
Theo buru-buru menyeka air matanya karena malu, kadang dia memang suka terbawa suasana sampai menangis seperti itu. Apalagi ini masalah cucu yang membuatnya begitu sensitif.
Sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan pada Theor tapi pak kades berusaha menahan diri supaya cucunya nyaman terlebih dahulu.
Tiba-tiba saja pak kades justru mendengar Theor yang menangis.
"Oma akan hati-hati, sebentar lagi selesai," ucap Megan merasa lega. Akhirnya Theor mau menangis seperti anak lainnya.
Namun, Megan salah karena anak itu sebenarnya menangis bukan karena luka yang diobati tapi karena memikirkan keadaan Arnette dan Agam.
"Apa ini rumah paman malaikat?" tanya Theor seraya menunjuk foto Agam yang berada di dinding.
Kebetulan mereka memang berada di kamar pemuda itu.
"Aku baru saja melawan monster iblis, bukan tapi raja iblisnya dan menusuk jantungnya, karena energinya terlalu besar, aku terpental dan paman malaikat sebelumnya memintaku untuk pergi kemari," jelas Theor dengan cepat.
"Tenang dulu, pelan-pelan ceritanya," balas Megan. Dia berusaha setenang mungkin walaupun terkejut dengan cerita Theor.
Megan sudah selesai mengobati luka Theor lalu mengecup luka yang baru saja dia obati. Sekarang dia tahu asal dari luka itu.
__ADS_1
"Bisa ulangi lagi? Tapi kali ini, jangan terburu-buru dan coba ceritakan dari awal!" pinta Megan.
Theo juga ikut mendekat karena ingin mendengar ceritanya dengan jelas.
"Tenang, cucu opa aman di sini," bujuk Theo.
Theor memandangi dua orang yang bersamanya itu secara bergantian. Dia masih bingung tapi tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa.
Anak itu tidak tahu apa yang terjadi setelah dia menusuk jantung raja iblis, apa raja iblis benar-benar sudah mati?
Bagaimana kalau belum mati dan sekarang membunuh semua orang?
Apa memang benar dia anak yang ditakdirkan membunuh raja iblis?
"Sebenarnya...." Theor akhirnya bercerita dari awal supaya pak kades dan bu kades mengerti.
Bagaimana Theor yang hidup selalu bersembunyi, bagaimana Arnette melatihnya selama ini dan bagaimana dia bisa terdampar di desa Suka Maju. Tentu saja sebelumnya, Theor menceritakan tentang kedatangan Agam.
Theo dan Megan mendengarkan cerita dari anak itu tanpa menyela, mereka dibuat terdiam seribu bahasa. Perasaan mereka campur aduk, ada rasa marah dan sedih tapi mereka juga lega karena Theor selamat dan berada bersama mereka sekarang.
__ADS_1
"Ibu dan ayahmu pasti selamat, kita akan menunggu mereka pulang," Megan akhirnya membuka suara.
"Ayah? Jadi, paman malaikat benar-benar ayahku?" Theor memperjelas supaya tidak salah.
"Tentu saja, panggil ayah mulai sekarang," balas Megan.
Theor meneteskan air matanya lagi, sekarang dia mempunyai seorang ayah. Ternyata ayahnya masih sangat muda dan tampan, dia akan memperjelas lagi status Agam dari Arnette nanti.
"Ibu..." Anak itu memanggil Arnette dan berharap perempuan yang melahirkannya itu selamat.
Sementara Arnette sendiri masih berada di medan perang.
Setelah raja iblis ditusuk oleh Theor tidak serta merta raja iblis itu langsung mati.
Energinya masih besar bahkan para penyihir yang menahannya sudah tidak mampu lagi menahan raja iblis itu, monster iblis itu berhasil lepas lalu mencoba menyerang untuk memakan tumbal lagi.
Namun, lama-kelamaan raja iblis itu menjadi debu dan menghilang.
Keadaan langit yang sebelumnya gelap dan hujan, berangsur menjadi terang dan hujannya reda. Matahari kembali bersinar dan semua kesatria bersorak atas kemenangan mereka.
__ADS_1
"Kita berhasil," ucap Arnette. Dia ingin mencari putranya. "Theor...."