
"Kenapa harus ada kata Jika, jadi Tuan sebenarnya mencintai aku atau tidak?" balas Syeran. Makin mencebik bibirnya setelah mendengar ucapan suaminya tersebut, dia selalu saja diletakkan di posisi yang tidak jelas.
Dan mendengar pertanyaan Syeran, Zeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menggaruk dengan kasar. Bukan Syeran namanya jika tidak membuat kepalanya pusing.
"Entahlah," balas Zeon ketus, bahkan mengusap wajah sang istri dengan kasar.
"Iihh!! kalau begitu ayo buat surat kontrak pernikahan lagi!" rengek Syeran.
Zeon tak langsung menjawab, dia lebih dulu bangkit dari duduknya dan menuju lemari pakaian untuk mengambil baju. "Katakan dulu, Apa yang sebenarnya sangat kamu inginkan sampai harus membuat surat kontrak itu lagi? Ingin bebas? ingin menemui siapapun? memangnya siapa yang mau kamu temui? hah?" tanya Zeon.
Aku ingin menemui anak-anakku. Balas Syeran, Tapi tentu saja hanya mampu dia ucapkan di dalam hati. Tak mungkin bicara seperti itu, karena tuan Zeon pasti akan menganggapnya gila.
pada akhirnya Syeran hanya terdiam dengan bibir yang mencebik, dia duduk di atas ranjang itu dengan memegangi selimut, memperhatikan suaminya yang sibuk sendiri.
__ADS_1
"Mau mandi sendiri atau aku mandikan?" tanya Zeon, kini dia telah memakai baju dan malah membahas tentang hal lain. Tidak ingin membicarakan tentang surat kontrak itu. Itu adalah pembahasan yang paling tidak penting baginya.
"Tuaaan," rengek Syeran.
"Mau ku mandikan? baiklah," jawab Zeon.
Syeran yang kesal berulang kali memukul ranjang. Namun dia hanya bisa pasrah saat sang suami menarik selimut itu lalu menggendongnya, membawa Syeran masuk ke dalam kamar mandi.
Syeran yang kesal sampai tidak sadar jika pagi itu Zeon sebenarnya bersikap sangat lembut kepada dia. Tapi karena sedang marah, yang terlihat hanyalah sisi yang menyebalkan.
"Aku tidak mau sarapan, Tuan makan saja sendiri!"
"Jangan membuatku marah, Ran."
__ADS_1
Hentikan waktu. Batin Syeran, dia bahkan langsung memukul lengan sang suami untuk menunjukkan kekesalannya. Di pukul cukup kuat, untunglah pria itu sudah mematung.
"Bilang cinta tidak mau, tapi buat surat kontrak lagi juga tidak mau. Egois!" kesal Syeran.
Di bangkit dari duduknya dan langsung menuju ranjang, pilih membaringkan tubuhnya lagi di sana. Malas mau melakukan apapun, meski hanya sekedar untuk makan, Syeran tak berselera.
Puas dalam kesendirian barulah Syeran membuat waktu kembali berjalan. Zeon yang tak melihat sang istri di hadapannya langsung gelagapan, untunglah dia segera melihat Syeran yang berbaring di atas ranjang. "Astaga, Syeran!" geram Zeon.
"Harusnya aku yang marah! bukan Tuan!" balas Syeran.
"Apa kamu menyukai pria itu? Hah? si Erland itu? iya? katakan!" tuntut Zeon, tiba-tiba mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang membuat Syeran seketika tercengang.
"Tu-tuan jangan asal bicara, a-aku tidak mungkin menyukai dia!" balas Syeran tak kalah tinggi suaranya, Erland adalah raja Lorry, dan sampai kapan pun dia tak akan kembali pada pria itu.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu terus saja meributkan soal kontrak nikah! tidak mungkin tanpa alasan yang jelas. jika ingin bebas aku sudah membebaskan mu, jika ada yang ingin kamu temui katakan? ayo kita temui berdua!"
Syeran terpojok, dia kehabisan kata-kata, bagaimana cara dia menjelaskan semuanya.