
"Aku pergi," kata Zeon, karena Syeran hanya diam saja dan tidak mengatakan dengan jelas apa maksud dan tujuannya menahan kepergian dia seperti ini.
Zeon mana bisa menebak pikiran wanita itu, daripada harus menebak-nebak sesuatu yang tidak jelas lebih baik Zeon pergi saja.
Dan kali ini Syeran tidak bisa menahannya lagi, jadi tanpa adanya ciuman perpisahan mereka pun akhirnya berpisah.
Huh! Syeran membuang nafasnya kesal. Masa untuk hal sekecil ini saja sang suami tidak paham.
Dan tak lama setelah Zeon keluar dari dalam kamar itu, Diena pun masuk.
Mereka bertemu di saat Syeran baru saja mengganti bajunya.
"Apa asisten Hanzo ikut pergi dengan suamiku dan Dom?" tanya Syeran, langsung bertanya seperti itu ketika melihat kedatangan Diena.
Namun mendengar pertanyaan itu Diena tidak langsung menjawabnya, dia tersenyum miring merasa lucu dengan panggilan yang disebutkan oleh nona Syeran.
Apa katanya? suamiku? astaga, aku saja merasa geli ketika mendengarnya. Jika Tuan Zeon sampai mendengar panggilan itu kurasa beliau akan muntah. Batin Diena.
__ADS_1
"Tentu saja, asisten Hanzo ikut pergi bersama mereka. Kalau sudah selesai ganti bajunya ayo sarapan," balas Diena.
Syeran mengangguk dengan antusias, namun sebelum benar-benar keluar dari dalam kamar tersebut, Syeran lebih dulu mengambil surat kontrak pernikahan yang dia simpan di dalam lemari.
Lalu menyerahkannya kepada sang pelayan pribadi, "Bakar saja surat kontrak ini, sudah tidak berlaku," kata Syeran dengan bangganya, dia bahagia sekali karena berhasil mengatakan kalimat itu di hadapan Deina, seolah mematahkan semua ucapan Deina tentang dia yang hanya jadi istri kontrak.
Sebenarnya dia ingin Diena dan Hanzo yang membakarnya, tapi ternyata Hanzo malah pergi. Ya sudah, Diena saja juga sudah cukup.
"Apa-apaan ini? Anda jangan asal bicara," balas Diena, dia bahkan enggan menerima surat kontrak itu, tapi Syeran memaksa, Syeran menarik tangan kanan Diena dan meletakkan surat itu di sana.
"Tidak usah terlalu kaget, jika tidak percaya telepon lah suamiku," balas Syeran, ceria sekali suaranya ketika menjawab.
Tanpa menunggu Diena datang, Syeran langsung menyantap makanannya.
Syeran memang merasa sangat lapar, pertempurannya dengan sang suami semalam membuat tenaganya habis.
Diena yang tak terima dengan kata-kata sang Nona pun segera menyusul, di hadapan wanita itu Diena coba menghubungi asisten Hanzo.
__ADS_1
Dia yakin asisten Hanzo akan membantah semua ucapan nona Syeran, tidak mungkin surat kontrak ini sudah tidak berlaku lagi.
"Halo asisten Hanzo, maaf mengganggu waktu anda tapi ada sesuatu hal yang ingin aku pastikan," ucap Deina setelah panggilan teleponnya terhubung. Dia juga melirik nona Syeran sekilas, melihat wanita itu yang makan dengan lahap. Di leher nona Syeran juga penuh dengan tanda merah yang menarik perhatian.
Diena lantas mengatur panggilan telepon itu dengan mode loudspeaker, jadi nona Syeran pun akan mendengar dengan jelas bantahan asisten Hanzo.
"Ada apa? aku masih mengemudi," jawab Hanzo.
"Nona Syeran memerintahkan aku untuk membakar surat kontrak pernikahannya dengan tuan _"
"Bakar saja, kontrak itu memang sudah tidak berlaku lagi," balas Hanzo cepat, bahkan sebelum Diena menyelesaikan ucapannya.
Tapi tentang pembatalan surat kontrak itu memang sudah dia dengar secara jelas dari tuan Zeon sebelum mereka semua pergi ke hutan.
Syeran makin tersenyum lebar saat mendengar jawaban Hanzo, dia tanpa sadar menjulurkan lidahnya kecil pada Diena.
Diena yang wajahnya saat ini terlihat jelas jika sedang kesal.
__ADS_1
Tapi sungguh, Syeran tidak peduli.
"Setelah ini aku akan turun ke lantai 1, menunggu suamiku pulang," ucap Syeran.