
Setelah Syeran tenang dan percaya tentang cintanya yang tak main-main, barulah Zeon ceritakan kondisi yang sebenarnya tentang Syeran.
Tentang sang istri yang mengalami keguguran.
"Ran, kamu ingat saat kamu tergelincir kan?" tanya Zeon.
Syeran mengangguk kecil, kini dia telah berada di dalam dekapan sang suami. Zeon dan Syeran sudah sama-sama berbaring di ranjang itu, saling memeluk erat.
"Jatuh itu membuat kamu keguguran anak kita," kata Zeon lagi.
Deg! Syeran tentu sangat terkejut ketika mendengar kalimat tersebut, dia bahkan langsung mendongak dan menatap sang suami lekat. Pantaslah sejak tadi tubuhnya terasa tak nyaman, namun dia tahan karena tak ingin membuat tuan Zeon cemas.
"Jangan bohong," kata Syeran, "Aku yakin anak kita masih baik-baik saja. meski sekarang perutku sakit tapi aku yakin dia masih bertahan." jelas Syeran dengan suara menggebu.
Dan Zeon coba menenangkan sang istri dengan cara mengelus puncak kepala Syeran dengan lembut, dia elus terus namun malah membuat Syeran menangis lagi.
__ADS_1
"Tuan bohong kan?" tanya Syeran lirih.
"Hanzo!" panggil Zeon. daripada menjawab pertanyaan itu, Zeon justru memanggil sang asisten untuk segera masuk ke dalam ruangan ini.
"Panggil dokter itu kemari, biar dia jelaskan langsung kepada istriku," titah Zeon.
Syeran makin menangis tersedu, namun Zeon harus melakukan hal ini agar Syeran berhenti berharap. memang faktanya bahwa anak mereka telah tiada.
"Benar Nyonya, ada mengalami keguguran," jelas sang dokter, ketika dia sudah menghadap pada sepasang suami istri tersebut.
Bukan hanya mengatakan tentang hal itu, sang dokter pun mengatakan juga bahwa Syeran masih memiliki kesempatan untuk hamil lagi, jadi jangan terlalu terpuruk dengan keadaan ini.
Bahkan setelah sang dokter keluar, Syeran masih saja menangis tersedu.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak bisa menjaga anak kita. Tu-tuan pasti marah besar padaku," kata Syeran, nafasnya sudah sesenggukan ketika bicara.
__ADS_1
Meski kedua tangannya terus bergerak untuk menghapus air mata itu, nyatanya tetap saja ada air mata baru yang jatuh.
"Ran, sudah ... jangan menangis lagi. Akulah yang salah dalam keadaan ini," balas Zeon, akhirnya dia rela menyalahkan diri sendiri untuk membuat sang istri tak merasa bersalah.
Selama ini mana pernah Zeon bersikap seperti itu, yang ada dia selalu menyalahkan semua orang bahkan untuk kesalahannya sendiri.
"Pertama, aku selalu menuntut mu untuk segera memiliki keturunan ku. Tanpa aku peduli bagaimana dengan perasaan mu," ucap Zeon. "Kedua, aku tidak pernah benar-benar memperlakukanmu dengan baik, mencintai layaknya kamu sebagai istriku."
Syeran masih sesenggukan, namun dia coba mendengarkan baik-baik ucapan sang suami.
"Apa yang terjadi pada mu sekarang adalah hukuman untukku. Aku tak akan bisa mendapatkan apa yang aku inginkan dengan keegoisan ini." terang Zeon lagi.
Syeran masih terdiam, namun lambat laun tangisnya pun mereda. kata-kata sang suami berhasil membuat hatinya yang dingin jadi terasa lebih hangat. Dia tidak sendirian dalam keadaan terpuruk seperti ini.
Tuan Zeon tetap memeluknya meski dia tak lagi mengandung anak pria tersebut.
__ADS_1
"Maafkan aku Ran, maafkan aku," kata Zeon. Akhirnya kata keramat itu keluar dari dalam mulutnya.
Pria yang selama ini tak pernah mengucapkan kata maaf, kini akhirnya terucap, bahkan langsung 2 sekaligus.