The Magical My Wife

The Magical My Wife
TMMW Bab 39 - Diguyur Hujan


__ADS_3

Zeon akhirnya hari ini pergi ke perusahaan, MegaTez Corporation. Perusahaan di bidang properti terbesar di kota Servo.


Pemilik beberapa apartemen termewah di kota ini, pusat perbelanjaan ternama, hotel bintang 5 dan perkantoran elit yang disewakan untuk umum.


Nama besar Megatez mampu memberikan pengaruh besar pada dunia bisnis termasuk pada para penyewa. Jadi meski perusahaan Megatez membanderol harga sewa tinggi tidak akan membuat mereka rugi karena penghasilannya akan setimpal dengan harga tersebut.


Zeon memang tidak membangun bisnis itu dari kecil, namun kini dia adalah pemiliknya, menjabat pula sebagai CEO agar posisi itu tidak diisi oleh orang-orang yang serakah.


Zeon datang pagi sekali, setelah dia memberikan pelajaran pada dua tikus yang telah menggerogoti uang perusahaannya.


Datang dengan tiba-tiba seperti ini tentu membuat semua orang terkejut, para karyawan di kantor pusat seperti hendak di sidak dadakan.


Beberapa orang yang belum tiba di kantor dan mendapatkan kabar tentang kedatangan sang Bos langsung kocar kacir, melakukan segala cara untuk bisa segera tiba di perusahaan.


Saat Zeon berjalan, para karyawannya segera menunduk begitu dalam, memberikan hormat yang paling tinggi.


Semuanya merasa begitu takut, hari-hari tanpa kedatangan tuan Zeon adalah hari-hari yang melegakan bagi mereka semua.


Hanzo lantas menekan tombol lift khusus eksekutif dan tuan Zeon masuk, menuju lantai 10 dimana ruangan CEO berada.


"Astaga, aku takut sekali," ucap seorang karyawan wanita setelah pintu lift itu tertutup. Apalagi sang Boss datang dengan penampilannya yang seperti biasa, tidak terlihat seperti seorang CEO, melainkan terlihat seperti seorang Mafia. Pakaian serba hitam namun bukan jas. Rambutnya pun dipotong asal-asalan bukan yang disisir rapi.

__ADS_1


Pria itu memiliki auranya sendiri, tampan namun mengerikan.


"Aku juga takut, tuan Zeon datang pasti karena kabar tentang pak Johan dan pak Erick," jawab yang lain dan semua orang mengangguk setuju.


Korupsi yang dilakukan oleh kedua orang itu bukanlah dalam jumlah sedikit, tapi keduanya seolah tengah berusaha menguasai salah satu bidang bisnis perusahaan ini.


Sejak kemarin dua orang itu pun menghilang entah ke mana, dan sekarang tuan Zeon datang ke perusahaan.


Hawa jadi terasa sangat mencekam.


"Tuan, nyonya Syeran menelpon," ucap Hanzo, saat mereka baru saja keluar dari dalam lift.


Zeon yang sejak tadi diselimuti api amarah kini seperti diguyur hujan ketika mendengar nama wanita itu. Zeon bahkan membuang nafasnya perlahan karena di dalam benaknya langsung terbayang Syeran yang merengek.


"Nona Syeran menggunakan ponsel Diena," ucap Hanzo lagi.


"Berikan padaku," jawab Zeon, dia lantas menerima ponsel Hanzo dan menjawab panggilan telepon itu.


"Syeran," panggil Zeon.


"Kenapa pergi tidak bilang-bilang padaku? kamu dimana? aku sendirian," rengek Syeran.

__ADS_1


Apanya yang sendirian, di mansion itu banyak orang. Bahkan aku yakin saat ini disampingmu ada Diena. Batin Zeon.


"Aku mau video call!" kata Syeran lagi. Bahkan langsung mengubah mode panggilan telepon itu.


"Astaga!" Zeon terkejut, seumur-umur dia tidak pernah terhubung dengan panggilan video call seperti ini, bahkan dengan adiknya sendiri yang saat ini berada jauh darinya.


Zeon lantas menjawab panggilan video call itu tapi kameranya diarahkan ke belakang.


"Suamiku, dimana wajahmu?" tanya Syeran.


Zeon tidak menjawab, dia malah menatapi wajah Syeran di layar ponselnya. Lalu mengeram frustasi saat Syeran masih menggunakan lingerie semalam.


"Masuk ke dalam kamar mu, jangan berkeliaran dengan penampilan seperti itu."


"Aku tadi sangat terkejut, jadi tidak sadar langsung lari keluar," jawab Syeran jujur.


Sebuah jawaban yang membuat Zeon kini membuang nafasnya kasar, Syeran benar-benar seperti seorang bayi.


Apa-apa harus dia jelaskan secara rinci, jika tidak akan seperti ini? Syeran sampai lupa dengan dirinya sendiri dan hanya memikirkan tentangnya.


Zeon benci dengan semua kepolosan wanita itu, membuat hatinya tak nyaman.

__ADS_1


"Jam makan siang aku pulang, mandilah," kata Zeon, lalu memutus sambungan telepon tersebut.


__ADS_2