
"Rasanya seperti mandi di air terjun," gumam Tini ketika tubuhnya basah karena air shower. Dia memencet sabun cair yang ada di sana dan memakai di seluruh tubuhnya.
Aromanya sangat wangi sekali, berbeda sekali dengan sabun batangan yang dia pakai selama ini.
Tini ingin memakai bajunya kembali tapi karena tidak hati-hati, bajunya terjatuh dan basah.
Terpaksa Tini keluar kamar mandi dengan melilitkan handuk di badannya.
"Aku harus mencari tasku," gumam Tini.
Namun, ternyata tasnya sudah dibuang oleh Pram karena merasa baju-baju Tini tidak layak dipakai.
"Aku akan membelikan baju baru untukmu nanti," ucap Pram.
"Nantinya kapan? Saya kan tidak mungkin terus memakai handuk," balas Tini.
"Kau juga tidak memerlukan handuk itu, sekarang lepas!" perintah Pram dengan tegas. "Aku harus memastikan kalau kau tidak punya panu, kudis dan kurap!"
"Saya tidak punya penyakit kulit," Tini membela diri.
"Kalau begitu, buktikan sekarang!" Pram memaksa.
Dengan berat hati Tini harus membuka handuknya, dia harus menuruti apa kata suami.
Untuk pertama kalinya tubuh polosnya dilihat oleh seorang lelaki, Tini sangat malu sampai menutup wajahnya.
__ADS_1
Dan hal itu membuat Pram gemas sendiri, bisa-bisanya Tini memilih menutup wajah daripada anggota tubuhnya.
Ternyata kulit Tini mulus walaupun gadis itu berasal dari desa.
"Hanya saja punyamu terlalu kecil," komentar Pram.
"Apanya yang kecil?" batin Tini. Dia semakin kalut.
Sampai Pram memintanya untuk mendekat dan Tini berjalan dengan pelan ke arah suaminya, gadis itu masih menutup wajahnya.
"Turunkan tanganmu," Pram mencekal tangan Tini saat gadis itu mendekat padanya.
Walaupun malu, Tini berusaha menuruti apa kata suaminya.
Dan hal itu membuat Pram merasa tersentuh.
"Sekarang anda percaya kan kalau saya tidak punya panu, kadas dan kurap?" tanya Tini dengan menundukkan kepalanya.
"Iya aku percaya tapi jangan memanggil anda pada suamimu," pinta Pram.
Tini tampak berpikir untuk memanggil suaminya. "Apa mau dipanggil kangmas?"
"Kangmas?" Pram merasa panggilan itu sangat mengganggunya. "Aku tidak suka!"
"Kalau akang bagaimana?"
__ADS_1
"Itu aku lebih tidak suka!"
"Mas saja kalau begitu,"
"Itu lebih baik,"
Tini kembali malu lagi karena belum terbiasa, sepertinya dia harus mengalihkan pembicaraan canggung ini dan masuk ke intinya.
"Jadi, kapan kita akan melakukan belah duren?" tanya Tini kemudian.
Sedari tadi Pram menahan tawa dan akhirnya dia sudah tidak tahan lagi, tawanya jadi pecah. Ternyata Tini adalah gadis polos dan lucu.
"Kau pasti sudah tidak tahan, ya?" tanya Pram menggoda.
"Bukan begitu, tadi mas Pram kan mengajak malam pertama," jawab Tini dengan polosnya.
Pram semakin tertawa dan semakin ingin menggoda Tini. "Memangnya kau tahu caranya?"
"Tidak tahu, tapi mas Pram kan bisa mengajari saya," ucap Tini malu-malu. Dia harus melakukan tugas pertamanya sebagai seorang istri.
Sudah dipastikan kalau Tini memang masih perawan ting-ting jadi Pram harus memberi pengertian sebelum malam pertama mereka benar-benar terjadi.
"Kau tahu kan kalau aku sudah mempunyai istri lain?" tanya Pram.
"I... iya, saya tahu. Pakdhe Rudi sudah menjelaskan semuanya," jawab Tini.
__ADS_1
Pram meraih dagu Tini supaya gadis itu menatap wajahnya. "Jadi, kau siap mengandung anakku, 'kan?"
Memangnya pendapat Tini masih penting lagi, saat dia setuju menikah dengan Pram artinya hidupnya sudah ditentukan oleh lelaki itu.