
Syeran yang telah hilang dari kamarnya dan tak terlihat dimanapun membuat seisi mansion bingung.
Belum lagi jika ingat wajah tuan Zeon yang nampak marah.
Membuat semua orang jadi tidak tenang.
Diena sudah gelisah sejak semalam.
Dan pagi-pagi buta asisten Hanzo pun sudah tiba di mansion untuk menanyakan tentang kejelasan ini semua.
"Apa mungkin nona Syeran ada di dalam kamar Tuan Zeon?" tanya Hanzo.
Diena langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Tidak mungkin, tidak ada wanita yang diizinkan masuk ke dalam sana," balas Diena yakin.
Dia bisa menjawab seperti itu karena Diena telah cukup lama bekerja dengan tuan Zeon dan tidak ada satu pun wanita yang berhasil masuk ke dalam sana.
Beberapa wanita rekan kerja Tuan Zeon yang berusaha mendekati sang Tuan pun tercampakkan dengan mudah. Itulah kenapa saat menikah Tuan Zeon membuat surat kontrak.
Mengurung istrinya di lantai 3.
Tapi sekarang istrinya itu tidak ada di sana dan entah kemana.
Namun mereka pun tidak bisa memastikan keyakinan Diena tersebut, pasalnya di dalam kamar Tuan Zeon tak ada CCTV yang terpasang, kamar itu memiliki sistem keamanannya sendiri. Tidak terhubung dengan CCTV seluruh rumah yang selalu diawali oleh penjaga.
__ADS_1
Karena itulah kini mereka makin bingung.
Hingga jam 7 pagi, Tuan Zeon belum juga keluar dari dalam kamarnya. Hanzo, Diena dan 3 penjaga yang lain berdiri di depan pintu itu menunggu sang Tuan untuk keluar.
Dom sang anjing pun sudah menunggu di depan pintu juga, hari ini adalah jadwalnya dengan sang Tuan berburu di hutan.
Mansion di tengah-tengah perbukitan ini benar-benar jadi wahana yang menyenangkan untuk anjing tersebut.
Harusnya mereka sudah pergi sejak tadi, tapi entah kenapa hingga kini sang Tuan tak menunjukkan batang hidungnya.
Sesekali Dom menggonggong, merasa kecewa.
Namun tidak ada seorang pun yang berani menghentikan anjing itu, jika ada yang berani menyentuhnya maka Dom tak akan segan untuk mengigit.
Yang boleh menyentuh dia hanyalah Tuan Zeon.
Hanzo dan Diena sontak menatap ke arah sana, sementara Dom makin menggonggong tidak sabar bertemu dengan sang Tuan.
Namun ketika sang Tuan sudah menampakkan diri, gongongan Dom malah makin jadi seolah marah, sementara semua sudah mendelik tak percaya.
Melihat Nona Syeran yang bergelayut manja di lengan kanan sang Tuan seperti benalu.
"Dom! Stop!" titah Zeon.
Syeran yang ketakutan masih memeluk lengan suaminya erat.
__ADS_1
Dan Dom langsung terdiam namun dengan nafas yang terengah.
Pagi itu Syeran hanya mengenakan baju hoodie milik tuan Zeon, bajunya semalam sudah kotor dan di kamar ini tidak ada baju wanita. Karena itulah dia hanya menggunakan hoodie saja.
Karena Syeran mungil, hoodie itu mampu menutupi separuh tubuhnya, dengan panjang di atas lutut.
Diena yang menghapal semua baju milik sang Tuan begitu tercengang saat melihat nona Syeran memakai baju tersebut.
Sumpah, dia tidak percaya dengan pemandangan ini.
"Kenapa berkumpul di sini?" tanya Zeon, menatap dingin seperti biasanya.
Dan melihat semuanya nampak baik-baik saja, Hanzo jadi tidak mempermasalahkan tentang semalam.
"Maaf Tuan, kami hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja," balas Hanzo.
Diena sudah kehilangan semua kata-katanya.
Dan makin mendelik saat melihat Syeran berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga sang Tuan, entah membisikkan apa.
"Ayo cepat ke kamar ku, aku sudah tidak nyaman menggunakan hoodie ini," bisik Syeran, karena sebenarnya dia pun tidak memakai dallaman.
Zeon hanya menanggapi bisikan itu dengan lirikkan. Entah dia sebut apa wanita yang bergelayut di lengannya ini.
Syeran yang pollos.
__ADS_1
Atau Syeran yang nakal.
Semakin Syeran memeluk erat dia, semakin Zeon merasakan dua gundukan sintal itu dengan jelas.