The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 40 - Paman Siapa?


__ADS_3

Arnette terkejut dengan kedatangan Agam yang secara tiba-tiba itu, otaknya masih mencerna apakah dia berkhayal atau memang nyata.


Namun, sentuhan bibir yang Arnette rasakan sekarang membuatnya begitu terbuai. Sudah lima tahun lebih dia tidak merasakan hal semacam itu lagi.


"Apa aku sekarang sedang berhalusinasi?" gumam Arnette dalam hatinya. Dia membalas ciuman Agam yang membuat mereka jadi perang lidah.


Rasa ciuman itu jadi begitu nyata, Arnette perlahan sadar kalau dia sedang tidak berhalusinasi.


Buru-buru perempuan itu melepas ciuman dan menjauhkan dirinya.


"Kau nyata?" Arnette meraih pedangnya untuk berjaga-jaga.


Agam ingin memeluk istrinya itu tapi atensinya beralih pada luka di lengan Arnette yang mengeluarkan darah. Pasti akibat dari serangan monster sebelumnya.


"Kita harus segera mengobatinya," ucap Agam yang panik.


Namun, Arnette justru menjauhkan dirinya, dia masih bingung karena Agam yang tiba-tiba datang.


Dia tidak memposisikan diri sebagai istri Agam atau ibu dari Theor tapi sebagai sang sword master yang harus melindungi wilayah dan pasukannya.


"Kau adalah ancaman bagi kami, cepat pergi!" usir Arnette.

__ADS_1


Agam tidak percaya kalau Arnette akan mengusirnya seperti itu. Dia ingin mencoba berbicara tapi lagi-lagi atensinya teralihkan oleh sosok anak yang tiba-tiba menggigit tangannya.


Anak itu muncul dari dalam air dan langsung menyerang Agam karena merasa laki-laki itu mengancam ibunya.


"Auw!" teriak Agam yang kesakitan. Dia ingin marah tapi ketika melihat anak yang sangat mirip dengannya, dia terpaku sejenak.


"Theor!" panggil Arnette supaya anaknya menjauhi Agam.


Theor segera berlari mendekati Arnette dan mereka pergi meninggalkan sungai begitu saja.


"A... apa itu anakku?" Agam memegang dadanya. Rasanya begitu sesak sekali. "Dia sangat mirip denganku?"


Simon yang mengamati interaksi keluarga kecil itu dari kejauhan, menggelengkan kepalanya. Dia pikir setelah ciuman mereka akan melakukan interaksi yang lebih gila lagi.


"Apa kau akan terus berdiri seperti orang bodoh?" tegur Simon. Dia berusaha membuat Agam sadar dan kembali fokus pada misi mereka.


Agam mencoba menguasai diri dan mengatur emosinya, dia harus memaklumi sikap Arnette yang waspada pada dirinya.


"Sekarang bagaimana?" tanya Agam kemudian.


"Biar aku yang berbicara pada Arnette," ucap Simon memberi solusi.

__ADS_1


...***...


Arnette kembali ke camp dan masuk ke dalam tenda pribadinya. Dia buru-buru mengobati lukanya dan berganti baju.


Jantungnya masih berdebar, dia berusaha menetralkan debaran itu karena masih tidak percaya kalau Agam akan masuk ke dunianya.


Artinya, Agam sudah tahu semuanya. Dan hal itu justru membahayakan keberadaan Theor.


Sementara Theor sendiri merasa bingung, anak itu termenung sendirian, dia tidak langsung datang menemui ibunya karena merasa ada sesuatu yang aneh.


"Kenapa wajah paman itu mirip denganku?" gumam Theor.


"Apa dia adalah ayahku?"


Theor lalu menggelengkan kepalanya. "Itu tidak mungkin, kalau dia benar ayahku kenapa ibu berusaha lari?"


Anak itu harus tahu siapa Agam, apa laki-laki itu ancaman atau justru sebaliknya?


Saat Theor akan berjalan menemui ibunya, dia merasa ada seseorang yang mendekat padanya. Dia langsung menoleh ke belakang dan mendapati Agam sudah berdiri tak jauh darinya.


"Jangan takut, aku tidak jahat," ucap Agam seraya berjongkok. Dia mengambil salah satu granatnya untuk dia berikan pada Theor. "Kau mau tahu benda yang bisa menghancurkan monster?"

__ADS_1


"Paman siapa?" tanya Theor.


"Aku adalah malaikat yang diusir dari surga," jawab Agam.


__ADS_2