
Seperti sedang dimabuk cinta, Agam dan Arnette tidak kenal lelah, mereka bercinta di kamar mandi seraya berdiri di bawah pancuran shower.
Seharusnya tubuh mereka kedinginan tapi karena penyatuan tubuh itu justru tubuh keduanya panas.
"Jangan keluarkan di dalam," Arnette mencoba memberi peringatan.
Kalau dipikir-pikir memang benar mereka harus menunda mempunyai anak lagi, selain Agam yang belum lulus sekolah, Theor pasti membutuhkan perhatian lebih untuk beradaptasi.
Jadi, Agam akan mengeluarkan bibit kecubungnya di luar dan setelahnya akan melakukan kontrasepsi.
Puas bercinta di kamar mandi, Agam membiarkan Arnette beristirahat.
Akhirnya punggung mereka bisa merasakan empuknya kasur setelah beberapa insiden yang mereka alami bersama.
"Jangan pikirkan apapun dulu, aku ingin kita menikmati suasana tenang seperti ini," ucap Agam. Dia memiringkan badannya untuk menatap istrinya. "Tubuhku memang belum besar tapi aku rasa cukup hangat!"
Arnette tersenyum tipis, dia mendekatkan diri dan tenggelam dipelukan Agam. "Seperti ini sudah cukup!"
Keduanya pun memejamkan mata, mereka tenggelam dalam mimpi dan bisa tidur dengan nyenyak mulai sekarang.
Megan dan Theo membiarkan pasangan itu untuk benar-benar istirahat karena mereka tahu pasti sebelumnya mereka mengalami hari yang sulit.
"Jangan bangunkan Theor, aku mau ke balai desa lalu membeli baju untuk cucu kita," ucap Theo berpamitan sebelum pergi keesokan harinya.
__ADS_1
"Tidak perlu, Ara dalam perjalanan kemari dan membawa keperluan untuk Theor," balas Megan.
"Pasti sulit kemari sambil membawa anak kecil dan bayi," Theo jadi mencemaskan Kaizen dan Jennie walaupun putrinya pasti membawa baby sitter yang membantunya.
"Aku sudah melarangnya tapi Ara ingin melihat Theor," jelas Megan.
Mau bagaimana lagi, Theo harus melakukan tindakan cepat dan melakukan renovasi rumahnya karena anak dan cucunya akan berkumpul.
"Sepertinya memang aku harus memperluas rumah," ucap Theo yang berencana untuk membuatkan Agam rumah di samping tanah yang kosong.
Tanah kosong tempat pohon mangganya berada.
Di pohon itu Tini menangis karena Agam sudah tidak bisa melihatnya lagi. Tapi, kunti itu juga senang karena Agam benar-benar menunjukkan apa itu cinta sejati.
Tini menghentikan tangisannya, dia menatap Simon yang berada di bawah dan merasa ketakutan.
"Kita tidak punya urusan," ucap Tini mencoba mengusir.
"Aku juga tidak ingin punya urusan tapi aku ingin mengabulkan permintaan terakhir Agam," balas Simon.
"Permintaan Agam?" gumam Tini.
Simon menjelaskan tentang Agam yang ingin Tini tenang dan tidak gentayangan lagi.
__ADS_1
"Jadi, kau harus ikut bersamaku!" ajak Simon.
"Kau tidak akan memasukkan aku ke dalam botol, 'kan?" tanya Tini.
Sebelum mengikuti Simon, Tini terbang ke kamar Agam untuk melihat Theor, anak itu masih tertidur dan terbangun ketika Tini mendekat.
"Ibu..." Theor mengigau karena mengira jika Tini adalah Arnette.
Setelah mata anak itu terbuka, ternyata bukan Arnette yang Theor lihat.
"Kau siapa?" tanya Theor.
"Aku teman ayahmu," jawab Tini melayang ke arah anak itu.
Tini jadi mengingat Agam kecil yang pertama kali melihatnya dulu, sekarang pemuda yang suka mencotek ulangan itu sudah mempunyai anak.
"Orang tuamu sangat mencintaimu, kau anak yang beruntung," ucap Tini kemudian.
Theor tersenyum dan keluar dari kamar untuk mencari orang tuanya. Hari itu untuk pertama dan terakhir kalinya, Theor melihat Tini.
_
Ada yang mau cerita Tini sebelum meninggoy sampai dia gak gentayangan lagi?
__ADS_1
Kalo banyak yang mau, nanti othor buat bab spesial seperti Kaizen waktu itu jadi gak banyak bab, hehe