
Arnette melihat Kaizen yang tengah bermain sambil memikirkan kemungkinan yang ada, tidak mungkin anak sekecil itu bisa menusuk jantung iblis.
"Paling tidak dia harus berumur lima tahun, bukan?" gumam Arnette. Dia berpikir setidaknya anaknya harus bisa bicara.
Namun, apakah wilayahnya akan mampu menahan serangan monster selama itu?
"Sepertinya aku harus cepat kembali," lanjut Arnette. Dia harus membicarakan masalah ini pada Simon.
Hari itu, Arnette mencoba memanggil Simon di kamarnya dan Tini sudah mengawasi gerak-gerik istri bestienya itu.
"Apa yang dia lakukan kali ini? Hii.. Hii.. Hii.." batin Tini. Dia harus memberitahu Agam walaupun dia tengah mode ngambek.
Simon datang lalu membawa Arnette ke rumahnya karena mereka harus membicarakan sesuatu yang penting.
"Agam sudah curiga, kemarin dia menjebakku dan menangkapku," ungkap Simon.
"Benarkah? Kalau dia tahu apa rencanaku, pasti semua akan kacau," balas Arnette.
"Aku sudah membuat anak berkali-kali, bukankah itu sudah cukup?"
Simon menggelengkan kepalanya, dia bingung harus menanggapi bagaimana. "Aku bukan dokter kandungan tapi kalau kau subur seharusnya bibitnya sedang tumbuh!"
Mendengar itu, refleks Arnette mengusap perutnya.
Awalnya Arnette hanya ingin mencari anak yang bisa menusuk jantung iblis tapi ternyata dia sekaligus akan menjadi ibu.
"Kemampuanku belum bisa menembus dimensimu, aku harap semua sesuai dengan rencanamu," tambah Simon.
...***...
__ADS_1
"Eh, Mas Agam sudah pulang," tegur Zester ketika melihat adik iparnya baru pulang sekolah.
Agam memicingkan mata karena tahu kalau kakak iparnya itu tengah menggodanya.
"Jadi, bagaimana rasanya hilang perjaka saat sekolah?"
"Apa kau sudah berhasil membuat panas istrimu?"
Zester terus menggoda Agam seraya merangkul pundak pemuda itu. "Aku sudah melihat istrimu, dia tipe wanita amazon pasti kau dibuat kalah telak, 'kan?"
"Mana ada..." Agam mulai terpancing. Dia tidak mau diremehkan. "Aku bisa sendiri dan tahan lama!"
"Wow! Wow! Tahan lama pemirsa!" Zester semakin bersemangat menggoda adik iparnya itu.
"Artinya sudah tidak bingung lagi?"
"Tentu saja tidak, aku memainkan insting laki-lakiku," balas Agam lagi.
"Zee..." tegur Ara supaya suaminya berhenti mengganggu adiknya.
"Ya ampun, Yank. Anak yang suka bermain dengan Tini sudah dewasa," ucap Zester.
Karena mendapat pelototan mata dari istrinya, Zester berhenti menggoda Agam.
"Dada Mas Agam, nanti kita bicara lagi masalah tahan lama itu," Zester melambaikan tangannya dan pergi.
"Ish..." Agam berdesis melihat kakak ipar yang suka mengganggunya itu. "Bilang saja iri, Boss!"
Ara menggelengkan kepalanya, lalu mendekati adiknya itu. "Mbak, mau bicara!"
__ADS_1
"Bicara apa, Mbak? Kalau masalah istriku, dia akan segera pergi," ucap Agam. Dia malas dinasehati karena pernikahannya dengan Arnette hanya sebatas pernikahan seminggu.
"Itulah masalahnya, kenapa kau dan Arnette menjadikan pernikahan sebuah lelucon? Mana ayah dan ibu juga mendukung," keluh Ara.
"Ayah dan ibu tidak salah, mereka menerima Arnette karena aku yang memaksa," Agam membela orang tuanya.
"Oke, semua sudah terjadi dan terlanjur. Jadi, setelah seminggu akan berakhir begitu saja?" tanya Ara.
"Aku tidak tahu," jawab Agam dengan nada lirih.
"Kenapa tidak tahu? Jadi, laki-laki harus tegas apalagi sudah jadi suami," tuntut Ara.
Agam benar-benar dibuat dilema, sebenarnya di hati kecilnya dia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Arnette walaupun perempuan itu suka bertindak di luar nalar.
Pemuda itu masuk ke kamarnya dan mencoba mencari Arnette tapi perempuan itu tidak ada di sana.
"Istriku..." panggil Agam.
Agam mencari ke mana-mana tapi tidak ada, sampai Tini tiba-tiba muncul dan duduk di jendela kamar.
"Tini..." Agam melipat kedua tangannya di dada. "Kenapa sekarang baru muncul?"
"Aku masih marah tapi ada hal penting yang aku ingin bicarakan, istrimu bersekongkol dengan pemburu hantu," ucap Tini memanas-manasi.
_
Tini kang adu😅
Othor hari ini mau perjalanan jauh, doakan selamat sampai tujuan ya ayang2ku biar cepat crazy up dan namatin cerita gantungku😅
__ADS_1