
Sebelum raja iblis itu menghancurkan semuanya dan berpindah ke dimensi lain, monster itu harus diikat supaya tidak bisa kabur dengan mudah.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Ditrian pada para penyihir lain yang sudah menyebar.
Para penyihir tengah mengumpulkan mana mereka untuk bisa mengikat raja iblis dari segala sisi.
"Jangan sampai iblis itu menggunakan kekuatannya dengan penuh!" lanjutnya.
Ketika mana belum terkumpul, raja iblis sudah menyerang para penyihir.
Tapi, Ditrian berusaha memasang perisai untuk mereka.
"Mereka semua berjuang dan semua tergantung padaku," ucap Theor yang takut mengecewakan.
"Apapun yang terjadi, aku bangga padamu," balas Agam.
Theor tersenyum mendengar kalimat dari Agam itu, dia langsung mengangkat pedangnya. Dia sudah siap dengan apa yang dihadapinya nanti.
Mereka menunggu aba-aba dari Agam yang sedari tadi mengamati situasi.
"Sekarang!" seru Agam seraya berlari.
Dia ingin menyerang raja iblis, bukan hanya Agam tapi Arnette dan pasukan kesatria suci juga menyerang.
Mereka akan membuat fokus raja iblis tertuju pada mereka saja.
"Kau bisa menggunakan pedang?" tanya Arnette
"Aku cepat belajar, istriku," balas Agam.
Lagi-lagi pemuda itu sempat-sempatnya menggoda Arnette, walaupun begitu mereka masih bisa fokus menyerang raja iblis.
__ADS_1
Ketika raja iblis ingin menggunakan kekuatannya, tiba-tiba sebuah rantai sihir besar melilit mulut monster itu.
Bukan hanya mulut tapi dari empat sisi tangan dan kaki diikat kuat oleh rantai sihir yang ukurannya sangat besar.
Ternyata para penyihir sudah berhasil mengumpulkan mana dan membuat rantai sihir untuk mengikat raja iblis itu.
Mereka tidak akan bertahan lama jadi Theor harus segera melakukan tugasnya.
"Waktu kita tidak banyak, Nak," ucap Simon membuka kekuatan teleportasinya ke arah atas.
Dari atas sana Theor keluar dan mendarat tepat di atas kepala raja iblis.
Anak itu akan terjatuh karena raja iblis terus meraung dan mencoba melepaskan diri.
"Aaaa..." Theor terpeleset dan berpegangan pada tanduk monster iblis itu.
"Aku tidak boleh jatuh," ucapnya seraya bergerak ke tengah. Dia bisa melihat cahaya di atas kepala raja iblis itu, pasti itu adalah jantungnya.
Ketika Theor berusaha bergerak, dia tergelincir lagi akhirnya anak itu berusaha mendekat dengan cara merangkak dan menggunakan sisik monster untuk berpegangan.
Tapi, anak itu tidak menyerah dan terus menuju ke tengah.
Sementara para penyihir sudah mulai kehabisan mana mereka.
"Cepat!" teriak Ditrian memberi peringatan.
Theor yang hampir mencapai tengah langsung mengeluarkan pedangnya. Pasti saat dia menusuk jantung iblis itu energi yang ditimbulkan sangat besar.
"Semuanya mundur!" Ditrian berteriak lagi supaya pasukan kesatria menjauh atau akan terkena energi dari raja iblis.
"Aku tidak akan meninggalkan Theor!" Arnette menolak untuk mundur, dia memilih mendekat dan memanjat tubuh raja iblis untuk menyusul putranya.
__ADS_1
"Ini sangat berbahaya!" Agam berusaha mencegahnya. Mereka harus segera pergi.
Terpaksa Agam mengangkat tubuh Arnette untuk naik ke pundaknya.
"Lepaskan aku!" teriak Arnette.
"Percayalah pada Theor, bukan...." Agam mencoba meralat perkataanya. "Maksudku putra kita!"
Melihat semua orang sudah menjauh, Theor mengangkat ke atas pedangnya dengan kedua tangannya lalu dengan cepat menurunkan ke bawah tepat ke arah cahaya yang dia lihat.
Tentu saja raja iblis meraung dan bersamaan dengan itu, rantai sihir terlepas. Otomatis tubuh kecil Theor terpental.
Sudah dipastikan dengan ketinggian dan kecepatan seperti itu, Theor tidak akan selamat.
Namun, Theor mengingat pesan dari Agam.
Gunakan batu sihir waktu dan katakan kau ingin bertemu dengan keluarga Sulistiyono!
Theor segera mengikuti perintah itu, dia pun menggunakan batu sihir waktu sebelum terjatuh ke tanah.
BRUG!
Anak itu terjatuh ke lumpur sawah setelah portal waktu yang dia buat terbuka.
"Di mana ini?" gumam Theor seraya berdiri. Dia merasa sangat asing dengan tempatnya mendarat sekarang.
"Apa ini surga?"
Theor berjalan ke pematang sawah dan ada anak buah pak kades yang melihat anak kecil itu.
"Anaknya siapa itu?" Anak buah pak kades itu mendekat dan merasa terkejut melihat anak tampan yang mirip Agam.
__ADS_1
Pakaian Theor terasa asing dan tubuh anak itu kotor dengan lumpur.
"Ayo saya antar ke rumah pak kades!"