
Karena ayah dan ibunya pergi membawa cucu-cucu mereka, Agam juga ingin membawa Arnette jalan-jalan.
Agam akan berkeliling menggunakan motor saja supaya bisa menghindari macet.
"Kita mau ke mana?" tanya Arnette.
"Tentu saja kencan," jawab Agam.
Awalnya Arnette pikir kalau Agam menerimanya karena ada Theor diantara mereka tapi pikiran itu semakin pupus, Agam benar-benar menunjukkan perhatiannya sebagai pasangan.
Banyak hal baru yang Arnette lihat, kadang tanpa sadar perempuan itu mengangakan mulutnya.
"Ayo jalan lagi!" Agam memasukkan lollipop ke dalam mulut Arnette yang menganga.
Lalu Agam menggandeng tangan Arnette untuk mencoba permainan yang pasti belum istrinya rasakan.
Dari mesin capit, memasukkan bola dan bom-bom car.
Arnette tampak payah memainkan hal seperti itu tapi kalau untuk permainan fisik seperti tinju dan panahan, dia bisa mendapatkan poin tinggi.
"Bagaimana?" tanya Arnette ketika mendapatkan banyak hadiah.
Agam mengacungkan jempolnya, dia mulai terbiasa dengan istrinya yang perkasa.
__ADS_1
"Ah, aku melupakan sesuatu," ucap Agam.
Bukankah mereka harus melakukan medical check up setelah berada di kota?
Apalagi masih ada Theo dan Megan, jadi mereka bisa membantu Agam.
"Maafkan aku karena terus merepotkan ayah dan ibu," ucap Agam pada kedua orang tuanya. Seharusnya dia harus bisa mandiri ketika sudah mempunyai anak dan istri.
"Semua di luar rencana tapi aku bersyukur ada Theor diantara kita, selama belum lulus kuliah kalian akan menjadi tanggung jawabku," balas Theo.
Ternyata opa gula selalu konsisten dengan perkataannya dan Agam merasa beruntung mempunyai orang tua pengertian.
Tugasnya sekarang adalah kuliah dengan baik.
Dan ketika medical check up dilakukan baik Agam, Arnette atau Theor, keadaan mereka baik-baik saja.
"Apa kau tidak merasa risih dengan bekas lukaku?" tanya Arnette pada suaminya.
"Kenapa harus risih, justru itu menambah kesan seksi, kalau mulus sudah biasa yang banyak luka baru namanya keren," balas Agam.
Arnette tergelak mendengar perkataan Agam itu, walaupun suaminya ingin dia melakukan operasi plastik, Arnette menolaknya karena bekas luka sebagai pengingat diri bagaimana dia bertahan hidup sebelum bertemu dengan Agam.
Dan Agam pun merasa tidak masalah karena dia benar-benar menyukai Arnette apa adanya.
__ADS_1
Selama tinggal di kota Arnette belajar banyak hal bahkan Theor sudah mulai sekolah dan Agam yang masuk ke kampus.
"Kalau ada apa-apa, tanya saja Ara," ucap Megan.
Hari ini perempuan itu harus kembali ke kampung.
"Baiklah, terima kasih, ibu," balas Arnette.
Sebenarnya Megan masih tidak tega meninggalkan cucu dan menantunya yang dari dunia lain itu. Tapi, mau bagaimana lagi, mereka juga harus belajar mandiri.
Siapa sangka hidup Arnette akan berubah seratus delapan puluh derajat, dari seorang panglima perang beralih menjadi ibu rumah tangga.
"Aku pasti bisa," ucap Arnette menyemangati dirinya sendiri.
Perempuan itu harus memasak sebelum suaminya pulang kuliah.
Arnette mulai mencincang bumbu dan memasak ayam. Ini masakan pertamanya tanpa dampingan dari Megan.
"Garam, gula, penyedap rasa," gumam Arnette mengingat bumbu yang harus dimasukkan.
Setelah ayam dirasa empuk, Arnette mencoba rasa dari masakannya dengan mencicipi kuah dari bumbu ayam. Perempuan itu mengambil sendok dan mulai menggunakan indera pengecapnya.
"Kurang uyah," ucap Arnette.
__ADS_1
_
Pasti ngikutin bahasa ayah mertuaš¤£