The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 26 - Menolak Kunjungan


__ADS_3

Agam mencari tabungan pribadinya yang dia simpan di dalam celengan ayam. Pemuda itu tanpa ragu memecah celengan ayam itu karena ingin mengambil uang yang dia kumpulkan sendiri dengan susah payah.


Walaupun Agam punya banyak uang dari Arnette tapi dia ingin memakai uangnya sendiri.


"Aku harus membelikan sesuatu untuk istriku," gumam Agam seraya menghitung jumlah uang di celengannya.


Pemuda itu kemudian mengambil motornya dan melakukan perjalanan jauh ke luar kampung tanpa berpamitan.


Hal itu membuat semua anggota keluarga mencari apalagi nomor ponsel Agam tidak aktif.


"Sebenarnya ke mana anak itu," kesal Theo yang menunggu di depan rumah. Dia segera membuat pengumuman dan mengirimkan ke grup para kades.


Anak tampan pak kades Suka Maju hilang!


Sementara Arnette sendiri justru tampak santai ketika suaminya menghilang.


"Kau tidak mencemaskan suamimu?" tanya Megan yang melihat wajah Arnette tampak biasa saja.


Perempuan itu justru dengan santai menikmati beberapa kaleng minuman soda.


"Apa aku perlu cemas?" Arnette justru bertanya balik seperti itu karena dia merasa hubungannya dengan Agam hanya sebatas membuat anak. Dia memasang pembatas tinggi supaya tidak tergoda dengan anak pak kades itu.


"Dia juga butuh kesenangan, maksudku Mas Agam," lanjutnya berusaha sopan.

__ADS_1


"Walaupun begitu, sebagai istri kau seharusnya mencari suamimu," balas Megan.


Tentu saja Arnette merasa cemas tapi dia tidak menunjukkan hal itu.


Agam tidak kembali sampai larut malam dan Arnette menunggu suami kecilnya itu di atas atap rumah.


Saat melihat motor Agam, perempuan itu langsung turun begitu saja.


"Kau kemana saja? Semua orang mencarimu," tegur Arnette.


"Aku pergi membeli sesuatu," jawab Agam. Pemuda itu batuk-batuk karena kedinginan.


Tanpa pikir panjang, Arnette mengangkat tubuh Agam ke atas pundaknya seperti karung beras.


"Ayo masuk ke dalam!" Arnette berjalan masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan Zester yang mengambil minum di dapur.


Tak lama terdengar teriakan suara Agam di dalam sana.


Ampun, istriku... Ampun...


Refleks Zester memegangi ularnya karena merasa ngilu, dia tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan Arnette pada Agam.


"Aku tidak mau ikut campur dengan urusan mereka lagi," Zester merinding dan buru-buru masuk ke dalam kamar Ara.

__ADS_1


Di dalam kamar Ara tengah menidurkan Kaizen, anak itu susah tidur karena berganti suasana.


"Yank... Yank..." panggil Zester ketika masuk kamar.


"Jangan ribut, Kai baru saja tidur," ucap Ara seraya menyelimuti anak laki-lakinya.


"Ada apa?"


Zester mendekat dan langsung memeluk Ara karena merasa bersyukur mempunyai istri lemah lembut. "I love you!"


"Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Ara kebingungan.


"Bukankah aku sering mengungkapkan cinta?" Zester merasa hal itu sudah menjadi kebiasaannya.


"Tapi, hari ini rasanya berbeda," komentar Ara.


Zester mengusap perut istrinya yang besar lalu mengecupnya. "Sepertinya bayi kita merindukan daddy nya!"


"Ish, modus," Ara ingin menolak tapi Zester seperti biasa selalu menggodanya.


"Sebelum libur panjang, Yank," bujuk Zester.


Lelaki itu mulai menciumi Ara dan mengeluarkan ularnya yang siap tempur.

__ADS_1


Namun, di detik itu juga air ketuban Ara merembes.


"Zee, sepertinya bayinya menolak kau beri vitamin putih," ucap Ara mulai merasakan nyeri.


__ADS_2