The Red Moon

The Red Moon
Slide Story - Tini


__ADS_3

"Kenapa kau mau diajak kemari?" tanya Pram pada Tini. Dia menarik tangan gadis itu dan membawanya untuk berbicara empat mata.


Selama ini Pram tidak pernah marah pada Tini jadi gadis itu sekarang bisa melihat bagaimana ekspresi marah suaminya.


"Tidak apa-apa, Mas. Ini akan jadi lebih baik karena aku bisa mendekatkan diri dengan mbak Maia," jawab Tini.


"Lebih baik bagaimana?" Pram merasa kesal pada sikap naif gadis itu.


Tidak ada yang hal baik ketika dua istri tinggal satu atap.


"Ayo kita pulang!" Pram ingin mengajak Tini kembali ke rumah singgah mereka.


Namun, langkah mereka lagi-lagi ditahan oleh Maia.


Perempuan itu meminta waktu sebulan untuk Tini tinggal bersamanya.


Dan terjadi perdebatan sengit sampai Tini bingung harus bagaimana, akhirnya Tini meminta Pram untuk mengalah saja.


Kalau mereka tinggal berdua sepertinya Maia juga tidak akan berhenti sampai disitu.


"Pokoknya kalau kau merasa tidak nyaman, kau harus bilang padaku!" tegas Pram memberikan syarat.


"Saya mengerti," jawab Tini pada saat itu.

__ADS_1


Sepertinya Pram memang tidak bisa berharap banyak pada Tini karena nyatanya gadis itu tidak pernah mengeluh atau menuntut apapun darinya selama hampir sebulan tinggal bersama Maia.


Karena memang Tini merasa Maia itu tidak jahat hanya saja perempuan itu iri karena tidak bisa menjadi istri yang baik seperti dirinya.


"Rasanya sudah lumayan, Mbak," komentar Tini setelah mencicipi masakan Maia.


"Sudah aku bilang kan kalau aku akan belajar dengan cepat," ucap Maia membanggakan diri.


Tini tersenyum melihat Maia yang begitu antusias ingin merubah diri.


"Mbak..." panggil Tini dengan ragu-ragu.


Sepertinya suasana hati Maia sedang baik jadi dia ingin meminta sesuatu.


"Anu..." Tini jadi malu mengatakan permintaannya.


Belum sempat Tini mengutarakan permintaannya itu, tiba-tiba atensinya beralih pada sosok Pram yang pulang dengan diantar asistennya.


Pram sepertinya sedang tidak baik-baik saja karena ketika mengecek proyeknya, lelaki itu mengalami mual dan muntah luar biasa.


Sebenarnya sudah beberapa hari ini, Pram tidak enak badan tapi tetap memaksakan diri untuk bekerja.


"Pram, apa kau sakit?" tanya Maia cemas. "Ayo ke dokter!"

__ADS_1


Pram menggelengkan kepalanya. "Aku hanya masuk angin!"


Lelaki itu sebenarnya sangat ingin bersama Tini saat ini, namun karena menghargai perasaan istri pertamanya dia memilih untuk pergi ke ruang kerjanya.


Ya, selama sebulan ini Pram lebih banyak menghabiskan waktu ke tempat itu.


Jujur saja daripada menyakiti hati kedua istrinya, lebih baik Pram tidak tidur bersama salah satunya atau tidur bergiliran.


Pram memang sedang memikirkan solusi dari masalahnya saat ini.


Di satu sisi dia tidak ingin menceraikan Maia tapi di sisi lain, Pram tidak mau kehilangan Tini.


"Mas Pram..." panggil Tini masuk ke ruang kerja suaminya itu.


Tini membawa air hangat yang sudah dicampur jahe. "Sepertinya jahe hangat bisa meredakan masuk angin!"


"Benarkah?" Pram jadi ingin menggoda Tini yang polos. "Coba suapi, tiba-tiba tanganku jadi lemas!"


"Ada-ada saja, mana mungkin masuk angin bisa merambat ke tangan lemas," balas Tini.


"Wah, ternyata istriku sudah tidak malu-malu lagi," Pram langsung menarik Tini untuk duduk di pangkuannya.


Pram mengusap bokong Tini dan langsung mencium bibir gadis itu dengan penuh nafsu yang menggebu-gebu.

__ADS_1


Inilah obat sebenarnya untuk Pram.


__ADS_2