
Puas memeluk dan menciumi semua anaknya, Syeran akhirnya menghapus air mata. Kembali Dia tatap semua keluarganya dengan nafas yang sudah sesenggukan.
"Itu artinya takdirku sudah berubah, tapi kenapa jadi seperti ini?" gumam Syeran, campur aduk yang dia rasakan saat ini. Senang, sedih, bingung, entahlah.
Meski masih merasa takut namun Syeran coba melihat ke arah Raja Lorry, tidak, dia bukan Raja Lorry, tapi dia adalah tuan Erland. Pria dengan tatapan tajam namun terlihat sendu sekaligus. Syeran melihat lebih ke belakang, apakah ada dia juga di balik pria itu. Tapi ternyata tidak ada.
"Aku harus menyelidiki semuanya, mama sangat menyayangi kalian semua Nak, sangat. Maafkan mama di masa lalu, mama bodoh dan meninggalkan kalian."
Syeran kembali menata hatinya yang berantakan, setelah cukup tenang dan semua air mata kering akhirnya dia kembali menjalankan waktu.
"Selamat malam Nyonya Syeran, senang bertemu dengan Anda," ucap Erland, dia juga mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat dan Syeran menerima itu.
Erland tersenyum kecil saat merasakan tangan wanita ini begitu dingin, menandakan hati yang gugup dan takut.
Wajah istri Zeon mengingatkannya pada mending sang istri. Itulah kenapa Erland berani mengirimkan hadiah sepatu.
__ADS_1
Melihat Erland yang menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat, Zeon segera memutus jabat tangan itu dan mengajak semua orang untuk segera menikmati acara yang telah dia buat.
Saat makan malam berlangsung pandangan Syeran tak lepas dari anak-anaknya, bersyukur ketiga anaknya makan dengan lahap dan terlihat bahagia. Tak nampak raut wajah yang penuh dengan putus asa.
Sepertinya tuan Erland memperlakukan mereka dengan baik, tapi dimana ibu mereka? apa tidak diajak ketika menghadiri acara seperti ini?
Syeran sungguh penasaran, dia ingin bertanya pada sang suami. Tapi saat Syeran menoleh ke arah tuan Zeon, dia malah melihat tuan Zeon yang langsung membalas tatapannya dengan wajah dingin.
Ish, tuan Zeon pasti tidak mau menjawab pertanyaanku. Batin Syeran.
Syeran mundur sedikit untuk menemui Diena. Mungkin pelayannya itu mengetahui tentang apa yang ingin dia ketahui saat ini.
"Diena, Apa kamu tahu kenapa tuan Erland datang sendirian? Kenapa dia tidak mengajak istrinya?" tanya Syeran beruntun.
"Istrinya sudah meninggal Nyonya, tepat di hari pernikahan Anda dan tuan Zeon, karena itulah dia tidak bisa menghadiri pernikahan kalian," jawab Diena apa adanya, hingga membuat Syeran menelan ludahnya dengan kasar.
__ADS_1
Haduh, mengerikan sekali. Batin Syeran, dia benar-benar merasa merinding dengan takdir yang sedang dijalaninya saat ini.
"Memangnya kenapa Nyonya? tuan Erland sangat tampan bukan?" balas Deina pula, tapi Syeran justru tidak menanggapi pertanyaannya itu. Malah langsung pergi meninggalkan dia begitu saja.
"Hih! datang kalau ada perlunya saja!" kesal Diena.
Syeran kembali ikut berkumpul bersama semua orang tapi kali ini dia tidak duduk di samping sang suami, Syeran pilih untuk bergabung dengan para anak-anak.
"Tante, Tante sangat mirip seperti ibuku," ucap Serafina, anak ketiga Erland.
"Benarkah? kalau begitu peluklah Tante," jawab Syeran. Ternyata nama anak ini berbeda dengan nama anaknya di masa lalu.
Memeluk dalam keadaan sadar seperti ini membuat hati Syeran terasa sangat hangat.
Nyatanya kasih sayang itu tidak berubah, dia tetap sangat-sangat menyayangi Serafina.
__ADS_1
Zeon di ujung sana menatap tajam! dia tak suka kedekatan Syeran degan anak itu.