
Para pasukan Arnette berkumpul dan mereka tengah memperhatikan semua senjata yang dibawa oleh Agam.
Benda-benda besi itu sangat asing bagi mereka.
"Jumlahnya sangat terbatas dan kalau latihan akan membuang banyak amunisi peluru jadi perhatikan cara memakainya..." Agam menjelaskan seraya mengambil senjata laras panjang. Dia membidik salah satu pohon yang akan menjadi targetnya.
Perlahan pemuda itu menarik pelatuk senjata itu lalu menembak pohon dengan tepat sasaran.
Agam tersenyum miring karena bisa memperlihatkan keahliannya.
"Woah, senjata dari surga itu memang dahsyat," gumam Theor dalam hatinya. Dia melihat dari kejauhan bersama ibunya dan hal itu diperhatikan oleh Arnette.
"Apa kau menyukai orang itu?" tanya Arnette pada putranya.
Theor langsung menganggukkan kepalanya. "Aku menyukai, paman malaikat. Apa aku boleh berlatih bersamanya?"
"Paman malaikat?" gumam Arnette. Entah apa yang Agam katakan pada anak itu.
Sepertinya dia harus bicara berdua dengan suami seminggunya itu. Arnette masih saja menganggap kalau hubungannya dengan Agam sebatas membuat anak.
Malam harinya, para pasukan kesatria hanya memakan kentang rebus dan lagi-lagi Agam memberi sesuatu yang baru bagi mereka.
__ADS_1
"Apa ini makanan surga?" tanya Theor yang melihat Agam mengeluarkan banyak mie cup instan dari dalam tasnya.
"Iya, hanya perlu menggunakan air panas untuk memakannya. Kalau ingin kenyang tambahkan nasi dan telur," jelas Agam.
Para kesatria merebus banyak air dan mereka juga berburu telur ayam, ada yang meminta nasi dari dapur istana. Mereka ingin menikmati makanan surga.
Sementara Agam memisah mie dan bumbu sambil menunggu air yang direbus mendidih.
Ketika semua bahan sudah siap, Agam menunjukkan cara menyajikan mie instan yang dia bawa.
"Sekarang makanlah!" perintah Agam ketika sudah jadi.
Dengan cepat para kesatria termasuk Theor menikmati makanan yang mereka kira, makanan surga itu.
"Tentu saja, makanlah yang banyak, besok kita harus melakukan misi penting," balas Agam seraya mengusap kepala Theor. Dia merasa sedih anaknya hidup dalam keadaan seperti sekarang.
Agam mengambil satu porsi mie dan telur untuk Arnette yang berada di dalam tendanya. Kata Simon perempuan itu sudah bisa diajak berbicara.
"Istriku..." panggil Agam.
"Cepat masuk dan jangan memanggilku seperti itu di sini!" seru Arnette dari dalam.
__ADS_1
Perlahan Agam membuka tenda Arnette dan perempuan itu duduk sendirian di sana.
"Aku membawakanmu makanan surga," ucap Agam mencairkan suasana.
"Apa yang kau katakan pada Theor? Dan bodohnya para anak buahku juga percaya," balas Arnette tak habis pikir.
Sebenarnya Arnette gengsi untuk mengambil mie instan pemberian Agam tapi aromanya sungguh menggoda apalagi pemuda itu meletakkan tepat di depannya.
Tanpa melihat Agam, Arnette mengambil dan memakannya. Memang makanan di dunia Agam rasanya tidak diragukan lagi.
Agam hanya terdiam sambil melihat Arnette yang makan.
"Apa enak?" Agam mengeluarkan satu kaleng soda dari saku jaket yang dipakai. "Kau masih ingat ini?"
"Minuman gelembung?" Arnette mengambil minuman itu dan melupakan wibawanya. "Aku merindukan minuman ini!"
Arnette langsung menegak minuman bersoda itu sampai habis. Rasanya masih seperti dulu.
"Hanya merindukan minuman itu? Bagaimana denganku? Apa kau merindukan aku, istriku?" tanya Agam.
"Kenapa aku harus merindukanmu?" ketus Arnette.
__ADS_1
"Kalau tidak rindu, coba tatap mataku," pinta Agam.
"Tidak mau," tolak Arnette seraya memalingkan wajahnya. Sial! Dia jadi salah tingkah.