The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 72 - Rencana Masa Depan


__ADS_3

"Apa benar anak laki-laki pak kades akan menikah dengan janda anak satu?"


Bukan hanya sekolah Agam heboh, di balai desa tak kalah heboh, perangkat desa yang sudah mengincar Agam untuk menikahkan anak gadis mereka merasa tidak percaya dengan gosip yang beredar.


"Benar, anak laki-lakiku memutuskan untuk menikah muda," ucap Theo.


Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!


Dulu Theo menikah dengan Megan saat baru lulus sekolah sekarang Agam mengikuti jejaknya. Tapi, berbeda dengan dirinya, Agam sudah mempunyai anak berusia lima tahun.


"Ketika Theor umur sepuluh tahun nanti, Agam baru lulus kuliah, mereka pasti akan menjadi seperti kakak dan adik," gumam Theo sambil membayangkan masa depan putranya.


"Kalau mereka semua pergi ke kota, pasti rumah akan menjadi sepi," lanjutnya.


Mau tidak mau hal itu pasti akan terjadi, hanya akan tinggal Theo dan Megan seorang.


Pernikahan itu membutuhkan komitmen dan kesetiaan partner seumur hidup karena anak akan pergi tapi pasangan hidup akan selalu menemani.


"Ah, aku jadi merindukan sayangku," batin Theo.


Karena memikirkan permasalahan Agam, dia jadi lupa pada istrinya.


Jadi, sepulang dari balai desa, Theo membeli bunga yang ada di kampung sebelah.


Berbeda dengan ayahnya, sepulang sekolah Agam membeli beberapa cilok dan batagor untuk Arnette.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus membeli telur gulung juga untuk istriku," gumam Agam.


Setelah membeli cilok dan batagor, pemuda itu juga membeli beberapa telur gulung.


Agam kemudian langsung pulang karena anak dan istrinya sudah menunggu.


Saat sampai di depan pagar, Agam memencet klakson motornya yang membuat Theor keluar dari rumah.


"Ayah sudah pulang sekolah!" seru Theor.


Sungguh hal yang tidak pernah Agam bayangkan kalau dia akan disambut pulang sekolah oleh anaknya sendiri.


"Di mana ibumu?" tanya Agam.


Pasti Arnette bekerja keras untuk belajar memasak bersama Megan.


Agam segera menemui istrinya itu dan membawa jajanan yang dia sudah beli sebelumnya. Dia mengambil piring dan meletakkan belanjaannya di piring itu.


"Aku tidak lapar jadi tidak perlu masak," ucap Agam.


Arnette langsung mematikan kompor, ternyata menjadi ibu rumah tangga tidaklah mudah. Dia ingin istirahat dan duduk bersama suaminya.


"Makanlah ini," ucap Agam seraya menggeser piring ke arah Arnette. "Yang bentuknya bulat namanya cilok, lalu yang panjang telur gulung!"


"Namanya aneh," komentar Arnette.

__ADS_1


Walaupun begitu, perempuan itu tetap memakannya.


"Kita harus berhemat mulai sekarang, aku masih belum bekerja dan tidak mau terlalu merepotkan ayah," jelas Agam.


"Kalau begitu, biar aku yang bekerja. Aku ahli dalam memotong mungkin bisa bekerja di pemotongan hewan," balas Arnette.


"Apa?" Agam menepuk jidatnya sendiri. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "Sebenarnya ada beberapa tawaran menjadi model, mungkin aku bisa menerima tawaran itu sebagai kerja paruh waktu sambil kuliah!"


"Model?" tanya Arnette yang tidak mengerti.


Agam mencoba menjelaskan dengan memperlihatkan ponselnya dan Arnette merasa tidak suka dengan pekerjaan itu.


"Artinya tubuhmu akan dilihat banyak orang?" tanya Arnette.


"Iya begitulah, model memang menjual wajah dan tubuh kita," jawab Agam.


BRAK!


Arnette menggebrak meja sampai membuat Theor yang memakan telur gulung jadi kaget.


"Tidak bisa," ucap Arnette dengan lantang.


"Aku akan mengeluarkan mata perempuan yang berani melihat tubuhmu," lanjutnya seraya menatap Agam. "Tubuhmu itu hanya milikku, apa kau mengerti?"


"I... iya," jawab Agam gelagapan. Dia lupa kalau istrinya adalah wanita amazon.

__ADS_1


__ADS_2