pipi merah merona.
Dan makin ingin melompat saat tiba-tiba tuan Zeon mencium pipinya tersebut.
Ahk!! Syeran rasanya ingin sekali berteriak, jantungnya seperti ingin meledak merasakan semua kasih sayang itu.
Syeran sampai Ingin jatuh pingsan dalam kebahagiaan ini.
"Sekarang buatlah waktu berjalan lagi," kata Zeon, diantara kedua tangan yang masih terus memeluk erat perut sang istri.
"Iya," jawab Syeran kikuk, seketika begitu bangga ketika bisa menunjukkan kekuatannya ini pada sang suami. "Waktu berjalan," ucap Syeran kemudian.
Hanzo di hadapan mereka seketika bergerak, pria itu dengan cepat memutar tubuhnya hingga memunggungi sang Tuan dan sang Nyonya, sadar Jika dia masuk di waktu yang tidak tepat.
Di dalam ruangan ini tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, tapi sesuatu yang harusnya tak boleh dia lihat.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, Nyonya," ucap Hanzo, dia bahkan menundukkan kepalanya juga sebagai permohonan maaf.
Tapi sungguh, Syeran tidak peduli sedikitpun dengan apa yang dilakukan oleh asisten sang suami tersebut. Karena kini hatinya hanya berfokus pada sang suami, pada hubungan mereka yang terasa begitu hangat.
"Keluar lah," titah Zeon.
"Baik Tuan," jawab Hanzo cepat, dia menundukkan kepalanya sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
Huh! Hanzo membuang nafasnya perlahan. Nyaris saja kepalanya dipenggal oleh sang Tuan, karena berani-beraninya mengganggu kebersamaan tuan Zeon bersama sang istri.
Diena juga tadi lihat jika asisten Hanzo baru saja keluar dari ruangan nyonya Syeran. Dia jadi berpikir jika di dalam sana sedang ada adegan yang menegangkan, mungkin saja tuan Zeon memarahi nyonya Syeran habis-habisan, karena telah lancang menghilang, tidak becus mengurus diri hingga berakhir keguguran.
Menyadari itu Diena bingung sendiri, antara senang atau sedih.
"Tidak ada apa-apa, tapi lebih baik kamu jangan masuk ke dalam," jawab Hanzo.
"Kenapa? aku datang untuk mengantarkan baju ganti tuan Zeon dan nyonya Syeran."
__ADS_1
"Nanti saja jika dipanggil." putus Hanzo.
Diena akhirnya hanya bisa mengangguk patuh, tidak mungkin juga dia membantah perintah dari sang asisten. Asisten Hanzo memang memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan dia.
Di dalam ruang rawat sana, Zeon sedikit memutar tubuh sang istri hingga mereka saling berhadapan. Zeon menatap dengan lekat wajah istrinya tersebut, ternyata selama ini Syeran tidak pernah membual kepadanya.
Kekuatan untuk menghentikan waktu itu benar-benar ada. Dan mungkin kisah Syeran yang bertransmigrasi ke tubuh ini juga nyata.
Tak masuk akal memang, tapi Syeran yang dia selidiki dulu memang tak seperti Syeran yang sekarang.
Syeran yang kini memiliki keberanian, tawa yang riang, dan banyak permintaan. Jika Syeran yang dulu mungkin hanya diam, hanya patuh dan mungkin akan benar-benar jadi budaknya.
Kini perlahan pikiran Zeon mulai terbuka, lalu diganti dengan rasa takut kehilangan. "Janji satu hal padaku Ran," kata Zeon.
"Janji apa?"
"Janji untuk tidak pergi meninggalkan ku. Kamu bukan lagi Ratu Syeran, tapi kamu adalah istriku," mohon Zeon.
__ADS_1