
Arnette melihat foto pernikahannya yang lengkap dengan anggota keluarga pak kades, baru kali ini dia merasa mempunyai keluarga yang utuh.
Sudah sebulan semenjak acara ngunduh mantu pak kades, kini dia harus berangkat ke kota setelah pengumuman kelulusan sekolah suaminya.
Agam harus segera registrasi ke kampus dan mengurus dokumen penting lainnya.
"Kenapa melihatnya terus?" tegur Agam.
"Tidak apa-apa," balas Arnette. Dia segera membantu Agam untuk berkemas. "Kita akan tinggal di mana nanti?"
"Sebenarnya ada penthouse milik ibu di kota, dulu sebelum mbak Ara menikah juga tinggal di sana. Pokoknya tidak usah cemas dan berpikir untuk bekerja, tugasmu hanya mengantar dan menjemput Theor sekolah," jawab Agam.
Karena merasa khawatir, Theo dan Megan ikut mengantar keluarga kecil itu.
Di kota dan di kampung sangat jauh berbeda, pasti Arnette dan Theor akan bingung apalagi jika Agam sibuk untuk mengurus pendaftaran kuliah.
Sepanjang perjalanan, Theor terus melihat ke arah jendela dan merasa kagum dengan dunia ayahnya. Apalagi ketika dia mendapat kado sebuah ponsel untuk berkomunikasi.
"Aku menyukainya," gumam anak itu.
Theor ingin tahu banyak hal dan dia tidak tidur sepanjang perjalanan, otaknya terus merekam apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Ketika melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang, matanya tidak berkedip sama sekali.
"Bangunannya lebih tinggi daripada kastil istana," komentar Theor.
"Apa kita akan tinggal di kastil itu?"
Agam terkekeh pelan karena sikap polos Theor. "Itu namanya bukan kastil tapi bangunan gedung perusahaan, ada juga apartemen..."
"Nah itu..." Agam menunjuk gedung perusahaan Zester ketika melewatinya. "Gedung itu milik paman bule, daddy nya Kai dan Jennie!"
"Apa ayah juga mempunyai gedung seperti itu?" tanya Theor.
"Untuk sekarang belum, maka dari itu kita bisa merampok paman bulemu," jawab Agam.
"Daripada seperti itu, kau bisa magang di perusahaannya lalu minta gaji yang besar," ucap Theo memberi solusi.
"Aduh, itu sama saja," balas Megan.
Sementara Zester merasa telinganya gatal, dia jadi mengingat kedatangan mertuanya ke kota. Jadi, Zester mempercepat pekerjaannya hari ini karena ingin memberikan dokumen Arnette dan Theor yang sudah jadi.
"Apa mereka akan langsung menuju penthouse?" gumam Zester. Dia akan menghubunginya istrinya dahulu untuk bertanya.
__ADS_1
"Yank..." panggilnya di sambungan telepon. "Apa ayah mertua akan langsung ke penthouse?"
"Iya, aku sedang siap-siap ke sana. Kalau pekerjaanmu selesai, kau akan menyusul kami kan, Zee?" tanya Ara.
"Tentu saja, di mana Kai?" Zester jadi merindukan putranya karena tadi pagi ketika dia berangkat, anak gembul itu masih tidur.
Ara mengalihkan panggilan menjadi video lalu memberikan ponselnya pada Kaizen. "Daddy ingin bicara!"
"Hallo my boy," ucap Zester.
"Dalem daddy," jawab Kaizen. Kosa katanya mulai bertambah dan nada bicaranya sudah mulai jelas.
"Dalem?" batin Zester. Itu pasti bahasa yang diajarkan oleh ayah mertua. "Hei, Kai. We use english only!"
Kaizen menggelengkan kepalanya. "Ojo ngono!"
"Astaga, Yank..." Zester langsung melakukan protes pada istrinya.
Ara tertawa melihat interaksi suami dan anak pertamanya itu. "Akan aku matikan panggilannya, kami tunggu di penthouse, okay!"
"Tenang, tenang. Aku harus menenangkan jiwaku supaya awet muda," ucap Zester.
__ADS_1
_
“Dalem” sendiri berasal dari Bahasa Jawa Halus atau yang biasa disebut Kromo Inggil. Artinya adalah “saya”. Jadi kalau dipanggil orang tua, kemudian dijawab “dalem” maka itu sama saja menjawab dengan “saya”. Bahasa sendiri dapat dianggap sebagai simbol.