
Walaupun bukan anak kandungnya, Maia membesarkan anak Tini seperti anaknya sendiri. Dia merasa bersalah karena menyebabkan Tini pergi sampai harus melahirkan sendirian.
Ternyata memang dugaannya salah, Pram subur justru Maia yang bermasalah.
Akan tetapi semua aibnya bisa tertutupi setelah kehadiran bayi laki-laki Tini.
"Mama..."
Maia mendengar putranya pulang dan langsung menyambut pemuda itu.
"Rey..." panggil Maia seraya memeluk pemuda yang badannya sudah tinggi dan besar.
"Ish," Rey melakukan protesnya tapi tidak juga menolak. "Aku sudah besar, apa kata orang yang melihatnya!"
"Bagiku kau adalah Rey kecilku," ucap Maia.
Tini yang melihat itu jadi menangis karena Maia memberikan kasih sayang yang tidak bisa dia berikan pada anaknya.
"Bagaimana dengan papa?" tanya Rey yang menanyakan keadaan Pram.
Sudah lama Pram terbaring tak berdaya dan selalu tanpa sadar menyebut nama Tini.
"Siapa sebenarnya Tini itu?" lanjut Rey dengan gusar.
__ADS_1
Rey merasa kalau nama itu yang membuat hati mamanya terluka karena Maia selalu tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Sudahlah, makan dan istirahat," ucap Maia mengalihkan pembicaraan.
Rey akhirnya menurut dan masuk ke dalam kamarnya dan Tini mengikuti anaknya itu masuk ke dalam kamar, dia ingin menyentuh sekali saja tapi tidak bisa seperti biasanya.
"Aku harus meminta bantuan Simon," gumam Tini yang setuju dengan usul Simon untuk memasukkan energinya ke tubuh orang lain.
Simon sudah menyiapkan tubuh seorang asisten rumah tangga yang biasanya membantu Maia mengurus Pram.
Setelah dirasa siap, Simon memasukkan energi Tini supaya tubuh itu bisa dikendalikan dengan emosi Tini sendiri.
Asisten rumah tangga itu pikirannya sedang kosong jadi mudah untuk dimasuki.
Dia segera masuk ke kamar di mana Pram terbaring lemah, walaupun dengan tubuh berbeda Tini ingin merawat suaminya untuk pertama dan terakhir kalinya.
Tini mengelap tubuh Pram dengan lembut dan Pram sendiri merasakan kali ini sangat berbeda dari biasanya.
"Tini..." Pram terus mengigau memanggil nama gadis itu. Dia sangat menyesal dan merasa bersalah karena tidak bisa menemukan Tini tepat waktu.
"Kenapa mas Pram menyiksa diri sendiri seperti ini? Seharusnya mas bertahan demi anak kita," ucap Tini yang tidak tahan lagi.
Pram merasa tercenung, dia jadi merasa delusi dan menganggap Tini menjemputnya.
__ADS_1
"Aku sudah lama menunggu sayang, aku ingin memohon maaf padamu," ucap Pram.
"Kenapa minta maaf? Ini keputusan yang sudah aku ambil sendiri dari awal, tolong jangan menyalahkan diri sendiri," balas Tini.
"Aku hanya ingin mengatakan, kalau aku benar-benar menyukaimu dan aku menitipkan anak kita sebagai wujud rasa cintaku. Jika memang kita tidak bersama, aku sangat bahagia sudah bisa melahirkan anak yang tampan seperti dirimu," lanjutnya.
Akhirnya Tini bisa mengungkapkan rasa cintanya yang selama ini terpendam.
Dan setelah mengatakan hal itu, Tini bisa terlepas dari tubuh yang dia tumpangi.
"Belum Tini, belum waktunya kau pergi," ucap Simon.
Tini merasa sudah cukup tapi Simon merasakan ada hal yang akan terjadi setelah ini.
"Kau harus menunggu suamimu di sini," tambah Simon.
Tidak perlu dijelaskan, Tini sudah mengerti.
Dan benar saja keadaan Pram semakin memburuk yang membuat Maia jadi panik.
"Rey... Rey..." teriak Maia memanggil putranya.
Pram berusaha meraih tangan Maia dengan sisa tenaganya. "Sudah waktunya Rey tahu tentang Tini, apa kau sudah siap, Maia?"
__ADS_1