
Tristan memberikan baju bersih untuk Agam karena pemuda itu masih menggunakan baju yang berlumuran darah.
"Dan ini untuk kapten Arnette," ucap Tristan seraya memberikan baju ganti untuk kaptennya juga.
Agam merasa tidak suka dengan perhatian anak buat Arnette itu. "Kau sepertinya cukup dekat dengan istriku!"
"Kau pasti tahu kan kalau aku itu suaminya!"
Tristan tergelak karena sikap cemburu Agam itu, dia merasa senang, akhirnya Arnette mendapatkan kasih sayang yang tulus.
"Aku menghormati kapten Arnette jadi jangan salah paham," ucap Tristan kemudian.
"Jangan sampai melewati batas," Agam masih berusaha mengancam sebelum pergi.
Pemuda itu mendatangi Arnette yang saat ini tengah diobati oleh para penyihir.
Walaupun tidak bisa sembuh total, setidaknya mengurangi rasa sakitnya.
"Apa dia benar-benar baik saja?" tanya Arnette pada Ditrian yang juga ada di sana.
Ditrian mengerti siapa yang dimaksud perempuan itu, pasti Arnette menanyakan keadaan Agam yang sebelumnya perutnya tertusuk pedang.
"Aku hanya mengembalikan jaringan selnya memakai sihir penyembuhan, ketika kalian kembali nanti, lebih baik kalian memeriksakan diri ke dokter," jawab Ditrian. Sebenarnya di dimensinya sendiri, dia sudah hidup modern seperti istrinya.
__ADS_1
Mendengar itu, Arnette jadi memikirkan Theor yang kembali sendirian. Pasti anak itu bingung.
"Jadi, kau akan meninggalkan Bavaria?" tanya Ditrian.
Belum sempat Arnette menjawab, Agam sudah masuk ke dalam sana yang membuat Ditrian undur diri.
Mereka semua harus bersiap-siap menghadap kaisar Erik sebelum kembali ke tempat mereka masing-masing.
"Apa lukanya bertambah lagi?" tanya Agam yang khawatir dengan istrinya.
Arnette tampak kesal dengan pemuda itu. "Kau sengaja menyuruh Theor untuk kembali sendirian, bukan?"
"Aku ingin menyelamatkan putraku, apa itu salah?" tanggap Agam.
Agam membantu Arnette untuk mengganti bajunya, mereka sudah ditunggu untuk pergi ke istana.
"Sudah menyiapkan kalimat perpisahan untuk orang-orang yang kau anggap keluarga itu?" tanya Agam. Dia masih membenci keluarga Arnette dan tidak mau bersikap hormat walaupun mereka adalah pemimpin wilayah.
"Sepertinya aku memang tidak punya pilihan, bukan?" balas Arnette. Dia sudah menyerah untuk bersikap keras kepala lagi.
"Kau sudah berjanji, istriku," ucap Agam seraya menyatukan kening mereka. "Kau percaya padaku, bukan?"
"Dasar bodoh!" Arnette meraih tengkuk Agam dan mencium bibir pemuda itu. Sepertinya pertahanan Arnette sudah runtuh.
__ADS_1
Perempuan itu menyatakan kekalahannya, dia sudah jatuh hati pada anak pak kades Suka Maju.
"Kap..." Tristan yang ikut masuk merasa terkejut karena melihat dua orang yang bercumbu itu.
"Maafkan saya tapi kita harus segera pergi, Kapten!"
Agam dan Arnette buru-buru melepas ciuman mereka, mereka merasa canggung lalu tertawa bersama.
"Setelah ini, aku ingin melihatmu terus tertawa," ungkap Agam. Tangannya menggandeng Arnette untuk keluar.
Biasanya Arnette akan menolak perlakuan manis seperti itu di depan umum, apalagi di depan para anak buahnya.
Tapi, kali ini Arnette tidak menghentikan Agam.
Sword master juga manusia, lebih tepatnya ini sudah waktunya pensiun. Arnette harus memberikan pedang sucinya pada orang yang tepat.
"Aku akan merekomendasikan Tristan untuk menjadi sword master selanjutnya, aku yakin dengan sisa anak buah yang ada dan dukungan dari kota suci, Kekaisaran Bavaria akan kembali bangkit," ucap Arnette.
"Jangan khawatir, istriku. Kau masih mempunyai pedang lain yang bisa kau mainkan," goda Agam.
_
Pedang tumpul ya mas Agam🙈
__ADS_1