
Hari itu juga Syeran sudah diizinkan untuk pulang, kondisinya cepat sekali pulih setelah mengalami keguguran.
Diena yang mengantarkan baju ganti untuk sang Tuan dan sang Nyonya rasanya sia-sia saja, karena belum sempat tas itu dibuka tapi mereka sudah kembali ke Mansion.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya asisten Hanzo, kini mereka semua telah tiba di mansion, sama-sama baru saja keluar dari dalam mobil. Sejak tadi Diena menatap aneh pada tuan Zeon, kenapa nampaknya tuannya itu tak bisa jauh dari sang Nyonya.
"Apa kamu tidak merasa aneh? lihatlah tuan Zeon, sejak dari rumah sakit sampai ke mansion dia terus memeluk pinggang nyonya Syeran, aku saja yang melihatnya aneh sendiri, rasanya sumpek sekali," balas Diena, bicara panjang lebar.
Dan Hanzo tidak menanggapi ucapan itu, ternyata yang dirasakan oleh Diena adalah sesuatu yang tidak penting.
Apa salahnya tuan Zeon memeluk pinggang istrinya sendiri. Jika memeluk pinggang mu baru aneh. Batin Hanzo.
Tapi dia yang malas basa basi pilih diam saja, langsung melangkahkan kaki lebar untuk segera mengimbangi jalan Tuan dan Nyonyanya.
Masuk ke dalam mansion, mereka juga langsung disambut oleh gonggongan Dom. Syeran yang kaget langsung memeluk lengan sang suami.
"Jangan takut, Dom lah yang sudah menemukan mu di hutan," kata Zeon.
"Apa iya?"
__ADS_1
"Iya." jawab Zeon. Melihat sang istri yang merasa ketakutan, Zeon langsung menggendong istrinya tersebut, digendong ala bridal style untuk masuk ke dalam kamar.
Diena di belakang lagi-lagi geleng kepala, dia kira tuan Zeon akan marah besar pada Nyonya Syeran karena peristiwa keguguran tersebut. tapi apa yang dia lihat sekarang justru kebalikannya.
Tuan Zeon malah nampak semakin menyayangi sang istri.
Aku tidak habis pikir. Batin Diena.
Langkah Diena dan Hanzo terhenti saat tuan Zeon menutup pintu kamarnya. Di dalam sana Zeon langsung membaringkan sang istri di atas ranjang. "Kata dokter kamu harus banyak istirahat," ucap Zeon.
Syeran yang hari ini ingin tidur terus pun setuju-setuju saja dengan ucapan sang suami.
Namun perhatian mereka sama-sama terpecah karena terus mendengar suara Dom yang menggonggong. "Sepertinya aku harus keluar, Hanzo tidak akan bisa menenangkan Dom," ucap Zeon.
Zeon tidak langsung menjawab, dia lebih menatap sang istri lekat. "Benar mau ikut? tidak takut dengan Dom?"
"Katanya Dom yang menemukan aku, dia juga tidak mengigit ku kan? aku ingin mengucapkan terima kasih," jawab Syeran kemudian.
Mendengar itu Zeon tersenyum. Dom telah dia rawat sejak kecil, diantara Dom dan Syeran bukanlah pilihan bagi Zeon.
__ADS_1
Jika keduanya saling tak nyaman satu sama lain Zeon hanya perlu memisahkan mereka, tapi jika Syeran sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan seperti ini tentu saja Zeon akan merasa sangat bahagia.
"Baiklah, ayo kita temui Dom. Kamu yang akan memberinya makan," ucap Zeon dengan terkekeh.
"Ya tidak begitu juga, sayang yang kasih makan, aku cuma lihaaat," rengek Syeran, meski mau ikut tapi dia tetap saja takut.
Wajah Dom yang mengerikan membuatnya selalu tak merasa aman. Jika saja Dom berwarna putih, mungkin Syeran tidak akan setakut ini.
Zeon lantas membantu sang istri untuk turun, "Mau digendong?"
"Tidak, jalan saja," jawab Syeran.
Sebelum keluar dari dalam kamar itu, Zeon lebih dulu menyesap bibir istrinya dengan lembut, seperti mengambil semua ketakutan yang dirasakan oleh Syeran.
Ketika keluar dari dalam kamar, Syeran tidak takut lagi. Justru kedua pipinya merah merona.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Visual lengkapnya di IG author ya : @authorlunoxs