The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 24 - Suami Panas


__ADS_3

Agam termenung di kamarnya seraya memikirkan kata-kata Tini dan merangkai setiap kejadian. Namun, dia masih belum menemukan benang merahnya.


Yang jelas Arnette dan Simon mempunyai rahasia yang berhubungan dengan dirinya.


"Bagaimana caraku menggali informasi?" gumam Agam.


Tidak mungkin Arnette akan memberitahunya begitu saja jadi Agam mempunyai strategi baru yaitu merayu sang istri.


"Di mana istriku sekarang?" Agam keluar karena ingin mencari Arnette di atap rumah.


Namun,ternyata perempuan itu sudah bersama Megan di dapur.


"Kapan dia kembali?" tanya Agam dalam hatinya. Dia pun mendekati perempuan yang tengah memotong ikan itu.


Kemampuan potong memotong Arnette memang luar biasa.


"Istriku..." panggil Agam.


Arnette membalik badannya, dia masing memegang pisau. "Sudah pulang sekolah?"


"Dari tadi, aku mencarimu," Agam mengambil pisau dari tangan istrinya itu. "Ayo masuk kamar!"


"Istrimu sedang membantu ibu," tegur Megan.


"Ini penting, Bu," Agam tetap memaksa Arnette untuk masuk kamarnya.


Waktunya untuk menggoda istrinya yang suka membuat anak itu.

__ADS_1


"Mbak Ara dan kakak ipar membawa Kai berkeliling kampung jadi kita bisa berduaan dan tidak ada pengganggu," ucap Agam seraya memeluk istrinya.


Arnette hanya diam saja tidak membalas yang membuat Agam bingung.


"Kenapa?" tanya Agam.


"Pikiranku sedang kacau jadi aku tidak berminat membuat anak," jawab Arnette.


"Kalau begitu berbagilah pikiran denganku," Agam menghendus leher dan membuat tanda di sana. Insting laki-laki Agam semakin bertambah dengan pesat, dia mulai mengerti daerah mana saja yang membuat Arnette menggelinjang.


Dan benar saja, Arnette mulai merespon dengan tangannya yang bergerilya membuka celana suaminya.


Ternyata pedang tumpul Agam sudah menegang.


"Tahanlah suaramu, istriku," pinta Agam. Dia takut suara mereka terdengar sampai ke luar.


Arnette bisa merasakan jika Agam begitu bersemangat melakukannya, bukan tanpa alasan pemuda itu memang sengaja membuat Arnette kelelahan.


Jadi, Arnette bisa diajak bicara setelah bercinta.


Setelah Agam menembak begitu banyak bibitnya, pemuda itu meminta Arnette untuk istirahat di dadanya.


"Bagaimana?" tanya Agam.


"Seperti biasanya, membuatku lemas," jawab Arnette.


Tangan perempuan itu mengelus dada Agam, dada itu memang tidak berotot seperti kesatria tapi rasanya begitu nyaman.

__ADS_1


"Apa kau meminta lagi?" tanya Agam.


"Tidak, hanya saja aku ingin seperti ini sebentar saja," jawab Arnette.


Agam meraih tangan Arnette dan mengecupnya. "Apa yang sedang kau pikirkan? Berbagilah denganku dan anggap aku suamimu, bukan partner ranjang seminggu!"


"Kau tidak akan pernah mengerti," balas Arnette.


"Maka dari itu buat aku jadi mengerti," ucap Agam dengan gigih. Dia harus membuat Arnette jadi luluh padanya.


Namun, tidak segampang itu.


Karena Arnette justru meninggalkan dirinya dan mandi sendirian.


Agam jadi mondar-mandir tidak jelas di teras rumah dan hal itu membuat Zester jadi ingin menggoda adik iparnya.


"Pengantin baru tapi kok galau," tegur Zester.


"Jangan menggangguku," Agam berusaha menjauh. Tapi, Zester menahannya.


"Mau ke mana? Coba cerita, gini-gini abang ganteng punya banyak pengalaman," ucap Zester.


Sepertinya tidak ada salahnya juga meminta saran pada kakak iparnya itu, walaupun Zester kadang suka gila tapi bisa diandalkan dalam segala hal.


"Aku ingin tahu apa tujuan istriku menikahiku," ungkap Agam.


Zester sebenarnya juga penasaran jadi kali ini dia akan membantu adik iparnya itu. "Kau bicara pada orang yang tepat, ayo kita cari tahu!"

__ADS_1


"Pertama-tama, kau harus bisa jadi suami yang panas!"


__ADS_2