
Kabar mengenai Theor yang bisa mengalahkan monster dengan kekuatan sucinya langsung terdengar oleh pasukan Aragon.
Mereka jadi dilanda kecemasan, Kane tidak bisa menenangkan mereka lagi karena banyak saksi yang melihat aksi dari Theor.
Panglima pasukan Aragon mencoba berbicara pada Kane karena pasukan mereka dilanda kecemasan.
"Katakan pada pasukanmu kalau tidak ada yang bisa menusuk jantung raja iblis kecuali anak itu lahir di bulan merah," ucap Kane.
"Kalau anak itu mempunyai stigma iblis justru akan menguntungkan kita!"
"Sekarang kita harus menyiapkan diri untuk menyerang pasukan Bavaria!"
Pasukan Aragon tidak akan menunda peperangan lebih lama lagi. Mereka begitu percaya diri karena raja iblis akan bangkit dan membantu mereka.
...***...
"Kerja bagus!" Agam melakukan high five bersama Theor.
Mereka tertawa bersama namun hanya berlangsung beberapa detik saja karena ada Arnette yang mengalihkan atensi mereka.
"Ibu, kita berhasil," ucap Theor kesenangan. Lalu dia menutup mulutnya, anak itu selalu saja lupa diri.
__ADS_1
"Maksudku Kapten!"
Arnette menggelengkan kepalanya, dia mengusap kepala anak itu. Dia tadi sangat cemas ketika Theor dibawa terbang oleh monster.
"Apa kau takut?" tanya Arnette kemudian.
"Tidak, aku tidak takut karena ada alat dari surga yang membantuku," jawab Theor.
Terserah saja Theor menyebutnya, yang jelas anak itu tidak takut untuk menghadapi musuh.
"Kalau begitu, kembalilah ke camp bersama yang lain," ucap Arnette meminta Theor kembali ke tempat aman.
Theor menurut dan pergi bersama anak buah Arnette, setelah kepergian mereka semua barulah Arnette berbicara empat mata dengan Agam.
"Kau sebenarnya membawa berapa?" balas Arnette. Walaupun nadanya terdengar protes, perempuan itu tetap mengambil minuman pemberian dari Agam.
Keduanya kini duduk di bawah pohon besar setelah memastikan keadaan penduduk sudah aman.
"Itu adalah minuman terakhir yang aku bawa," balas Agam.
"Kalau begitu, aku tidak akan membukanya sekarang," Arnette akan menyimpan minuman gelembung itu.
__ADS_1
"Dibuka sekarang saja, kalau kita kembali aku akan membelikanmu yang banyak, istriku," ucap Agam.
Arnette mendengus kasar karena Agam yang bebal, pemuda itu terus saja memanggilnya istri dan berharap dia kembali.
"Kalau kau berharap tinggi, kau akan sakit hati," ucap Arnette memberi peringatan.
"Aku tidak akan sakit hati karena aku malaikat dari surga," balas Agam bercanda.
"Tidak lucu," ketus Arnette.
Agam sudah terbiasa dengan sikap Arnette yang seperti itu jadi dia tidak mempermasalahkannya, pemuda itu justru mencoba menggenggam tangan Arnette di sana.
"Aku benar-benar serius jadi tolong pertimbangkan permintaanku sebelumnya," ucap Agam mencoba mengingatkan Arnette akan permintaannya untuk membawa perempuan itu kembali ke dunianya.
"Dan aku ingatkan, kalau aku wanita yang tidak tepat untukmu, kau berhak mendapat yang lebih baik," balas Arnette. Dia berkata seperti itu supaya Agam tidak terlalu berharap banyak padanya. "Kita sangat berbeda!"
"Justru yang berbeda itu yang menantang, kalau tidak mengenalmu, aku tidak mungkin sampai di sini bahkan aku sudah mempunyai anak," ucap Agam.
"Aku tidak menyesal, istriku. Justru aku ingin membesarkan Theor bersama," lanjutnya.
"Kau tidak mengerti," Arnette tetap berusaha menarik pagar pembatas di atas mereka.
__ADS_1
"Maka dari itu buat aku mengerti, aku akan melakukan apapun untukmu dan Theor," Agam tak kalah keras kepala. Dia tidak mau berpisah dengan anak dan istrinya.