
Agam tidak takut, dia benar-benar akan memberi perhitungan pada kaisar dan dua anak laki-lakinya.
"Kalian seharusnya senang karena aib kerajaan tidak akan ada lagi dan kalian tidak perlu takut tersaingi," ucap Agam yang kini tertuju pada William dan Bastian.
"Kalian bisa menyelamatkan kerajaan kalian dan menjadi kaisar selanjutnya," tambah Agam.
Kedua putra mahkota merasa marah karena mereka seperti direndahkan.
Sebelum terjadi sesuatu yang lebih gila lagi, Arnette buru-buru menyela supaya Agam berhenti menantang ayah dan kedua kakaknya.
"Saya undur diri dan akan memikirkan nanti karena ada hal yang jauh lebih penting, kami harus menyiapkan diri karena pasukan Aragon pasti akan segera kemari," ucap Arnette menyela.
"Dan saya mempunyai permintaan supaya para penduduk masuk ke dalam kastil," lanjutnya.
"Apa kau bercanda?" tanggap Bastian yang tidak setuju.
"Persediaan makanan mereka akan membawa sendiri, mereka hanya butuh tempat yang aman," ucap Arnette berusaha meyakinkan.
"Ini tidak masuk akal," timpal William.
__ADS_1
Keduanya menentang permintaan Arnette itu tapi siapa sangka kalau kaisar Erik akan setuju.
Anggap saja ini untuk menebus semua kesalahannya pada Arnette, kaisar Erik akan memenuhi permintaan putri tak dianggapnya itu.
"Perintahkan semua penduduk masuk dalam kastil dan tutup semua pintu! Kita harus membuat pertahanan!" perintah Kaisar Erik.
Agam tersenyum miring dan atensinya tertuju pada kedua putra mahkota yang dibuat mati kutu.
"Tugas kalian hanya melindungi penduduk dan rakyat kalian sendiri, kalian tidak perlu bersusah payah turun ke medan perang jadi lakukan dengan baik tugas mulia kalian itu," ucap Agam dengan nada menyindir yang kental.
"Sebaiknya kita pergi," Arnette buru-buru menarik tangan Agam untuk meninggalkan aula istana karena pemuda itu terus saja memprovokasi. Kalau begitu terus, Agam bisa-bisa masuk ke penjara bawah tanah karena menghina anggota keluarga kerajaan.
Saat mereka berjalan di koridor istana, Arnette menarik Agam masuk ke lorong tersembunyi.
"Aku memang sudah gila," balas Agam. Dia langsung meraih tengkuk istrinya itu dan menciumnya di sana.
Kali ini Arnette benar-benar terbuai, tindakan Agam sebelumnya bukan seperti tindakan pemuda yang masih duduk di bangku sekolah tapi seperti laki-laki sejati yang membela wanitanya.
"Ugh!" Arnette melenguh dalam ciuman karena Agam menaikkan satu kakinya dan membalik posisi mereka.
__ADS_1
Kini Arnette yang menempel dinding dan Agam perlahan menurunkan celananya.
"Aku merindukanmu, istriku," bisik Agam begitu menggoda.
Di lorong tersembunyi itu, Agam ingin melampiaskan kerinduannya.
"Bagaimana rasanya melahirkan?" tanya Agam seraya menaikkan gaun yang dipakai Arnette sampai ke paha.
"Jangan," Arnette ingin menolak. Tapi seperti yang sudah-sudah, sentuhan Agam memang susah untuk ditolak apalagi tubuhnya juga merespon dengan cepat.
"Kau sudah basah, istriku," ucap Agam yang tangannya bergerilya ke mana-mana.
Keduanya pun sudah diselimuti oleh gairah yang membara.
Ketika Agam akan memasukkan miliknya, dia mencium Arnette terlebih dahulu supaya suara mereka tidak terdengar.
Rasanya sungguh sempit walaupun sudah melahirkan Theor, Agam jadi tidak sabar untuk bergerak maju mundur.
Dan Arnette hanya bisa menggigit bahu Agam sambil menikmati gerakan yang Agam lakukan padanya.
__ADS_1
"Aku tidak mau hamil lagi," ucap Arnette mengingatkan Agam di tengah percintaan mereka.
"Kenapa? Bukankah kau suka membuat anak?" balas Agam semakin menambah kecepatannya.