The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 59 - Cucu Di Luar Nurul


__ADS_3

Mungkin bagi Agam, sudah beberapa hari pergi ke dunia Arnette tapi di dunianya sendiri baru beberapa jam saja.


Baik Theo dan Megan harap-harap cemas di rumah mereka, mereka menunggu Agam pulang.


"Aku buatkan kopi lagi, Yah," ucap Megan seraya berjalan ke arah dapur.


Di meja makan sudah ada beberapa gelas kopi yang sudah kosong. Theo tidak akan bisa tidur kalau Agam belum kembali.


"Buatkan yang banyak kopinya, jangan terlalu manis," balas Theo yang ingin matanya tidak mengantuk.


Beberapa menit berlalu, ada orang yang memanggil Theo di depan pagar rumah.


"Pak kades! Pak kades!"


Theo pun bergegas keluar karena takut ada sesuatu yang penting tapi ketika dia keluar justru mendapati anak buahnya membawa seorang anak.


"Ada anak tersesat di sawah. Wajahnya mirip anak laki-laki pak kades," ucap anak buah Theo itu.


Theo buru-buru membuka pagar dan melihat Theor, tubuh anak itu penuh dengan lumpur tapi fokusnya tertuju pada wajah Theor yang mirip Agam sewaktu kecil.


"Apa Agam jadi kecil lagi?" batin Theo.

__ADS_1


Namun, dia buru-buru membuang pikiran itu.


Theo berjongkok supaya sejajar dengan tubuh kecil Theor.


"Siapa nama ibumu?" tanya Theo kemudian.


"Arnette Bavaria," jawab Theor dengan cepat. Dia terus memandangi wajah lelaki di depannya.


Tiba-tiba saja tubuh Theor terhuyung ke belakang karena dipeluk oleh lelaki itu.


"Cucuku!" Theo tidak peduli kalau tubuhnya ikut kotor oleh lumpur. Dia menciumi wajah Theor, benar kata Agam kalau dia mempunyai cucu lain yang sudah besar.


Setelah itu, Theo menggendong anak itu dan meminta anak buahnya merahasiakan Theor yang tersesat di sawah.


"Panggil opa mulai sekarang, ayo masuk ke dalam!"


Theo mengajak cucunya itu untuk masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, Megan baru saja selesai membuat kopi lalu mendapati suaminya menggendong seorang anak.


Megan tidak perlu bertanya, dia langsung menangis melihat Theor dan memeluk anak itu.

__ADS_1


Sementara Theor sendiri hanya diam saja karena masih bingung.


"Ayo oma mandikan!" Megan mengajak Theor untuk membersihkan diri dulu. Dia sadar jika anak itu bingung jadi Megan tidak akan banyak bertanya.


Megan ingin fokus membersihkan Theor dan dia mendapati telapak tangan anak itu yang terluka dengan darah yang mengering.


Hati-hati sekali Megan memandikan Theor lalu memakaikan baju Agam yang kebesaran untuk sementara waktu.


"Sekarang oma akan mengobati lukanya," Megan mengambil kotak P3K dan berusaha mengobati luka anak itu. Ini hanya pertolongan pertama, dia pasti akan membawa Theor ke klinik karena takut tangan cucunya terkena infeksi.


Ada yang aneh saat Megan mengobati luka Theor, anak itu tidak menangis dan tampak menggigit bibir bawahnya menahan sakit.


"Tidak apa-apa, kalau sakit bilang saja sakit," ucap Megan supaya Theor mengekspresikan rasa sakit yang anak itu rasakan.


"Kata ibu, aku tidak boleh menjadi anak cengeng, aku harus menjadi anak yang berani," balas Theor.


Dari sini Megan bisa merasakan kalau Theor memang dididik dengan keras.


"Di sini anak-anak boleh menjadi cengeng, jadi tidak apa-apa, anak kecil tidak boleh berpura-pura dewasa, bahkan orang dewasa pun masih suka menangis," ucap Megan memberi pengertian.


"Benarkah?" tanya Theor.

__ADS_1


"Lihat saja opa sekarang!" Megan menunjuk ke arah pak kades yang sedari tadi menangis karena melihat cucunya sudah tumbuh besar dalam waktu dua bulan saja.


__ADS_2