
Maia memutuskan untuk menemui Tini, selain penasaran dengan gadis itu, dia ingin mengajak Tini tinggal bersama supaya Maia bisa mengontrol gerak-geriknya.
Saat Maia sampai dan berada di depan pintu rumah singgah Pram, tak lama pintu itu terbuka dan terlihat seorang gadis yang tersenyum di sana.
Namun, senyum itu pudar ketika melihatnya.
Tini berusaha menutupi bagian tubuh atasnya yang terbuka, bagian yang terdapat tanda cinta dari Pram.
"Jadi, Pram memilih menghabiskan malam denganmu semalam," komentar Maia tanpa basa-basi.
"Perkenalkan aku Maia, istri sah Pram!"
Suara itu penuh dengan penekanan yang membuat Tini takut tapi gadis itu berusaha menguatkan hatinya.
"Mari masuk, Mbak. Kita bicara di dalam," ucap Tini kemudian.
Beruntung Maia mau masuk dan langsung duduk di meja makan karena tidak mau duduk di ruang tamu.
Di meja makan itu ada sisa sarapan yang dimakan Pram sebelumnya.
"Kau yang memasak semua ini?" tanya Maia memastikan.
"Iya Mbak," jawab Tini. Dia mendekati Maia dengan segelas teh hangat dan kue yang dibuatnya.
__ADS_1
"Kau juga membuat kue?" tanya Maia lagi.
"Masih belajar tapi kata mas Pram enak, siapa tahu mbak Maia juga suka," jawab Tini.
Maia mendengus kasar karena dia merasa tidak pernah melayani Pram dengan baik karena selalu sibuk bekerja, jika Pram ingin bercinta pun dia sering menolak dengan alasan kelelahan.
"Lumayan," komentar Maia setelah mencicipi kue buatan Tini.
Tini merasa senang karena Maia tidak memberikan komentar yang pedas untuk rasa kuenya.
"Kemasi barangmu dan ikut aku ke rumah utama!" perintah Maia yang membuat Tini kebingungan.
"Tapi..." Tini merasa kalau Pram tidak pernah menyinggung masalah ini.
Dan hal itu membuat Tini terpengaruh karena dia tidak mau kesepian seperti sebelumnya.
Karena barang Tini tidak terlalu banyak jadi gadis itu berkemas dengan cepat dan Maia benar-benar membawa madunya untuk tinggal di rumah utama.
Hari ini Maia sengaja tidak bekerja untuk mengurus Tini.
"Apa Pram menyukai masakanmu?" tanya Maia saat mereka masih dalam perjalanan.
"Saya rasa begitu," jawab Tini ambigu. Karena dia masih belum yakin tapi piring Pram selalu kosong jika memakan masakannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, ajari aku masak!" Maia pokoknya tidak mau kalah dari Tini.
Tini mendapat kamar tamu dan dia juga diperkenalkan sebagai adik angkat, bukan istri kedua Pram.
"Tidak ada yang boleh tahu kalau Pram itu menikah lagi," ucap Maia penuh penekanan.
"Saya mengerti, Mbak," balas Tini. Dia selalu sadar diri akan posisinya dan tidak menuntut lebih.
Bagi Tini bisa melihat Pram setiap hari saja sudah cukup.
Ketika jam makan malam tiba, Pram pulang ke rumah utama dan lelaki itu terkejut karena mendapati Tini ada di sana.
Tini tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia tidak berani memanggil Pram sembarangan.
"Kau sudah pulang, Pram?" sambut Maia dengan memakai afron di tubuhnya.
"Aku hari ini yang memasak makan malam!"
Pram tampak gusar karena Maia membawa Tini tanpa persetujuan darinya.
"Apa-apaan ini?" Pram mengeratkan gigi gerahamnya. "Kenapa kau selalu bertindak sesuka hatimu?"
"Sesuka hati bagaimana, kau harus adil, Pram," tuntut Maia.
__ADS_1
"Kau sudah bersama gadis itu semalam dan malam ini adalah giliranku!"