The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 70 - Ayah Bocil


__ADS_3

Sementara Arnette dan Theor berada di atas atap rumah pak kades, keduanya menatap langit dari atas sana.


"Apa kau merindukan kehidupanmu sebelumnya?" tanya Arnette.


"Kalau ibu bagaimana?" Theor bertanya balik. "Aku hanya ingin ikut di mana ibu berada!"


"Setelah ini mungkin tidak akan mudah karena kita harus beradaptasi dengan kehidupan yang jauh berbeda dari dunia kita," ucap Arnette.


"Tidak masalah karena di sini kita punya keluarga jadi kita akan melaluinya bersama," balas Theor.


Arnette mengusap kepala anak itu, dia pasti akan menebus waktu yang dilalui Theor dengan menjadi ibu yang baik.


"Apa yang kalian lakukan di atas sana?" panggil Agam dari bawah.


"Kami akan turun!" Theor turun dengan menggunakan tangga.


Agam langsung menggendong anak itu lalu mengulurkan satu tangannya untuk menyambut Arnette.


"Aku bisa sendiri," tolak perempuan itu.


"Walaupun bisa sendiri, mulai sekarang kau harus bergantung padaku, istriku," balas Agam.


"Jadi, aku harus pura-pura lemah?" tanya Arnette.


Meskipun awalnya menolak, Arnette tetap menerima uluran tangan Agam, tidak ada salahnya dia bersikap manja sesekali.

__ADS_1


Zester memandangi keluarga kecil itu dari teras rumah, dia tengah bermain dengan Kaizen.


"Daddy... daddy..." panggil Kaizen seraya mendekat. Balita itu memberikan mainannya.


"Where mommy?"


Kaizen bertanya dengan bahasa Inggris tapi nadanya tidak jelas, hanya Zester yang mengerti.


"Mommy is washing Jennie," jawab Zester.


Pada saat itu Theo lewat karena ingin membawa Kaizen dan Theor keliling kampung. Dia sering mendengar kalau Kaizen berbicara dengan bahasa Inggris.


"Ayo cucu opa, kita dolan," ucap Theo.


"Jangan mengajari Kai bahasa jawa, ayah mertua," Zester tidak mau nanti Kaizen jadi bingung.


"Anak buleku jadi neng kono neng kene," batin Zester pasrah.


Motor Theo sudah ada tempat duduk khusus untuk anak kecil yang bisa dilepas pasang lalu pak kades meminta Theor untuk duduk di belakang.


"Wah," Theor sangat bersemangat karena baru pertama kali naik motor. "Ini berbeda dengan kuda!"


"Pegangan di perut opa," ucap Theo memberi peringatan sebelum memutar gas motornya.


Theor melingkarkan kedua tangannya di perut opanya dan Kaizen tertawa dengan bertepuk tangan karena dia naik motor kalau berkunjung di kampung saja.

__ADS_1


"Hati-hati, ayah mertua," ucap Zester yang cemas.


Sebelum masuk ke dalam rumah, dia melihat Agam yang berpacaran dengan Arnette di samping rumah.


"Sepertinya aku harus kembali ke kota," ucap Zester. Dia selalu merasa tidak cocok hidup di kampung apalagi ditambah melihat Agam dengan keluarga expressnya.


Setelah urusan Zester dan Ara selesai, mereka benar-benar pulang ke kota.


Dengan link yang dimiliki Zester, dia akan membuatkan akta kelahiran Arnette dan Theor sesuai janjinya walaupun hal itu dilakukan secara ilegal.


Sementara Agam sendiri, mempersiapkan diri untuk ujian akhir tanpa bantuan Tini. Dia bahkan harus tidur terpisah dari Arnette karena takut khilaf.


"Ini membuatku pusing," keluh Agam.


Namun, dia harus lulus dengan baik karena sebelumnya Agam sudah mendaftar ke universitas yang ada di kota. Hanya menunggu Agam lulus saja.


"Ayah..." panggil Theor mengetuk pintu.


Agam beranjak membuka pintu dan melihat Theor membawa piring berisi pisang goreng.


"Ini pisang goreng buatan ibu, oma yang mengajari menggoreng," ucap Theor.


"Pasti enak," balas Agam seraya mengusap rambut putranya. "Katakan itu pada ibumu, ayah mau belajar dulu!"


_

__ADS_1


Agak anu ya ges😅 ayah bocil mau belajar biar lulus ujian, wkwk


__ADS_2