
"Tuan," panggil Syeran saat tengah malam.
"Sayang Ran, bukan Tuan," balas Zeon. "Kenapa? kamu haus?" tanya Zeon pula.
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Aku tidak bisa tidur jika tangan Sayang tidak bisa diam, aku geli," gerutu Syeran. Entah apa saja yang dilakukan oleh sang suami pada tubuhnya, kadang mengelus perut, kadang mengelus kedua dadda secara bergilir, Syeran bahkan dilarang menggunakan Bra untuk melancarkan aksinya.
Kadang Syeran bahkan merasa suaminya itu pun menyusu, lalu memeluk erat. Ada saja hingga membuat Syeran tidak tenang.
Jika seperti ini rasanya dia pilih saja Tua Zeon yang acuh, karena setelah mengatakan cinta kini tingkat kemesyuman sang suami jadi bertambah berkali-kali lipat.
"Maaf sayang, tidurlah, aku tidak akan menganggu mu lagi," balas Zeon.
"Kata dokter setidaknya tahan sampai seminggu!" jelas Syeran, suaranya penuh dengan perintah.
__ADS_1
"Iya iya, aku juga tadi dengar kok." sahut pria mesyum tersebut.
Syeran mencebik, dia kembali menurunkan bajunya dan coba kembali memejamkan mata. Sekarang sudah jam 1 dini hari dan dia belum mendapatkan tidur yang nyenyak.
Saat sang istri mulai memejamkan mata, Zeon pun bergerak sedikit untuk membenahi posisinya agar lebih nyaman. Dia tidak ikut tidur, justru terus terjaga dan menatap lekat wajah sang istri.
Satu tangannya mengelus pipi Syeran dengan lembut, terus seperti itu sampai Zeon bisa mendengar deru nafas Syeran yang teratur, menandakan jika sang istri telah tidur.
Zeon melihat jam di dinding dan waktu menunjukkan angka setengah 2 malam, elusan tangan Zeon di pipi kini pindah ke bibir, dia elus lembut bibir itu sebelum menciumnya dengan penuh cinta.
"Cukup Zeon, jangan ganggu Syeran," ucap Zeon, bicara pada dirinya sendiri.
Saat pagi datang, Syeran adalah yang lebih dulu membuka mata dan alangkah terkejutnya dia ketika tangan sang suami sudah bersemayam di bagian inti tubuhnya.
"Tuan!" pekik Syeran, reflek kembali memanggil Tuan saking terkejutnya.
Zeon yang kaget bangun juga, bahkan semakin menyentuh inti tubuh sang istri. "Tuan! itu tangannya!" rengek Syeran. Begini saja dia sudah merasa basah di bawah sana.
__ADS_1
Hanzo yang kaget karena mendengar teriakan sang Nyonya pun langsung masuk ke dalam kamar itu. Pintu yang terbuka dengan cepat makin membuat Syeran gelagapan.
"Hya! Hentikan waktu!!" pekik Syeran, dia malu, sangat malu, seperti tiba-tiba digerebek saat sedang berbuat mesyum.
Hanzo seketika mematung di tempatnya berdiri, lengkap dengan wajahnya yang nampak cemas.
Dan Syeran makin berteriak saat melihat sang suami tidak menjadi patung, malah justru berkedip dan menatap ke arahnya.
"Tu-tuan," ucap Syeran gagap, kaget dan bingung juga.
Zeon menelan ludahnya dengan kasar, bagaimana bisa Hanzo seketika menjadi patung? bagaimana bisa tiba-tiba jam berhenti berputar. Semua berhenti bergerak dan hanya Syeran dan dia yang nampak masih hidup.
"Tu-tuan," panggil Syeran sekali lagi, dia tau sang suami sedang syok dan sangat terkejut.
"Apa ini Ran? bagaimana bisa Hanzo tiba-tiba diam seperti itu?" tanya Zeon, tak habis pikir. Dia bahkan tanpa sadar menarik tangannya keluar dari dalam gaun sang istri, hingga Syeran bisa bernafas lega.
Zeon turun dari atas ranjang dan keluar untuk memeriksa keadaan, dan ternyata bukan hanya Hanzo yang mematung. Tapi semua orang, semua benda, semua alat, semaunya berhenti.
__ADS_1
Dalam keadaan bingung dan takjub dia menghadap pada sang istri, "Jadi disaat seperti ini kamu pergi dariku?" tanya Zeon.