
"Kau kenapa?" tanya seorang anak laki-laki pada Tini.
Anak yang tak lain adalah Agam itu melihat Tini menangis karena tidak bisa pergi kemana-mana.
Pada saat itu, Agam tengah berkunjung ke kota dan berjalan-jalan dengan orang tuanya. Tapi, ketika melintasi sebuah toko kue anak itu melihat sosok Tini yang menangis.
"Kau bisa melihatku?" tanya Tini tidak percaya.
Agam menganggukkan kepalanya. "Kau pasti hantu baru, ayo ikut bersamaku!"
"Tapi, aku tidak bisa pergi," balas Tini.
"Bisa, cobalah!" ajak Agam seraya mengulurkan satu tangannya.
Dengan ragu Tini menerima uluran tangan Agam dan ternyata dia bisa menyentuh anak itu. Ternyata Agam memang anak yang spesial.
Agam membawa Tini bersamanya dengan senang hati.
"Ayah, ibu, aku membawa teman baru, dia hantu baru yang mati belum 40 hari," ucap Agam dengan polosnya.
Theo dan Megan langsung merinding mendengarnya.
"Hantu baru bagaimana? Jangan koleksi hantu di rumah," tolak Theo.
__ADS_1
"Aku tidak koleksi hantu, lagipula Tini bisa tinggal di pohon mangga di rumah kita," ucap Agam yang tetap ingin membawa Tini.
"Jadi, namanya Tini?" tanggap Megan. Biasanya anak itu akan menangis dan takut jika bertemu hantu tapi sepertinya dengan Tini berbeda.
"Baiklah," Megan akhirnya setuju. Siapa tahu Tini bisa membantu Agam untuk mengontrol kemampuannya.
Sejak saat itu, Tini menjadi bagian dari keluarga pak kades.
Tini setiap hari melihat tumbuh kembang Agam dan merasa senang bisa terus bersama anak itu jadi saat Agam menikah secara tiba-tiba dengan Arnette, Tini tidak suka.
Namun, sekarang dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Agam sudah bahagia dengan keluarga kecilnya.
Ternyata cinta sejati itu memang ada.
"Apa Agam sudah tahu kisahmu ini?" tanya Simon setelah selesai melihat masa lalu Tini.
Simon menggelengkan kepalanya. "Kenapa kau berbohong? Mungkin kalau kau bicara jujur, Agam bisa membantumu bertemu dengan suami dan anakmu!"
"Memangnya keadaan akan berubah? Aku tetap mati, bukan?" balas Tini.
Emosi masa lalunya membelenggu dirinya sekarang.
Simon tidak bisa menghakimi Tini karena dia tahu kalau pada saat itu Tini masih polos dan merasa menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Pram dan Maia.
__ADS_1
"Kalau aku membantumu berbicara dengan suamimu, apa mungkin kau bisa tenang?" tanya Simon.
Tini meragu tapi memang banyak hal yang belum tersampaikan pada Pram.
"Memang bagaimana caranya?" tanya Tini.
"Aku akan memasukkan energimu ke tubuh orang lain," jawab Simon.
Tini tidak pernah melakukan hal semacam itu.
Namun, kali ini dia ingin mencobanya.
"Kalau kau setuju, ayo kita pergi sekarang!" ajak Simon.
Setelah kejadian dua puluh tahun lalu, Tini akhirnya akan bisa bertemu dengan Pram lagi. Mungkin dengan mengungkapkan perasaannya, dia akan bisa tenang.
Tapi, tidak disangka lelaki tampan dan berbadan besar yang dikenal Tini dulu, kini menjadi kurus dan berbaring tidak berdaya di kamar tidurnya.
Maia selalu merawat Pram yang sakit-sakitan semenjak kehilangan Tini.
Anak mereka sudah tumbuh besar dan sudah berkuliah sekarang.
"Anakku..." batin Tini yang melihat seorang pemuda yang usianya hanya berbeda dua tahun saja dari Agam.
__ADS_1
Tini merasa senang karena anaknya tumbuh dengan baik walaupun tidak mengenalnya sama sekali.
Mungkin ini juga salah satu hal yang tidak bisa membuat Tini tenang karena anaknya yang tidak mengenal ibu kandungnya sendiri.