
Theor berlatih bersama para kesatria yang berada di camp dengan pedang kecilnya, pedang pemberian dari Arnette selama ini.
Anak itu sudah bisa menguasai gerakan dasar dan sedang berlatih tahap selanjutnya.
"Aku tidak pernah meragukan keyakinanmu, Kapten. Hanya saja anak itu..." salah satu anak buah Arnette mendatangi perempuan itu.
Arnette memang tengah berdiri mengamati anaknya dari kejauhan.
"Bahkan untuk membangkitkan raja iblis itu tidak mudah, kekuatannya pasti sangat besar dibandingkan..."
"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan," Arnette menyela. "Aku tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa perhitungan, kita sudah kalah jumlah dan kekuatan, hanya strategi dan Theor yang kita miliki!"
Perempuan itu mengeluarkan baru kristal sihir yang dia minta dari Ditrian.
"Saat Theor berhasil menusuk jantung iblis itu, dia harus pergi ke dunia ayahnya," batin Arnette.
Karena adanya paradoks waktu di setiap dimensi, akan ada inkursi atau tabrakan waktu yang membuat dimensi lain hancur, jadi penyintas waktu tidak bisa melakukan perjalanan waktu begitu saja!
Penjelasan Ditrian itu terus terngiang di kepala Arnette.
Mungkin untuk pertama, Arnette bisa berhasil tapi entah bagaimana selanjutnya jadi dia berharap Theor selamat dan bisa bertemu dengan Agam.
"Ibu..." panggil Theor. Anak itu langsung menutup mulutnya. "Maksudku, Kapten!"
Theor harus tahu diri, kalau dia tidak bisa memanggil Arnette sembarangan.
"Apa kau sudah lelah?" tanya Arnette seraya mendekat.
"Aku merasa kekuatan tanganku bertambah kuat," ungkap Theor.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu..." Arnette mengeluarkan pedangnya dan meminta Theor melawannya. "Tunjukkan padaku!"
Theor menelan ludahnya beberapa kali sambil memasang kuda-kuda melawan ibunya. "Akan aku tunjukkan, Kapten!"
Anak itu mulai menyerang dan Arnette dengan mudah menangkis semua serangan dari Theor.
"Tunjukkan semua kekuatanmu!" Arnette menyerang balik tanpa memperdulikan Theor yang sudah kewalahan.
"Kau harus berani dan kuat!"
Theor berusaha menangkis serangan dari Arnette dengan memundurkan badannya sampai dia terjatuh dan pedangnya terlepas dari tangannya.
Ujung pedang Arnette mengarah pada leher Theor.
"Kau masih lemah," komentar Arnette.
"Aku akan berusaha lebih keras lagi," ucap Theor seraya mengusap tangannya.
Kalau sudah begitu, Arnette akan luluh. Akhirnya perempuan itu membawa Theor ke sungai untuk membersihkan diri.
Di sungai itu hanya ada Arnette dan Theor.
"Ibu, aku main di sana," ucap Theor seraya berenang di sungai. Anak itu terlihat seperti anak yang normal sekarang.
Arnette hanya duduk di tepi sungai sambil membersihkan pedangnya. Tak lama dia juga membuka bajunya perlahan untuk mandi, sepertinya keadaan aman.
Namun, pikiran itu ternyata salah.
Karena beberapa menit kemudian, Arnette melihat ada monster yang terbang di atas sungai.
__ADS_1
"Theor!" teriak Arnette memanggil putranya.
Arnette berenang ke tepi untuk mengambil pedangnya. Tapi, monster itu terbang turun untuk mengambil Theor.
Sadar jika ada monster yang mendekat, Theor segera menyelam ke dalam air untuk menyembunyikan diri.
"Di mana ibu?" batin Theor.
Di atas sana, Arnette mencoba menangkis monster dengan pedangnya, dia tidak memakai baju zirah yang membuat monster terbang itu bisa melukai tubuhnya dengan mudah.
Kesempatan itu Arnette gunakan untuk menebas kaki monster.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup!" Arnette ingin menusuk mata monster itu tapi di detik itu juga ada sebuah benda yang jatuh dari atas dan mengenai tubuh monster itu.
Hanya hitungan detik saja, benda misterius yang jatuh dari atas meledak dan monster terbang langsung hancur.
"Apa itu?" tanya Arnette seraya mengadah ke atas.
_
Theor
Agam
Mirip ya ges?😅
__ADS_1