
Terdengar bunyi pedang dari Agam dan Arnette yang bertarung, walaupun dalam keadaan berdarah-darah Agam tetap bisa melawan istrinya sendiri.
Mungkin kalau dia sudah sadar baru bisa merasakan sakit karena lukanya.
"Seharusnya aku tidak melawan supaya tanganmu sendiri yang membunuhnya," ucap Agam yang tiba-tiba membuang pedang di tangannya. Dia akan membiarkan Arnette menyerang.
Arnette yang sudah mengayunkan pedangnya tapi berhenti karena melihat Agam yang pasrah untuk dibunuh.
"Kau ragu, Kapten!" Agam merasa kemenangan. Dia merasa berhasil memainkan emosi Arnette.
Dari tempat persembunyiannya, Theor melihat itu semua.
"Aku tidak mau paman malaikat mati," ucap anak itu dalam hati. Dia ingin membantu Agam atau Arnette.
Entahlah, anak itu masih bingung harus membela siapa.
Dengan pedang kecilnya, Theor akhirnya keluar dari tempat persembunyian dan mencoba menghentikan kedua orang yang masih bertarung itu.
"Aku tidak pernah ragu!" Arnette maju dan mencoba menyerang Agam lagi.
Namun, langkahnya terhenti karena Theor berlari ke arah mereka.
__ADS_1
"Ibu, jangan bunuh paman malaikat!" teriak Theor.
Pupil mata Arnette membesar karena Theor yang tidak menurut dan justru keluar dari tempat persembunyiannya.
"Theor, lari!" teriak Arnette.
Lagi-lagi Theor tidak mau mendengar perintah ibunya, anak itu justru berlari mendekati Agam.
"Kau akhirnya datang sendiri," ucap Agam seraya berjalan ke arah Theor yang berlari padanya.
Tangan Agam langsung mencengkram leher Theor sampai anak itu naik dari permukaan tanah.
"Paman malaikat, apa kau mendengarku?" Theor berusaha berbicara pada Agam yang jiwanya di belenggu raja iblis.
"Aku ingin bertanya sesuatu yang penting, apa sebenarnya paman malaikat adalah ayahku?" tanya Theor lagi.
Cengkraman Agam mulai melemah mendengar pertanyaan itu karena Agam sendiri berusaha melawan dari dalam.
"Awalnya aku pikir, paman malaikat adalah hantu tapi hantu akan meleleh di siang hari, bukan? Jadi, aku terus bertanya-tanya, kenapa wajah kita sangat mirip?"
"Jika memang benar paman malaikat adalah ayahku, aku akan sangat bahagia karena ayahku berasal dari surga!"
__ADS_1
Theor berkata dengan mata yang berkaca-kaca, dia ingin mengungkapkan hal yang terus membuatnya bingung.
Dan Arnette ikut tersentuh akan hal itu, darah memang tidak bisa berbohong. Mau sekuat apapun Arnette menyangkal pada akhirnya Theor sendiri merasa ikatan batin dengan ayahnya sendiri.
Jadi, Arnette tidak akan membiarkan Agam mati begitu saja.
Perempuan itu maju dan berusaha melepaskan Theor dari cengkraman Agam.
"Lari, biar ibu yang mengurusnya," ucap Arnette.
Theor batuk-batuk seraya memegang lehernya yang sakit.
"Aku tidak akan membunuhnya," lanjut Arnette berusaha meyakinkan Theor bahwa Agam tidak akan mati.
Karena percaya pada ibunya, Theor mengangguk paham. Dia berjalan menjauh dan hal itu memancing Agam untuk mengejar anak itu.
Namun, dari belakang Arnette berusaha mencegah. Perempuan itu memeluk Agam dari belakang dan melepaskan egonya sejenak.
"Aku tahu, kau masih ada di sana. Kau sudah mendengar apa kata Theor?" Arnette mencoba menyadarkan Agam supaya lepas dari kendali raja iblis.
"Anak itu adalah anakmu dan Theor menginginkanmu, bukan hanya Theor tapi aku juga," lanjut Arnette.
__ADS_1
Agam tentu saja mendengar yang Arnette katakan itu, dia berusaha sekuat tenaga melawan belenggu raja iblis. Tapi, semakin dia berusaha semakin sulit untuk melepaskan diri.
"Aku ingin ikut bersamamu setelah semua ini selesai jadi jangan mati!"