The Magical My Wife

The Magical My Wife
TMMW Bab 70 - Tidak Bisa Bermain Dengan Lembut


__ADS_3

1 minggu telah berlalu.


Beberapa hari kemarin seluruh keluarga Erland datang berkunjung untuk menjenguk Syeran.


Betrand, Albert dan Serafina memeluk Syeran dengan erat. Meski Zeon merasa cemburu tapi tetap dia biarkan. Apalagi saat dilihatnya sang istri yang begitu tulus pada anak-anak itu.


Zeon tak ingin kalap mata, tak ingin kembali menyakiti sang istri.


Tiap kali dia merasa kesal, Zeon hanya akan meluapkannya dengan cara berburu, meninju samsak, ataupun yang lainnya lagi, yang jelas pada hal lain, bukan Syeran.


Zeon hanya menunjukkan cinta untuk sang istri, cinta yang selama ini tidak pernah dia berikan pada siapapun kini seluruhnya dia serahkan pada Syeran.


Sampai semua pelayan di mansion tersebut merasa heran.


Bukan hanya heran, saking cintanya tuan Zeon pada nyonya Syeran, kini para pelayan jadi lebih takut pada sang Nyonya.


Karena jika sang Nyonya terluka sedikit saja, maka kepala mereka yang akan di penggal.

__ADS_1


"Nyonya, maafkan sikapku selama ini ya, aku sering bersikap lancang," pinta Diena, dia membawa irisan buah ke ruang tengah dan menyajikannya untuk sang Nyonya.


"Baguslah kalau kamu sadar diri, mulai sekarang jaga sikapmu. Jangan juga memandang intens pada suamiku!" balas Syeran ketus. Meski menerima permintaan maaf bukan berarti membuatnya melemah, dia tetap harus siaga pada Diena.


"Baik Nyonya, maafkan aku sekali lagi," balas Diena, meski bibirnya sedikit mencebik tapi dia benar-benar tulus saat mengucapkan kata maaf itu. Di mansion ini Diena memang 100 persen bekerja, patuh pada sang Tuan.


Diena kira tuan Zeon tidak benar-benar mencintai Nyonya Syeran, ternyata dia salah. Ternyata tuan Zeon justru telah jadi budak cinta sang Nyonya.


"Ran," panggil Zeon yang tiba-tiba datang.


Diena sontak menunduk tak berani menatap sang Tuan, dia juga mundur dan pergi dari sana. Terlalu lama menunduk tidak sadar jika dihadapannya ada asisten Hanzo, mereka jadi saling tabrak dengan romantis.


"Hati-hati," ucap asisten Hanzo dengan suaranya yang datar.


"Aku sudah hati-hati, asisten Hanzo yang tidak mau minggir," balas Diena, tidak mau salah.


Hanzo tidak menjawab lagi, hanya menatap semakin tajam. Diena yang takut buru-buru menundukkan kepalanya memberi hormat dan pergi dari sana.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" balas Syeran, menyahut panggilan sang suami.


"Bersiaplah, dokter Emma sebentar lagi akan datang."


"Dokter Emma? kenapa dokter Emma datang? memangnya mau periksa kehamilan? aku kan sudah keguguran, terus kita juga belum anu-anu lagi, aku tidak mungkin hamil," jelas Syeran panjang lebar, dia bahkan memasang wajah yang serius.


Membuat Zeon langsung terkekeh. Pria itu segera duduk di samping sang istri dan memeluk pinggang Syeran. "Bukan periksa kehamilan sayang, tapi periksa apakah kamu sudah siap atau belum," jawab Zeon.


"Siap untuk apa?"


"Untuk membuat anak," balas Zeon gamblang, tanpa tendeng aling-aling.


Dan sontak membuat kedua pipi Syeran jadi merah merona. "Kenapa seperti itu saja harus panggil dokter Emma, aku ... aku sudah siap kok," ucap Syeran malu-malu.


Sumpah, Zeon rasanya ingin memakan Syeran saat ini juga. Gemas yang tak terkira.


"Tidak, aku tidak mau menyakiti kamu, karena aku tidak bisa bermain dengan lembut. Jadi nanti kita tanyakan pada dokter Emma. Ya?"

__ADS_1


Syeran mengangguk meski malu-malu, "Iya," jawab Syeran patuh.


__ADS_2