
"Jangan tutup mata dan fokus saja padaku!" pinta Pram supaya Tini tidak terus menundukkan kepala.
"Katanya mau belah duren, kalau belah duren itu harus melihat pasangannya!"
Karena Tini masih polos jadi Pram dengan mudah bisa mencuci otaknya.
"Tapi, setiap melihat mas Pram jantung saya seperti mau copot," ucap Tini jujur.
"Benarkah?" Pram semakin menggoda Tini dengan mengelus pundak lalu turun ke gunung kembar istrinya yang masih sangat ranum itu.
Tanpa sadar Tini mulai melenguh apalagi ketika Pram menunduk dan mencoba menghisap buah dadanya.
"Aduh, Mas Pram! Bagaimana kalau jadi kempes?" Tini jadi panik.
Pram tidak menghiraukan Tini dan tetap menghisap dua benda itu secara bergantian.
"Jangan... nanti kempes," Tini meremas punggung Pram karena merasakan sensasi menggelitik dalam dirinya.
Karena Tini terus berpikir yang tidak-tidak, Pram jadi gemas sendiri, kalau istrinya begitu terus gairahnya akan hilang.
"Tidak akan kempes justru nanti tambah besar," ucap Pram mencoba membuat Tini tenang.
"Jadi, Mas Pram memompanya?" tanya Tini bingung.
Bagaimana mungkin setelah disedot akan semakin besar?
__ADS_1
"Jangan banyak bertanya dan nikmati saja," Pram akhirnya mencium bibir Tini supaya gadis itu tidak mengeluarkan suara lagi.
Tangan Pram juga tidak bisa diam dan bermain di bawah sana yang membuat Tini menggelinjang tidak karuan.
Tini semakin merasa aneh karena proses membuat anak ini, ternyata prosesnya sungguh membuat panas.
"Aku harus melakukannya supaya kau tidak merasa sakit," ucap Pram setelah melepas ciumannya.
Nafas Tini terengah-engah, dia tidak sanggup membalas perkataan Pram atau bertanya lagi.
Perlahan tubuh Tini dibaringkan ke atas kasur dan gadis itu bisa melihat dengan jelas tubuh Pram dari bawah sana.
Pram membuka baju dan celananya, ada sesuatu yang sudah tegak menantang sedari tadi yang membuat Tini merasa terkejut.
"I... itu..." Tini tidak bisa melanjutkan pertanyaannya karena bibirnya yang tiba-tiba dibungkam oleh bibir Pram lagi.
Rasanya sungguh sakit sekali tapi Pram terus berusaha mendorongnya karena jika berhenti di pertengahan jalan justru akan semakin menyakitkan.
"Tahan, ya," bisik Pram yang ingin mendorong lebih kuat lagi.
Tini hanya bisa memeluk erat tubuh besar Pram ketika milik suaminya sudah berhasil masuk sepenuhnya.
Air mata Tini tidak bisa dibendung lagi dan Pram mencoba membuat gadis itu tenang dulu.
Setelah Tini tenang dan sudah terbiasa dengan miliknya maka dia mulai bergerak perlahan.
__ADS_1
Awalnya memang sakit sekali tapi lama-kelamaan rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan tiada tara.
Bahkan Pram mengulang kegiatan itu karena tidak puas hanya dengan satu permainan saja.
"Argh! Tini..." Pram menggeram untuk kesekian kalinya.
Dan Tini terus saja menerima cairan hangat dari suaminya. Dia hanya bisa pasrah.
"Istirahatlah," ucap Pram seraya memeluk Tini.
Keesokan harinya, Tini bangun dengan badan sakit semua tapi untunglah dia sudah memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Tini mandi dan memakai baju Pram yang kebesaran.
Tujuannya sekarang ingin memasak tapi dia bingung dengan kompor yang ada di rumah itu.
"Bagaimana cara menyalakan kompornya?" gumam Tini.
Terpaksa Tini hanya memakan roti untuk sarapan. Tenaganya benar-benar habis karena digempur semalaman.
"Tini..." panggil Pram karena tidak melihat istrinya di dalam kamar. Dia keluar dan mendapati Tini yang makan roti di dapur.
"Saya tidak bisa menyalakan kompor jadi tidak bisa membuat kopi," ucap Tini.
"Tidak perlu membuatkan aku kopi karena aku punya pengganti kopi," Pram dengan nakal memasukkan tangannya di baju Tini dan memainkan buah dada istrinya.
__ADS_1
"Tenang ya, tidak akan kempes kok!"